Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Rindu Lolo


__ADS_3

Suara telepon terdengar ketika Arriel dan Loveta sedang asyik belajar pun mengalihkan pandangan pada benda pipih merk terkenal yang tergeletak di atas meja. Arriel segera meraih benda pipih itu, kemudian melihat siapa yang menghubunginya. Nama Dathan tertera di sana. Jelas pria itu menghubungi untuk berbicara dengan anaknya. Tanpa menunggu lama, Arriel mengangkat sambungan telepon tersebut.


“Papa.” Arriel menyodorkan ponselnya memberitahu sang anak untuk berbicara dengan orang di sambungan telepon tersebut.


Loveta langsung meraih ponsel sang mama. Menempelkan ponsel ke telinganya. “Papa.” Dia memanggil sang papa di seberang sana.


“Halo, Cinta.” Dathan di seberang sana menyapa anaknya. “Cinta sedang apa?” Dathan di seberang sana ingin tahu apa yang dilakukan sang anak. Ingin tahu kegiatan apa yang dilakukan selama dirinya tidak ada.


“Lolo sedang belajar. Lolo sedang buat angka. Mami Neta mana?” Alih-alih bertanya tentang papanya, Loveta justru ingin tahu di mana mami sambungnya itu.


“Halo, Cinta. Mami rindu.” Neta sadar betul jika Loveta sudah jadi bagian hidupnya. Jadi dia begitu menyayangi Loveta.


“Lolo juga rindu. Mami kapan pulang, lalu tinggal di rumah.” Yang dipikirkan anak-anak memang sesederhana itu. Jadi wajar saja, dia mau menanyakan akan hal itu.


“Iya, nanti Mami dan Papa akan jemput hari senin. Nanti kita akan tinggal bersama.” Neta menjelaskan dengan lembut.


“Ye … Lolo tidak sabar.” Loveta begitu senang sekali.


“Yang penting Lolo yang baik tinggal dengan mama. Dengarkan apa yang mama bilang.” Neta memberitahu sang anak.


“Lolo sudah pintar. Selalu dengar apa kata mama.” Loveta mencoba menjelaskan. Kemudian beralih ke mamanya. “Lolo pintar ‘kan, Ma?” Loveta bertanya pada sang mama.


“Iya.” Arriel mengangguk setuju dengan yang dikatakan sang anak.


“Pintar.” Neta memuji Loveta.


“Cinta makan dengan baik ‘kan?” Dathan kembali berbicara.

__ADS_1


“Lolo makan banyak, Pa. Mama pesankan Lolo makanan lucu dan enak sekali.”


Selama tinggal dengan Arriel, memang Arriel memang memesankan makanan catering untuk Loveta. Catering khusus anak-anak. Beruntung Loveta suka. Jadi dia lahap makan. Arriel juga tidak perlu susah-susah untuk menyiapkan makanan.


“Baiklah, sampaikan terima kasih papa untuk mama.”


“Kata papa, terima kasih.” Loveta menyampaikan pada sang mama.


“Terima kasih kembali.” Arriel tersenyum.


“Terima kasih kembali, Pa.” Loveta menirukan sang mama.


“Baiklah, Cinta sebaiknya cepat tidur, Sayang. Jangan lupa dengarkan kata mama.”


“Baik, Pa.”


Sambungan telepon berakhir. Loveta memberikan ponsel pada sang mama. Arriel pun tersenyum sambil membelai lembut rambut sang anak. Meminta sang anak untuk melanjutkan kegiatan yang tadi sempat terhenti.


...****************...


Hari ini, hari terakhir bekerja. Jadi tentu saja adalah hal yang ditunggu Arriel. Besok dia dan anaknya bisa bermain seharian.


Sayangnya, dia teringat jika besok Liam dan Adriel akan datang ke rumah. Entah kenapa dia ingin membeli beberapa makanan kecil untuk mereka. Jadi, Arriel memutuskan untuk segera pulang dan mengajak anaknya berbelanja.


“Riel, aku menumpang. Hari ini aku tidak bawa mobil.” Mauren menatap Arriel ketika mereka baru saja mengerjakan desain.


“Tapi, aku mau pergi dulu ke swalayan.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku ikut juga ke swalayan. Ada juga yang harus aku beli.” Mauren memilih untuk ikut ke swalayan bersama Arriel. Dia pikir lebih baik ikut dengan temannya itu.


“Baiklah, jika kamu mau ikut.” Arriel segera merapikan pekerjaanya.


Arriel dan Mauren akhirnya memutuskan untuk ke swalayan bersama. Loveta yang ikut juga begitu senang sekali dia bersemangat sekali untuk membeli apa yang dia mau.


Arriel membeli snack, buah, minuman dingin, dan beberapa kue. Apa yang dilakukan Arriel itu tentu saja membuat Mauren terheran-heran. Bagaimana bisa temannya beli makanan sebanyak itu.


“Mau mau buka toko?” Mauren merasa heran dengan temannya itu. Troli belanjaanya begitu penuh sekali.


“Besok teman Lolo akan datang.” Arriel menjawab sambil terus memasukkan makanan tersebut.


“Teman yang anak panti itu?” Mauren mencoba memastikan.


“Iya.” Arriel membenarkan.


“Memang berapa orang yang akan datang?” Arriel begitu penasaran sekali.


“Hanya satu orang.” Arriel mengingat jika Loveta hanya mengundang Liam saja.


“Hanya satu orang saja dan kamu membeli sebanyak ini?” Mauren benar-benar tidak menyangka jika ini terjadi. Benar-benar di luar dugaannya.


“Aku hanya tidak mau terlihat pelit saja.” Arriel mengelak. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia membeli begitu banyak sekali makanan. Padahal dia tahu dengan jelas jika hanya Liam yang akan datang.


“Kamu ada rasa dengan pria itu?” Mauren menebak-nebak apa yang dilakukan oleh temannya itu.


“Tidak.” Arriel langsung menjawab. “Kamu tahu dia masih muda sekali. Dia lebih pantas jadi adikku.” Arriel tahu jika umur Adriel adalah dua puluh tujuh tahun. Jelas jauh dengannya yang berumur tiga lima. Jarak delapan tahun cukup jauh.

__ADS_1


“Aku rasa tidak masalah jika kamu suka dengan pria lebih mudah. Apalagi pria seperti itu. Tampan.” Mauren tersenyum membayangkan Adriel.


“Sudah ayo cepat, aku mau pulang.” Arriel memilih untuk menghindar dari pembicaraan Mauren. Dia tidak mau terjebak dengan rayuan Mauren untuk jatuh cinta dengan Adriel. Belum tentu Adriel menyukainya. Paling juga Adriel menganggapnya hanya wanita tua saja.


__ADS_2