
Pesta masih berlangsung. Mereka semua menikmati hidangan yang disajikan. Anak-anak makan dengan lahap. Mereka adalah anak-anak yang pintar. Terbiasa teratur dan diajari dengan baik, anak-anak panti begitu rapi sekali. Tidak ada yang berulah dan begitu sopannya saat di pesta.
Loveta yang begitu menempel pada Liam ikut bergabung dan menikmati makan bersama dengan anak-anak panti. Dia duduk di samping Liam. Membuatnya begitu senang sekali.
Arriel yang menunggui anaknya pun memilih untuk duduk tak jauh dari meja sang anak. Memantau sang anak agar dia tidak lepas dari pegawasannya.
“Sepertinya kamu trauma Lolo akan kabur lagi.” Suara pria terdengar ketika Arriel sibuk sedang memandangi anaknya.
Arriel mengalihkan pandangannya pada suara yang terdengar. Dilihatnya ada Adriel di sana. Pria tampan itu duduk tepat di meja yang sama dengannya. Karena Adriel duduk tepat di depannya, dia dapat melihat wajah Adriel dari dekat.
“Kata orang tidak ada orang yang jatuh di lubang yang sama. Jadi aku tidak mau melakukan kesalahan lagi dengan tidak mengawasi dengan benar Lolo.” Arriel menjawab sambil menatap Adriel.
Adriel tersenyum tipis. “Terkadang anak-anak perlu belajar dari kesalahannya juga. Pasti Lolo akan jadi lebih pintar.” Dia memberitahu Arriel.
“Kamu tahu banyak tentang anak-anak.” Arriel merasa Adriel begitu paham sekali dengan anak-anak. Sejak tadi acara dimulai, dia sudah memerhatikan Adriel. Dia tampak begitu sabar memberitahu anak-anak. Terlebih lagi yang membuat kagum adalah anak-anak begitu menurut sekali pada Adriel.
“Aku tinggal di panti sejak kecil. Karena aku kakak tertua, jadi aku harus memahami semuanya. Dari situ aku belajar banyak. Saat dewasa, aku takut menangani mereka.” Adriel adalah anak pertama yang diangkat Bu Kania. Sejak mengangkat Adriel, akhirnya Bu Kania memutuskan untuk mengangkat anak-anak lain, termasuk Maria dan Neta. Seperti yang dijelaskan pada Arriel. Sejak kecil dia memang selalu paham mau adik-adiknya. Dia akan jadi penengah, jadi penenang, dan jadi tumpuan adik-adiknya berkeluh kesah. Jadi dia belajar banyak cara mengatasi satu per satu adik-adiknya.
Arriel cukup terpukau dengan Adriel. Dia merasa jika Adriel pria yang begitu penyayang. Hampiri mirip dengan Dathan. Seketika Arriel menyingkirkan pikirannya tentang Dathan. Kini pria itu milik orang lain. Jadi tentu saja dia tidak boleh melakukannya.
“Mama-Mama.” Loveta tiba-tiba menghampiri sang mama.
“Iya, Sayang?” Arriel menatap anaknya.
“Nanti Lolo selama libur tinggal di rumah mama. Nanti libur apa Kak Liam boleh main?” Bola mata kecil milik Loveta menatap penuh harap.
Arriel bingung mendengar permintaan anaknya. Namun, dia tahu anak-anak memang selalu punya permintaan aneh mereka.
“Sayang, Tidak ada yang mengantar Kak Liam ke rumah.” Dia mencoba menjelaskan pada anaknya.
Loveta seketika kecewa. Dia menekuk bibirnya karena kesal. Merasa sedih karena tidak bisa mengajak Liam ke rumahnya. Saat merasa sedih, dia melihat Adriel di depan sang mama. Seketika ide muncul.
__ADS_1
“Uncle Adriel bisa antar Kak Liam ke rumah mama?” Tanpa berbasa-basi Loveta meminta tolong pada Adriel.
Arriel membulatkan matanya. Sungguh permintaan sang anak itu membuatnya tercengang. Benar-benar di luar dugaannya.
“Sayang, tidak boleh seperti itu.” Arriel langsung menegur anaknya.
Loveta mengalihkan pandangan ketika mamanya berbicara. Dia langsung diam ketika mamanya melarangnya.
“Lolo mau Kak Liam ke rumah?” Adriel menanyakan pada Loveta. Memastikan apa yang diminta gadis kecil itu.
“Iya, apa Uncle bisa?” Loveta mengabaikan sang mama dan mengalihkan pandangan pada Adriel kembali.
