Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Menghubungi Loveta


__ADS_3

“Halo, Riel, maaf apa kamu bisa antarkan Cinta pulang besok.” Neta menghubungi Arriel.


“Ada apa, Ta, apa ada masalah?” Arriel di seberang sana merasa heran. Kenapa tiba-tiba Neta meminta anaknya untuk pulang.


“Liam akan dibawa mamanya. Jadi aku mau Cinta bertemu. Takut dia bersedih jika tiba-tiba Liam pergi tanpa bertemu dengan Cinta.” Tadi Neta sudah berdiskusi dengan suaminya. Dia memutuskan untuk mempertemukan Loveta dengan Liam. Neta takut Loveta akan kecewa saat tidak bertemu dengan Liam untuk terakhir kali.


“Apa Liam jadi pergi dengan ibunya?” Adriel yang kebetulan mendengarkan pembicaraan itu pun ikut berkomentar.


“Iya, Kak. Kami sudah pastikan jika memang yang datang adalah mama Liam. Bu Kania juga sudah mengatakan jika Liam menerima untuk ikut mamanya.” Tadi Bu Kania sudah mengatakan jika Liam sudah setuju untuk ikut mamanya. Bu Kania juga sudah mengatakan jika mama Liam besok akan datang menjemput.


“Baiklah, karena aku juga ingin ke sana. Sebaiknya kita bertemu besok di panti asuhan langsung.” Adriel berpikir untuk turut hadir juga. Dia juga ingin melepaskan kepergian Liam uang akan ikut mamanya.


“Baiklah, kalau begitu, kita bertemu di sana besok.” Neta justru bersyukur jika Adriel juga hadir. Pasti Liam senang orang-orang yang disayangnya bisa hadir.

__ADS_1


Akhirnya Neta mematikan sambungan telepon. Kemudian meletakkan ponsel di atas nakas.


“Adriel justru akan ke sana. Jadi Cinta akan langsung dibawa ke sana.” Neta menceritakan pada suaminya tentang percakapannya dengan Adriel.


“Baiklah, yang penting Cinta datang.” Dathan mengembuskan napasnya. Merasa lega karena masalah anaknya yang akan bertemu dengan Liam terpecahkan. Dia sudah bisa menebak. Jika Loveta akan menangis dan mengamuk ketika tahu Liam pergi, dan tidak sempat menyampaikan perpisahan.


“Apa reaksi Cinta jika tahu Liam akan pergi?” tanya Neta pada sang suami.


“Iya.” Neta mengangguk. “Tapi, aku masih tidak bisa bayangkan bagaimana seorang suami bisa menelantarkan anak dan istrinya ketika mendapatkan wanita lain.” Neta teringat dengan apa yang diceritakan oleh mama Liam.


“Sebenarnya di luar sana banyak sekali orang-orang seperti itu. Hanya saja kita tidak tahu. Itu hanya sekelumit cerita.” Dathan yakin di luar sana ada banyak yang sama dengan mama Liam.


“Aku jadi takut.” Tiba-tiba Neta bergidik ngeri membayangkan banyak pria yang seperti itu.

__ADS_1


“Apa kamu berpikir aku seperti itu?” Melihat wajah ketakutan dalam diri sang istri.


Neta hanya tersenyum polos saja.


“Dengar sampai kapan pun, aku tidak akan melakukannya. Apalagi anakku perempuan. Tentu saja aku takut nanti anakku akan diperlakukan seperti itu.” Dathan lebih takut akan hal itu. “Lagi pula, aku mencintaimu. Untuk apa aku tergoda wanita lain.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang istri.


Neta sebenarnya percaya. Hanya senang saja menggoda Dathan. “Aku percaya,” ucapnya agar suaminya tenang.


Mereka berdua sudah tahu sifat masing-masing. Jadi tentu saja itu akan menguatkan cinta mereka. Mereka sudah percaya satu dengan yang lain. Jadi tak perlu ada yang diragukan.


“Ayo tidur. Aku akan memijatmu.” Dathan segera beralij beralih memijat kaki Neta.


Neta tersenyum. Suaminya memang selalu senang selama kehamilan. Karena Dathan selalu memanjakannya.

__ADS_1


__ADS_2