
Hari ini Dathan sengaja mengundang teman-teman Neta untuk makan malam sepulang bekerja. Karena acara pernikahan kemarin teman-teman Neta tidak datang, kali ini sengaja Dathan mengadakan pesta tersebut agar teman-teman Neta bisa secara langsung mengucapkan selamat pada Neta.
“Astaga, Neta beruntung sekali. Lihatlah, Dathan Fabrizio begitu tampan sekali.” Salah seorang teman begitu berbinar ketika melihat Dathan.
“Jangan iri. Rejeki Neta itu.” Maria menimpali ucapan tersebut.
“Aku tidak iri. Justru kini bersemangat. Jika aku bisa jadi Cinderella seperti Neta.”
Maria hanya tersenyum. Merasa lucu dengan teman-temannya yang sedang mengagumi suami orang. Mungkin mereka berharap bisa mendapatkan pria seperti Dathan.
Dathan sedang mengobrol dengan Adriel dan juga Reno. Mereka masih menceritakan tentang dampak majalah yang rilis beberapa hari yang lalu.
“Terima kasih Pak Dathan mengundang kami semua.” Adriel merasa senang karena Dathan mengundang semua karyawan Syailen Bisnis. Terutama teman-teman Neta.
“Aku hanya ingin menghargai teman-teman Neta. Waktu itu kami tidak mengundang. Jadi semoga ini bisa jadi ganti yang pas.
“Jika majalah tidak tersebar, mungkin kamu tidak akan mengundang mereka.” Reno menggoda Dathan.
__ADS_1
Dathan tersenyum. “Sejenak aku lupa jika istriku adalah wartawan. Jadi berita apa pun bisa saja tersebar.”
“Sepertinya Anda sudah mulai terbiasa dengan wartawan.” Adriel yang melihat Dathan pun mengambil kesimpulan tersebut.
“Sepertinya seperti itu.” Dathan sendiri merasa jika memang kini harus terbiasa. Apalagi istrinya masih menjadi wartawan.
“Tapi, Neta akan segera berhenti. Jadi tentu saja itu akan membuat Pak Dathan lebih jauh dari wartawan.” Adriel mengingatkan perihal Neta yang akan segera keluar dari pekerjaanya.
“Benar. Jika Neta sudah keluar, pasti aku akan lebih lega.” Dathan tersenyum.
Di saat Dathan mengobrol dengan para pria, Neta mengobrol dengan teman-temannya. Beberapa teman Neta yang sudah menikah menceritakan bagaimana kehamilan mereka sewaktu pertama kali. Mendengar obrolan itu, tentu saja membuat Neta begitu antusias. Mendapatkan pengalaman dari teman-temannya.
Neta, Dathan, dan Loveta segera pulang setelah acara makan malam selesai. Loveta sudah tidur di mobil. Gadis kecil itu begitu lelah karena hari sudah malam. Sampai di rumah, Dathan menggendong anaknya. Neta yang berada di belakang, membawakan beberapa barang milik anaknya. Di kamar Neta segera mengganti baju anaknya dengan baju tidur. Agar sang anak tidur lebih lelap.
Saat anaknya sudah aman, Neta dan Dathan pun kembali ke kamarnya. Bergantian untuk membersihkan diri. Mereka juga sudah begitu lelah. Karena seharian bekerja dan dilanjutkan makan malam.
Dathan lebih dulu naik ke atas tempat tidur. Disusul oleh Neta. Wanita yang kini menyandang gelar istri itu segera masuk ke dalam pelukan sang suami. Mencari kehangatan dalam setiap pelukan.
__ADS_1
“Sayang, terima kasih sudah mengundang teman-temanku.” Neta memeluk erat sang suami. Dia merasa bahagia bisa berbagi kebahagiaannya dengan teman-temannya.
“Jangan berterima kasih. Aku melakukan tanggung jawabku saja. Aku ingin teman-temanmu melihat jika kamu tidak seburuk itu. Kamu tidak pernah menggodaku.” Dathan membelai lembut rambut sang istri.
Neta mengingat bagaimana tadi Dathan di sana menceritakan pertemuannya. Bagaimana Dathan yang terpesona padanya sejak pandangan pertama.
“Apa yang kamu pikirkan saat melihat aku pertama kali?” Neta menatap Dathan lekat.
Dathan memutar bola matanya. Memikirkan apa yang dulu terlintas saat pertama kali bertemu Neta. Namun, sesaat kemudian suara tawa Dathan terdengar. Merasa lucu ketika mendapatkan kepingan ingatan tentang sang istri.
“Kenapa tertawa?” tanya Neta.
“Karena aku mengingat bagaimana kemeja yang kamu pakai basah.” Dathan tertawa mengingat hal itu. “Apalagi bra merah yang terlihat dari balik kemeja. Seketika membuatku tidak rela itu dilihat oleh orang lain.”
“Protektif sekali kamu.” Neta menggoda.
“Tentu saja, dan sekarang aku akan jauh lebih protektif padamu.” Satu kecupan mendarat di dahi sang istri.
__ADS_1
Neta mengeratkan pelukannya. Dia tahu jika sang suami begitu mencintainya. Jadi wajar saja dia akan protektif. Lagi pula, Neta yakin Dathan tahu batasan. Tidak mungkin dia akan mengekang Neta berlebihan.