
Dathan mengangkat sambungan yang merupakan sambungan telepon itu. Dia membuat mode lousdspeaker. Dia mau Neta juga dengar.
“Halo.”
“Papa.” Suara Loveta langsung terdengar dari seberang sana.
“Halo anak Papa.” Dathan senang sekali ketika mendengar suara anaknya.
“Mama, Lolo mau lihat wajah papa.” Terdengar Loveta meminta mamanya mengubah mode teleponnya.
“Oke sebentar.” Arriel tampak mengubah mode telepon menjadi panggilan video.
Neta yang melihat hal itu langsung memundurkan tubuhnya. Takut jika mantan suami Dathan melihatnya. Dathan berusaha menarik Neta, tetapi sayangnya gadis itu tidak mau. Dathan terpaksa melakukan panggilan video dengan anaknya.
“Papa.” Loveta langsung memanggil Dathan.
“Halo, Cinta. Papa rindu sekali.” Dathan tersenyum. Memang benar adanya jika dirinya rindu sekali dengan sang anak.
“Lolo juga rindu sekali.” Loveta tersenyum manis.
Arriel yang melihat wajah anaknya yang begitu manja merasa lucu sekali. Anaknya itu terlihat begitu menyangyangi sang papa.
“Bagaimana liburannya?” Dathan antusias untuk menceritakan apa yang dilakukannya bersama sang mama.
“Lolo lihat gajah, lihat singa, lihat kuda nil, lihat jerapah. Banyak Papa.” Loveta begitu antusias sekali bercerita.
“Wah ... pasti singanya galak seperti Cinta.” Dathan tampak menggoda.
“Papa Lolo tidak galak. Lolo baik, sayang.” Loveta membela dirinya.
“Iya, anak Papa cantik, baik, dan juga pintar.” Dathan tersenyum memuji anaknya.
__ADS_1
Loveta tersenyum. “Nanti papa ikut ya kalau ke kebun binatang lagi. Lolo mau naik gajah, tapi mama takut. Jadi nanti papa harus ikut.” Loveta menceritakan kejadian di mana dirinya ingin sekali naik gajah. Sayangnya, sang mama tidak berani.
“Memangnya Cinta berani?” tanya Dathan.
“Berani.” Loveta menjawab dengan semangat.
“Anak papa pintar sekali.” Dathan merasa senang sekali. Anaknya memang cukup berani dalam segala hal. Jadi wajar saja jika sampai anaknya berani untuk naik gajah.
“Papa, nanti Lolo mau tidur di rumah mama. Karena mama mau rindu. Papa jaga diri ya.” Loveta dengan polosnya memberitahu sang papa.
Dathan terdiam. Anaknya dewasa sebelum waktu. Jadi terkadang dia bisa menasihati dirinya. Rasanya bangga bisa mendidik Loveta seperti itu.
“Papa akan jaga diri baik-baik. Cinta juga jaga diri. Dengarkan kata mama.” Dathan tersenyum. Dia berharap Loveta akan baik-baik saja. Akan betah tinggal bersama sang mama.
Neta yang melihat sang kekasih dengan sanga terharu dengan anaknya, langsung membelai lengan Dathan. Menenangkan kekasihnya itu.
“Papa itu tangan siapa?” Loveta yang menyadari tangan seseorang segera bertanya.
“Ada Aunty Neta.” Dathan menggeser kameranya, agar Neta dapat terlihat di layar ponselnya. Saat bergeser. Wajah mereka begitu dekat sekali.
Neta sudah tidak ada pilihan lagi. Terpaksa dia akhirnya tampil di layar ponsel Dathan.
“Halo, Cinta.” Neta dengan senyum manisnya menyapa Loveta.
“Aunty Neta.” Loveta tampak begitu senang.
Arriel melihat jelas wajah cantik Neta dari ponselnya. Ini pertama kalinya dia melihat kekasih Dathan tersebut. Dia akui jika Neta begitu cantik. Masih muda dan terlihat wajahnya segar sekali.
Saat memerhatikan gadis di depannya, dia merasakan kobaran api cemburu di dalam dadanya yang bergemuruh. Dia melihat jelas bagaimana Neta begitu menempel dengan Dathan.
Neta melihat Loveta dari layar ponsel. Karena posisi Loveta duduk, dan ponselnya mengarah ke wajahnya, dia tidak melihat wajah mantan istri Dathan itu.
__ADS_1
“Aunty sedang apa?”Loveta begitu semangat bertanya.
“Aunty sedang mau belajar memasak dengan papa.” Neta menjelaskan sambil tersenyum manis.
Arriel melihat jelas senyum Neta. Rasanya, dia iri senyum itu tampak begitu cantik sekali. Di usianya yang memasuki tiga puluh lima tahun, dia sudah mulai terlihat ada kerutan.
“Lolo juga mau masak.” Loveta iri dengan papanya dan Neta yang sedang belajar masak.
“Nanti jika Cinta pulang, kita masak bersama, oke.” Neta tersenyum. Mencoba menenangkan Loveta.
“Oke, Lolo mau masak nanti dengan Aunty.” Loveta bersemangat.
“Lolo, kita harus segera bersiap pulang. Sudah dulu teleponnya.” Arriel memberitahu anaknya yang asyik berbicara di sambungan telepon.
“Aunty, papa, Lolo mau pulang dulu ke rumah mama. Nanti Lolo telepon.” Loveta memberitahu Neta dan Dathan.
“Kabari papa jika Cinta sudah sampai rumah.” Dathan menitip pesannya pada anaknya.
“Baik, Papa.” Loveta tersenyum. “Da ....” Dia melambaikan tangan pada Neta dan Dathan.
Dathan dan Loveta ikut melambaikan tangannya. Kemudian mematikan sambungan teleponnya. Dathan masih terasa berat ketika tidak ada anak di sisinya.
“Kamu merindukannya?” Neta menatap Dathan. Terlihat raut wajah sedih di wajah Dathan.
“Iya, aku jarang berpisah lama dengan Cinta. Sekalinya aku keluar kota, aku usahakan yang sehari atau dua hari. Sekalipun keluar kota, aku ajak dia, dan memboyong keluarga Reno.” Dathan menjelaskan pada Neta.
“Tenanglah, dia dengan mamanya. Jadi pasti dia akan aman.” Neta mencoba menenangkan sang kekasih.
Dathan menoleh ke arah Neta. “Aku tenang, apalagi ada kamu.” Dia tersenyum. Kepalanya langsung bersandar di bahu Neta.
“Dasar.” Neta mencubit pipi Dathan. “Ayo cepat masak. Nanti waktu makan siang tiba.” Neta mengakhiri drama yang buat Dathan. Dia menyingkirkan kepala Dathan dan segera berdiri.
__ADS_1
Dathan tidak punya pilihan lain. Dia ikut berdiri dan menuju ke dapur bersama dengan Neta. Kali ini dia akan menikmati memasak dengan sang kekasih hati.