
Dathan dan Neta bersiap untuk ke pesta. Pesta malam ini adalah salah satu klien Dathan. Pembeli tetap di IZIO. Seorang anggota dewan.
“Sayang, jangan berdandan cantik-cantik.” Dathan memperingatkan sang istri yang sedang berdandan. Dia yang baru keluar kamar mandi segera mengambil kemeja dan celananya untuk dipakai.
Neta melihat sang suami dari pantulan cermin. Dia sedang ingin menggoda sang suami. Jadi sengaja dia memakai lipstik warna merah. Hal itu agar Dathan kesal.
Dathan sedang sibuk memakai kemeja dan celananya, tidak melihat sang istri sama sekali sedang memakai lipstik merah.
“Sayang, pakaikan dasinya.” Dathan berjalan sambil memasukkan kemeja ke dalam celananya. Tidak sama sekali melihat sang istri.
Neta segera berdiri. Menghampiri sang suami. Tepat di depan sang suami, dia meraih dasi yang dipegang suaminya itu. Kemudian melingkarkan ke leher sang suami. Sang suami yang masih tertunduk membuatnya menunggu.
Dathan yang selesai memasukkan kemejanya segera menegakkan tubuhnya. Menghadap sang istri yang sedang akan memakaikan dasi.
“Astaga.” Dathan memundurkan tubuhnya ketika melihat wajah sang istri. “Apa bayi kita sudah lahir dan kamu memakannya?” Dathan meraba perut Neta. Memastikan jika anak dalam kandungannya sang istri.
Neta langsung memukul sang suami ketika mendengar ucapan sang suami. “Mana ada ibu makan anaknya?” Dia sedikit kesal karena sang suami asal bicara.
“Ada, ibu kucing. Kalau anaknya lahir dan dia yakin tidak sehat, dia akan memakannya.” Dengan polosnya Dathan menjawab.
“Aku bukan kucing.” Neta menekuk bibirnya.
__ADS_1
“Lihat bibirmu semakin lebar.” Dathan tertawa. Bibir sang istri memang penuh lipstik, dan juga berantakan sekali. Ditambah warnanya merah sudah seperti darah. Jadi wajar jika dia mengira istrinya baru saja makan bayi.
Dathan segera mengambil tisu. Menghapus lipstik merah yang dipakai sang istri. Sungguh ini benar-benar mengemaskan sekali. Sang istri memakai lipstik sudah seperti badut.
“Kenapa pakai lipstik seperti itu?” Dathan yang mengusap bibir sang istri.
“Kata kamu jangan dandan cantik-cantik.” Neta menjawab alasannya.
“Iya, tapi tidak dengan membuat bibirmu merah seperti baru menelan bayi.” Dathan hanya bisa tertawa. Satu kecupan pun mendarat di pipi Neta. Gemas sekali dengan sang istri.
Neta hanya tersenyum mendapati kecupan dari sang suami.
Neta dan Dathan sampai di pesta. Mereka mengikuti segala rangkai acara. Beberapa orang mengenali Dathan ketika sedang menunggu acara. Neta sedari tadi menunggu acara selesai. Karena dia begitu ingin segera makan. Tadi dia melihat makanan berjajar, dan tiba-tiba perutnya lapar.
Rangkaian acara akhirnya selesai juga. Dathan mengajak Neta memberikan ucapan selamat pada pemilik acara. Tentu saja itu membuatnya harus kembali bersabar.
“Dathan.” Seseorang memanggil nama Dathan ketika baru saja turun dari pelaminan memberikan ucapan selamat.
Dathan mengalihkan pandangan pada sumber suara. Dilihatnya Bryan Adion di sana bersama dengan beberapa orang. Beberapa orang dia kenal, Regan Maxton, Felix Julian, dan Erix Maxton. Empat pria itu cukup terkenal di kalangan pebisnis. Ke mana-mana selalu bersama.
“Kita ke sana dulu.” Dathan mengajak Neta. Ketika mendapati anggukan sang istri, dia pun berjalan menghampiri Bryan dan yang lainnya. Dia menyalami satu per satu ketiga pria tersebut. Menyapa mereka semua.
__ADS_1
Neta yang di samping Dathan juga ikut menyalami mereka semua.
“Pengantin baru semakin bersinar wajahnya.” Bryan menggoda Dathan.
“Pak Bryan bisa saja.” Dathan tersenyum.
“Apa sudah ada Dathan junior?” Felix yang menatap Dathan begitu penasaran.
“Sudah. Kebetulan sudah dua bulan.” Dathan dengan bangga menceritakan.
“Periksa di mana?” Erix menatap Dathan dan Neta.
“Dengan dr. Lyra di Maxton Hospital.” Neta kali ini yang menjawab.
“Wah ... ternyata pasien Lyra.” Erix tersenyum. Ternyata sang istri yang menangani kehamilan istri Dathan.
“Lyra dan Shea ada di sana. Bergabunglah.” Bryan memberitahu Neta sambil menunjuk ke satu arah.
Neta mengalihkan pandangan. Dilihatnya Shea-istri Bryan Adion sedang bersama dokter kandungannya. Jadi dia pun merasa tidak salahnya bergabung.
Shea yang melihat Neta. Melambaikan tangannya. Meminta Neta untuk bergabung.
__ADS_1