
“Kamu duduk saja. Biar bibi yang rapikan belanjaan.” Dathan mendorong tubuh sang istri dan memintanya untuk duduk manis. Dia sadar jika sekarang dia harus membuat istrinya lebih rileks. Tidak mau membebani apa-apa.
Neta hanya bisa mengikuti saja. Suaminya benar-benar berlebihan. Apalagi dirinya belum hamil besar dan masih bisa melakukan apa-apa.
“Cinta, jaga mami.” Dathan memberitahu Loveta.
“Siap, Papa.” Loveta memberikan hormat pada papanya.
Dathan segera ke dapur. Dia ingin membuatkan susu untuk Neta. Tak lupa mengupaskan buah untuk istrinya itu. Memastikan asupan nutrisi pada sang istri aman.
Dengan membawa susu dingin dan potongan buah di dalam piring, Dathan menghampiri Neta yang di ruang keluarga. Tampak istrinya itu sedang menemani anaknya menggambar.
“Ini untuk Cinta, ini untuk Mami.” Dathan meletakkan gelas berisi susu di atas meja.
“Papa, Lolo siang-siang tidak minum susu. Lolo minum susu pagi dan sore.” Loveta menggeleng. Dia menolak susu yang diberikan sang papa.
“Sayang, lagi pula ini sudah siang, kenapa minum susu.” Neta sendiri heran dengan suaminya. Siang-siang seperti ini, dia disuguhi dengan susu.
“Anggap saja ini gantinya tadi pagi.” Dathan mencoba membujuk istrinya.
Neta merasa kasihan karena sang suami sudah membuatkan susu untuknya. Karena itu, dia memilih untuk meminumnya.
“Tadi pagi Lolo sudah minum susu.”
Loveta yang mendengar sang papa meminta agar mengganti minum susu pagi pun memberikan alasan agar tidak minum susu.
“Kalau tadi sudah minum, sekarang minum lagi. Besok Papa akan ingat jika kamu minum susu setiap pagi dan malam saja.” Dathan mencoba membujuk sang anak.
__ADS_1
Loveta tidak ada pilihan ketika papanya meminta. Apalagi sang mami juga ikut minum. Jadi dia juga ikut minum juga.
Neta meminum susu ibu hamil yang diberikan oleh Dathan. Dia merasa jika rasanya tidak sama dengan susu pada umumnya. Entah kenapa dia merasa ada yang berbeda.
Loveta juga dengan cepat meminumnya. Apalagi sang papa membuatnya sedikit dingin. Walaupun tidak benar-benar dingin seperti diberikan es.
Neta dan Loveta yang selesai minum susu segera memberikan gelas pada Dathan. Meletakkannya di atas nampan yang diberikan oleh Dathan.
“Sekarang makan buahnya.” Dathan menatap Neta, kemudian beralih pada Loveta. “Cinta juga makan.” Dathan segera berbalik untuk meletakkan nampan berisi gelas.
Neta dan Loveta saling pandang. Mereka menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Dathan. Menikmati buah yang sudah dikupas oleh Dathan.
“Papa baik sekali hari ini.” Loveta sambil makan mengomentari apa yang dilakukan sang papa. Bocah kecil itu merasa yang dilakukan papanya tidak seperti biasanya.
Neta hanya tersenyum saja. Ternyata dia merasa jika anaknya menyadari akan hal itu. Itu terdengar sangat lucu memang. Dia memilih untuk diam saja. Menikmati buah dari pada menanggapi sang anak.
“Mami, kembar itu apa?” Tadi Loveta mendengar pembicaraan dokter, tetapi dia tidak mengerti
“Jadi adik Lolo dua?” Loveta begitu antusias sekali.
“Belum, Cinta. Nanti bulan depan kita periksa lagi. Baru kita akan lihat apakah benar adik Lolo kembar atau tidak.” Neta dengan lemah lembut memberitahu sang anak.
Loveta mengangguk-anggukkan kepalanya. Walaupun sebenarnya dia tidak paham- betul apa yang dikatakan sang mami.
Mereka bertiga menikmati makan buah. Sambil menonton siaran televisi. Sambil bercerita banyak hal. Terutama anak yang berada di kandungan Neta. Loveta tak henti-hentinya bertanya banyak hal. Dia ingin tahu banyak hal.
__ADS_1
...****************...
“Nanti kalau adik kecil nakal, Lolo boleh sentil, Papa?” Loveta menatap sang papa. Dathan dan Neta sama-sama menemani Loveta untuk tidur.
“Apa Papa pernah sentil Cinta?” Dathan balik bertanya.
“Tidak.” Loveta menggeleng.
“Jadi Cinta juga tidak boleh melakukan itu. Beritahu adiknya baik-baik.” Dathan memberikan pengertian pada anaknya.
“Iya, Pa.” Loveta mengangguk.
Neta tersenyum ketika mendengar obrolan itu. Dia yakin kelak Loveta akan menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya.
Akhirnya Loveta tidur juga. Neta dan Dathan segera ke kamarnya untuk segera beristirahat. Dathan meminta Neta untuk lebih dulu ke sana, karena dia ingin membuatkan susu untuk Neta terlebih dahulu.
Neta memilih untuk duduk di atas tempat tidur, bersandar pada headboard tempat tidur. Menunggu Dathan sambil membaca majalah keluaran terbaru dari Syailen Bisnis.
Sesaat kemudian Dathan datang. Dia membawa segelas susu di tangan. Sambil tersenyum ke arah Neta.
“Sepertinya aku belum terbiasa minum susu ini.” Neta merasa susu ibu hamil masih aneh di lidahnya.
“Nanti kamu akan terbiasa.” Dathan memberikan gelas berisi susu.Neta dengan segera meminumnya. Dia harus mulai membiasakan diri. Karena memang itu harus dilakukannya demi sang anak di dalam kandungannya. Setelah selesai, dia memberikan pada Dathan.
Dathan pun meletakaknya di atas meja. Kemudian menyusul sang istri untuk duduk di kursi yang berada di sebelahnya.
“Sayang, akhir pekan ini aku mau ke panti asuhan. Apa kamu mau mengantarkan?” Neta meminta izin terlebih dahulu pada sang suami.
__ADS_1
“Aku akan mengantarkamu.” Dathan tersenyum. “Sekalian, kita bawakan mereka semua sesuatu. Anggap saja rasa syukur kita atas hadirnya anak kita.” Dathan berharap dengan banyak doa, itu bisa membuat istri dan anaknya dalam lindungan Tuhan selama kehamilan.
Neta mengangguk setuju. Dia merasa tidak ada salahnya berbagi kebahagiaan bersama anak-anak panti. Lagi pula, ini adalah rejeki yang tak terduga. Jadi dia ingin semua merasakan kebahagiaan juga.