“Bisa, nanti Uncle akan bawa Kak Liam ke rumah mama.” Adriel tidak tega melihat Loveta. Dia melihat Loveta suka sekali bermain dengan Liam. Tentu saja dia ingin membuat gadis kecil itu senang.
“Benarkah?” Loveta berbinar. Senang mendapati jawaban dari Adriel.
“Iya.” Adriel mengangguk.
Arriel yang melihat anaknya senang, tidak bisa berkata apa-apa. Dunia anak memang bermain. Ketika mereka mendapatkan orang yang tepat untuk bermain, tentu saja itu membuat mereka begitu antusias sekali. Namun, sejenak Arriel mengalihkan pandangan pada Adriel. Dia merasa tidak enak dengan pria itu karena harus memenuhi keinginan anaknya itu.
“Maaf merepotkan.” Arriel menatap Adriel.
“Tidak masalah. Kebetulan minggu depan aku kosong.” Adriel tersenyum. Kalau anak-anak meminta sesuatu padanya, tentu saja hal itu membuatnya tidak bisa menolak. Apalagi Loveta sedang ditinggal sang papa berbulan madu.
Arriel pun tersenyum. Dia merasa senang ada orang-orang baik seperti Adriel.
Acara pesta akhirnya selesai juga. Satu per satu tamu undangan pulang. Adriel dan ibu panti berpamitan lebih dulu pada Dathan dan Neta karena ingin membawa anak-anak. Arriel juga berpamitan ke kamar karena Loveta harus tidur. Kini tinggal Dathan dan Neta yang menunggu beberapa tamu yang belum pulang.
Selang beberapa menit, akhirnya tamu undangan pulang semua. Dathan dan Neta pun segera menuju ke kamarnya. Mereka ingin beristirahat setelah seharian mereka sibuk dengan acara pernikahan mereka.
“Sini aku bantu.” Dathan membantu Neta mengangkat gaun panjang yang dipakai sang istri.
__ADS_1
“Boleh.” Neta pun membiarkan pria yang kini jadi suaminya itu untuk membawanya. Dengan begitu dia lebih mudah untuk berjalan.
Mereka berdua menuju ke kamar hotel. Dathan terus membantu Neta menarik gaunnya. Mereka berdua begitu senang sekali. Karena akhirnya acara pernikahan mereka selesai juga.
“Setelah ini kita ganti baju dan segera ke bandara.” Saat berjalan ke kamar, Dathan memberitahu sang istri.
“Kita mau ke mana?” Neta dari kemarin memang belum tahu akan ke mana. Jadi dia begitu penasaran sekali.
“Nanti kamu akan tahu.” Dathan mengedipkan matanya. Menggoda sang istri.
Neta benar-benar penasaran sekali. Ke mana gerangan Dathan akan membawanya.
Mereka berdua masuk ke kamar. Karena dia tidak memesan paket honeymoon tampilan kamar hanya biasa saja. Tentu saja itu tidak masalah bagi mereka. Mengingat mereka hanya akan mengganti baju saja.
“Sayang, bisakah kamu bukakan gaunku?” Neta berbalik membelakangi sang suami. Dia kesulitan untuk membuka gaun. Tentu saja dia butuh bantuan.
Dengan senang hati Dathan membantu sang istri. Menurunkan ritsleting gaun yang dipakai oleh Neta. Saat ritsleting terbuka, tampak sekali kulut mulus milik Neta. Hal itu membuat Dathan seketika bergairah. Namun, tampaknya dia harus bersabar. Mengingat mereka harus pergi.
“Kamu ganti baju di sini. Aku akan ganti di kamar mandi.”
“Kenapa ke kamar mandi?” Neta berbalik dengan wajahnya yang menggoda.
Dathan mengembuskan napasnya. “Jangan menatapku menggoda seperti itu, karena kita tidak akan jadi pergi, dan malam pertama kita hanya akan cukup di hotel ini.”
Neta tersenyum. “Aku mau sesuatu yang berkesan. Agar aku ingat. Jadi aku tidak mau di hotel ini saja.”
“Kalau begitu biarkan aku mengganti baju ke kamar mandi. Agar tidak tergoda dengan tubuhmu.”
“Baiklah.”
Mereka berdua segera berganti baju. Neta berganti di kamar, sedangkan Dathan di kamar mandi. Mereka sedang terburu-buru untuk mengejar penerbangan jam satu malam, terpaksa mereka buru-buru untuk mengganti pakaian. Dathan meminta Reno untuk mengurus semua barang-barang termasuk gaun pesta milik Neta yang baru saja dipakai. Karena mereka langsung meninggalkan hotel setelah mereka selesai bersiap.
__ADS_1