Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Semakin Tampan


__ADS_3

Perut Neta semakin besar. Dia sudah mulai mengurangi aktivitasnya. Tidak lagi menjemput sang anak sekolah. Loveta sekarang dijemput Dathan sendiri, atau terkadang Reno yang menjemput. Mengingat Arriel juga kini hamil, alhasil memang mereka para ibu tidak bisa menjemput.


“Jas yang aku minta untuk di setrika, apa sudah di setrika oleh bibi?” Dathan siang ini akan bertemu klien. Jadi tentu saja hal itu harus tampil rapi siang ini.


“Astaga, Sayang, aku lupa minta bibi setrika.” Neta baru ingat jika suaminya meminta bantuan kemarin. Jadi tentu saja itu membuatnya merasa bingung. “Biar aku saja yang setrika.” Neta merasa tidak enak sekali. Dia pun berangsur bangun dari tempat tidur.


“Sudah-sudah. Biar aku saja.” Dathan melarang sang istri. “Biar aju sendiri yang kerjakan.” Dathan menghentikan sang istri.


Neta pun kembali duduk di tempat tidur. Membiarkan sang suami menyetrika sendiri jas yang akan dipakainya. Neta terus memerhatikan sang suami yang sedang asyik menyetrika.


“Ternyata kamu itu suami serba bisa.” Neta tersenyum. Sang suami benar-benar keren sekali. Karena selalu bisa melakukan apa pun. Mulai dari masak, membersihkan rumah, merawat anak. Semua dikerjakan sang suami.


Dathan tersenyum. “ Iya, kamu benar. Aku bisa kerjakan semuanya. Jadi kamu tinggal minta saja, mau apa.”


“Jangan meminta aku mau apa. Mau aku banyak sekali.” Neta tersenyum. Sejak hamil memang ada saja yang diinginkannya.


“Aku akan lakukan semua untuk kamu.” Dathan tersenyum sambil menggerakkan tangannya yang menyetrika jasnya.

__ADS_1


Neta hanya diam menunggu sang suami


menyetrika. Suaminya makin hari semakin tampan sekali. Tentu saja itu membuatnya sedikit was-was.


“Aku mau merasa takut.”


Mendengar ucapan sang istri, Dathan menoleh. “Takut apa?”


“Takut kamu tergoda wanita lain.” Neta merasa suaminya sangat memesona. Jika sampai tergoda pria lain, tentu saja itu membuatnya merasa sedih. “Apalagi aku sedang hamil dan tampak jelek.” Neta menekuk bibirnya.


“Aku merasa saja.” Neta menekuk bibirnya.


“Aku yang melihat. Jadi aku yang merasakan kamu cantik atau tidak. Kamu justru semakin cantik saat hamil.” Dathan tersenyum tangannya membelai lembut wajah Neta.


“Benarkah?” Neta sudah seperti anak kecil yang dipuji.


“Tentu saja. Jadi kamu tidak perlu takut aku akan suka dengan wanita lain.” Dathan tersenyum sambil mendaratkan kecupan di dahi sang istri.

__ADS_1


Neta begitu tenang mendengar hal itu. Maklum ibu hamil terlalu sensitif.


Dathan kembali lagi melanjutkan merapikan jasnya. Jasnya sudah licin bak porselin. Jadi bisa dipakai.


“Aku akan ke panti minggu besok. Apa kamu mau menemani?” Neta mau menemani Bu Kania bertemu dengan orang tua Liam.


“Tentu saja.” Dathan tersenyum sambil mengangguk. “Apa Adriel juga ikut?” tanyanya memastikan. Karena anaknya minggu besok akan ikut mereka.


“Sepertinya tidak. Dia bilang akan ada makan malam keluarga. Jadi dia tidak bisa datang.” Neta menjelaskan pada suaminya. Sesuai dengan yang diceritakan oleh Bu Kania.


“Berarti Cinta akan ikut makan malam.” Dathan menebak.


Saat memikirkan Loveta, Neta memikirkan satu hal yang sejak kemarin dipikirkannya. “Apa jadinya jika Liam dibawa orang tuanya. Apa Cinta akan sedih?” tanya Neta.


Dathan tersenyum. “Kamu seperti sedang memikirkan sepasang kekasih yang mau berpisah saja. Anak-anak berteman silih berganti. Jadi wajar jika berteman dan berpisah. Seperti anak yang lulus sekolah dasar, dia berpisah dengan teman sekolahnya. Di sekolah baru bertemu teman baru lagi. Jadi itu adalah hal wajar. Jangan terlalu cemas.” Dathan mencoba menenangkan sang istri.


Neta mengembuskan napas. Dia berharap Loveta akan seperti yang diceritakan sang suami. Jadi paling tidak dia tidak akan sedih berpisah dengan Liam.

__ADS_1


__ADS_2