
Sudah dua hari ini Arriel menjemput Loveta. Sudah dua hari ini juga Arriel setiap sore hingga Loveta tidur ada di rumah Dathan. Walaupun Arriel di rumah Dathan, tetapi dia tidak pernah mengobrol dengan pria itu. Setelah makan malam, Dathan langsung masuk ke kamarnya. Seolah menghindar dari Arriel. Sampai Arriel pulang pun Dathan tidak tampak.
Hari ini Dathan sengaja pulang lebih awal agar tidak terjebak macet. Maklum hari Jumat biasanya sangat macet. Kebetulan Neta ada tugas di luar kantor. Jadi dia tidak menjemput kekasihnya.
Saat sampai rumah tampak Arriel sedang bermain dengan anaknya.
“Papa, nanti mama mau menginap di sini.” Loveta dengan semangatnya menceritakan pada papanya yang baru saja pulang.
“Tadi aku berniat meminta izin, Than.” Arriel merasa tidak enak sama sekali ketika anaknya memberitahu lebih dulu.
“Menginaplah. Tidur saja di kamar Cinta. Dia pasti senang kamu tidur di sana.” Dathan langsung menjawab. Tidak mempermasalahkan niat Arriel yang ingin menginap. Lagi pula anaknya senang. Jadi tentu saja dia akan ikut senang.
Arriel merasa beruntung. Akhirnya dia dapat izin dari Dathan. Ada untungnya juga anaknya mengatakan hal itu. Jadi Neta tidak susah-susah mengatakan sendiri.
Dathan menghampiri Loveta. Membelai lembut wajah sang anak. “Papa ganti baju dulu.” Dia memberitahu anaknya.
“Iya, Pa.” Loveta mengangguk.
Dathan segera berlalu masuk ke kamarnya. Sambil masuk, tangannya bergerak melepaskan dasi yang melingkar di lehernya. Tadinya, dia berniat untuk mandi, tetapi sayangnya dia teringat untuk menghubungi Neta. Dia ingin tahu apakah kekasihnya itu sudah pulang atau belum. Dengan segera Dathan merogoh ponselnya. Menghubungi kekasihnya.
“Halo, Sayang.”
Suara Neta di seberang sana membuat Dathan merasa ketenangan. Hal itu membuat senyuman terbit di wajahnya.
“Apa kamu sudah pulang?” tanya Dathan.
“Baru saja aku sampai kos.” Neta di seberang sana menjelaskan.
“Aku juga baru sampai. Ini aku ingin mandi.” Dathan memberitahu rencananya.
“Baiklah, nanti kita sambung lagi.” Neta juga berniat untuk mandi. Dia pun memilih mengakhiri sambungan telepon.
__ADS_1
“Baiklah.” Dathan segera memastikan sambungan telepon. Dia segera melanjutkan niatnya mandi.
Sekitar lima belas menit, Dathan keluar dari kamar. Dia segera menuju ke ruang keluarga. Mengecek keberadaan anaknya. Namun, ternyata anaknya tidak ada di sana.
“Bi.” Dathan memanggil sang asisten rumah tangga.
“Iya, Pak.” Asisten rumah tangga datang menghampiri.
“Ke mana Cinta?” Dathan yang tidak menemukan anaknya memilih bertanya.
“Di lantai atas, Pak.” Asisten rumah tangga memberitahu di mana Loveta berada.
Dathan mengangguk mendapati jawaban dari asisten rumah tangga. Dia pun mengayunkan langkahnya ke lantai atas. Memastikan keberadaan anaknya.
Di lantai atas, Dathan melihat Arriel dan Loveta sedang berayun-ayun di kursi ayun sambil memandangi langit. Dathan tahu jika Arriel suka pemandangan langit pada sore hari dari balkon.
Tawa Loveta terlihat begitu jelas sekali. Baru kali ini Dathan melihat jelas jika Loveta bisa selepas itu tertawa ketika bersama mamanya.
“Papa.” Ketika Loveta memutar tubuhnya, dia melihat sang papa yang sedang berdiri di dalam.
Dathan yang melihat anaknya memanggil, tidak punya pilihan untuk pergi. Akhirnya, dia pun memilih untuk bergabung. Dia keluar ke balkon untuk menghampiri anaknya.
“Papa sini.” Loveta mengajak papanya bergabung.
Dathan pun segera bergabung. Duduk tepat di samping sang anak. Duduk di kursi ayun bersama. Tangannya membelai lembut rambut Loveta. Senyumnya menghiasi wajahnya. Merasa senang bisa bersama anaknya.
Arriel ikut tersenyum ketika melihat senyum Dathan. Senyum itu tidak berubah sama sekali. Dia merasa jika senyum itu begitu memesona.
“Lihat ada burung terbang.” Loveta menunjuk langit.
Dathan mengalihkan pandangan. Saat itu dia tidak sengaja beradu pandang dengan Arriel yang sedang tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Arriel sedikit salah tingkah ketika melihat jika Dathan menyadari jika dirinya memandanginya.
Dathan tampak tenang. Dia segera mengalihkan pandangan pada langit di mana anaknya tunjuk. Bersama anaknya dia menikmati langit sore itu.
Langit yang perlahan berubah gelap, akhirnya membuat Dathan mengajak anaknya untuk segera masuk. Loveta begitu senang saat papanya menggandeng tangannya. Dia pun menggandeng tangan mamanya. Hal itu membuat Arriel begitu senang. Berbanding terbalik dengan Arriel, Dathan biasa saja.
...****************...
“Lolo mau tidur ditemani mama dan papa.” Loveta menatap kedua orang tuanya bergantian. Dia benar-benar merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
“Boleh, tapi harus cepat tidur.” Dathan memberikan peringatan pada anaknya.
“Siap.” Loveta mengangguk.
Arriel tidak menyangka jika Dathan akan menemani Loveta tidur dengannya. Hal itu membuat jantungnya berdebar-debar.
Mereka semua masuk ke kamar. Loveta langsung naik ke atas tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya tepat di tengah-tengah. Memberikan ruang di kanan dan kiri untuk mama dan papanya.
Arriel berbelok ke arah rak buku. Mengambil buku untuk dibacakan-menemani Loveta yang akan tidur.
Dathan naik lebih dulu ke atas tempat tidur. Dia memiringkan tubuhnya sambil memeluk Loveta. Tangannya membelai lembut rambut sang anak. Menunggu Arriel yang sedang mengambil buku.
Arriel kembali dengan membawa bukunya. Dia segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Berada tepat di samping Loveta. Tanpa menunggu lama Arriel membacakan cerita.
Dathan yang mulai mendengar Arriel membaca cerita segera membelai lembut rambut sang anak. Biasanya anaknya akan cepat tidur jika dirinya melakukan hal itu.
Benar saja dugaan Dathan. Selang lima menit, anaknya sudah tidur. Dengkuran halus yang terdengar dari Loveta. Itu tandanya Loveta sudah pulas.
Tanpa berkata-kata, Dathan segera berangsur bangun. Dia berjalan keluar dari kamar Loveta.
Arriel yang melihat Dathan keluar dari kamar begitu saja, hanya bisa terperangah. Dia merasa Dathan bersikap dingin padanya.
__ADS_1
Arriel yang tak kuasa mendapati sikap Dathan yang dingin memilih untuk segera mengejar Dathan.
“Than.” Arriel memanggil Dathan sambil menarik tangan Dathan.