
Pagi ini Neta terus muntah. Beberapa kali dia bolak-balik kamar mandi. Tubuhnya benar-benar lemas dan tidak bertenaga. Dathan yang melihat hal itu pun memilih untuk mengurus Loveta sendiri. Membiarkan sang istri untuk beristirahat.
“Mami ke mana, Pa?” tanya Loveta. Gadis kecil itu sedang duduk manis menunggu sang papa yang sedang mengikat rambutnya.
“Mami sedang sakit. Jadi istirahat.” Dathan memberitahu sang anak dengan lembut.
“Sakit apa?” Anak-anak memang selalu saja ingin tahu. Jadi wajar saja dia terus bertanya.
“Adik bayi di dalam perut mami sedang tumbuh, jadi perut mami sedang menyesuaikan. Jadi akhirnya mami masih mual-mual.” Dathan memberikan pengertian. “Tapi, nanti jika adik bayi sudah tumbuh dengan baik, nanti mami sudah tidak mual lagi.” Dathan kembali menambahkan penjelasannya.
“Nanti Lolo mau ke kamar mami. Lolo mau bilang adik bayi agar tidak buat mami sakit.” Loveta tidak tega melihat sang mami sakit. Dia ingin membuat maminya tidak sakit lagi.
“Pergilah.” Dathan yang selesai mengikat rambut Loveta, mengizinkan Loveta untuk pergi.
Dengan segera Loveta pergi ke kamar mami dan papanya. Dia ingin melihat sang mama. Saat membuka pintu, tampak sang mami sedang duduk bersandar menikmati teh herbal yang dibuat oleh Dathan sebelum ke kamar Loveta.
“Mami.” Loveta berlari dan segera naik ke atas tempat tidur.
Saat Loveta menghampiri, Neta segera meletakkan cangkir berisi minuman di atas meja. Kemudian beralih pada anaknya yang sedang berlari ke arahnya. Sebuah pelukan diberikan oleh anaknya. Membuat Neta begitu senang sekali. “Anak Mami sudah siap?” Neta membelai lembut rambut Loveta.
“Sudah, Papa yang siapkan Lolo.” Loveta menjauhkan tubuhnya dari pelukan sang mami dan menatap sang mami.
Neta pun mendaratkan kecupan manis di dahi sang anak. Merasa bangga anaknya manis dan mau mendengar sang papa.
__ADS_1
“Lolo ke sini mau bicara dengan adik bayi.” Loveta menyampaikan keinginannya.
“Cinta mau bilang apa?” Neta pun bertanya sambil membelai lembut rambut sang anak.
Loveta langsung berangsur turun ke perut sang mami. Tangannya membelai lembut perut sang mami.
“Adik, di perut mami jangan nakal. Jangan buat mami sakit. Nanti kalau adik pintar, kakak akan bagi permen.” Dengan polosnya Loveta menasihati adiknya. Namun, tetap saja dengan versi dia.
“Iya, Kakak.” Neta menjawab dengan suara anak-anak.
Loveta langsung mengalihkan pandangan pada sang mami. Senyumnya menghiasi wajahnya ketika mendengar suara sang mami. Dathan yang melihat dari kejauhan, merasa lucu melihat interaksi anaknya dengan perut sang mami.
“Cinta, ayo sarapan dulu.” Dathan memanggil anaknya. Agar bisa segera berangkat ke sekolah.
Loveta menatap sang mami. “Lolo sarapan dulu.” Dia berpamitan dengan sang mami. Dengan segera dia keluar dari kamar dan menuju meja makan.
“Apa masih mual?” tanya Dathan.
“Masih.” Neta mengangguk.
“Mau aku ambilkan makan atau kamu mau makan sesuatu?” Dathan menatap sang istri. Dia tidak akan membiarkan sang istri tidak makan.
Neta sendiri merasa masih mual. Jadi dia bingung mau makan apa.
__ADS_1
“Kamu harus tetap makan. Jangan sampai anak kita kekurangan nutrisi.” Dathan mencoba membujuk.
“Iya, aku tahu.” Neta mengangguk.
“Aku mau makan buah saja dulu dan segelas susu. Nanti jika aku sudah lebih baik, aku akan makan, makanan berat.” Neta tetap akan berusaha untuk makan. Namun, memang tidak bisa dipaksakan.
“Baiklah, aku akan bawakan.” Dathan segera keluar dari kamar dan mengambilkan buah dan susu. Kemudian memberikan pada sang istri.
Dathan menemani anaknya untuk sarapan. Kemudian mengantarkannya ke sekolah. Kali ini, Neta hanya diminta diam saja di rumah. Karena Dathan takut jika beraktivitas di luar sang istri justru pingsan.
Dathan mengantarkan Loveta ke sekolah terlebih dahulu sebelumnya, Namun, belum sampai mobilnya di kantor, tiba-tiba suara ponsel terdengar. Dathan memilih menepikan mobilnya. Mengecek siapa yang menghubunginya. Ternyata sang istrilah yang menghubunginya.
“Sayang.” Suara Neta terdengar dari seberang sana.
“Ada apa?” Dathan begitu panik sekali. Jarang-jarang istrinya tiba-tiba telepon seperti ini di saat perjalanan.
“Aku mau makan bubur seafood yang berada di dekat kantor.” Tiba-tiba Neta menginginkan makanan yang ingin dimakannya. Dia membayangkan pasti enak sekali makan di sana.
“Kantor Syailen?” tanya Dathan memastikan.
“Iya.” Neta membenarkan.
“Baiklah, aku akan ke sana untuk membelikan.” Dathan tidak mau sampai keinginan sang istri tertunda.
__ADS_1
“Baiklah, aku tunggu.” Neta terdengar begitu senang.
Dathan segera mematikan sambungan telepon. Menuju ke kantor Neta untuk membeli bubur yang diinginkan sang istri. Memilih untuk menunda datang ke kantor. Fokus pada istrinya terlebih dahulu.