
Suara bel terdengar. Neta yang sedang duduk manis langsung berdiri. Melihat siapa gerangan yang datang. Tepat saat nyaris sampai pintu, Dathan pun juga ikut menuju pintu.
“Siapa?” Sebelum membuka Neta menatap suaminya. Dia yakin suaminya tahu siapa yang datang.
“Karyawan IZIO.” Dathan menjawab.
Neta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti siapa gerangan yang datang.
Dathan membuka pintu. Benar saja yang datang adalah karyawan IZIO. Neta melihat apa yang dibawa oleh karyawan suaminya. Panggangan donat. Sejenak Neta berpikir mungkin suaminya sengaja beli karena ingin membuat donat untuknya.
“Ini pesanannya, Pak.” Karyawan IZIO memberikan pada Dathan.
“Terima kasih.” Dathan menerima kota berisi panggangan donat yang dipesannya.
“Tunggu.” Dia meminta karyawan untuk tidak pergi lebih dulu karena ingin meletakkan alat tersebut di atas meja. Dathan segera mengambil uang di dompet yang berada di sakunya. Kemudian kembali ke karyawannya. “Ini untuk kamu.” Dia memberikan uang tersebut pada karyawannya.
“Terima kasih, Pak.” Karyawan menerima uang yang diberikan oleh Dathan. “Saya permisi dulu.”
Dathan dan Neta mengangguk. Dathan segera menutup pintu rumah. Kembali ke meja ruang tamu untuk mengambil kotak berisi panggangan donat.
“Kamu membeli ini?” Neta menatap suaminya.
“Iya, aku tidak bisa membuat donat bulat-bulat. Jadi pakai alat ini lebih praktis.” Dathan menyeringai.
Neta hanya tersenyum saja. Terserah suaminya mau pakai apa. Yang terpenting adalah suaminya membuatkan donat. Bagaimana pun caranya. Neta akhirnya ikut ke dapur. Melihat sang suami yang akan membuat donat. Dathan tidak melarang. Dia membiarkan sang istri untuk melihatnya yang sedang akan membuat donat.
__ADS_1
Baru saja langkah mereka sampai di dapur, mereka sudah dikejutkan dengan tepung yang di mana-mana. Belum lagi tubuh anaknya dari kepala sudah dipenuhi tepung.
“Sayang kamu sedang apa?” Dathan menatap anaknya dengan tatapan bingung. Baru saja ditinggal sebentar anaknya sudah berulah. Tubuhnya sudah putih semua karena tepung. Justru mirip donat gula.
“Tepungnya mirip salju. Lalu Lolo lempar ke atas.” Loveta tetaplah anak lima tahun yang menganggap semua adalah mainan. Termasuk kali ini. Sekali pun sering membuat kue dengan mami atua mamanya, sembilan puluh persen bermain, sepuluh persen membantu.
Neta hanya tersenyum. Karena itulah dia tidak pernah lengah ketika memasak dengan Lovata. Karena semua yang dilakukan Loveta adalah bermain. Sayangnya, suaminya harus menerima konsekuensi meninggalkan anaknya sendiri.
Dathan mengembuskan napasnya. Percuma mau marah juga. Karena memang dia yang salah. Dathan menghampiri sang anak. Kemudian membersihkan rambut anaknya yang dipenuhi dengan tepung. Tak lupa memastikan wajah sang anak bersih juga.
“Lain kali tepungnya untuk buat kue, bukan buat mainan.” Sambil membersihkan Dathan memberitahu anaknya.
“Iya, Pi.” Loveta mengangguk.
“Ayo kita lanjutkan.” Dathan membiarkan sang dalam keadaan kotor tepung. Anaknya sudah semangat membuat kue. Jadi tentu saja dia ingin menyelesaikannya.
Dathan dan Loveta melanjutkan kembali melanjutkan membuat donat. Karena memakai panggangan yang sudah berbentuk donat yang tengahnya sudah bulat, tentu saja itu memudahkannya untuk membuat donat dengan sempurna.
Saat matang, Loveta menghiasi dengan coklat dan taburan kacang almond dan juga choco chip. Neta juga ikut menghiasi donat. Dia membuat dua donat yang mirip sekali. Karena menurutnya harus dibuat mirip karena anaknya kembar.
Neta yang melihat donat, tidak sabar untuk memakannya. Di dapur, dia segera memakannya.
“Enak.” Neta merasakan donat begitu enak di mulutnya. Manisnya pas. Apalagi toping-nya sudah manis.
Neta tak hanya memakan satu, tetapi lima donat. Benar-benar definisi lapar sesungguhnya.
__ADS_1
“Lolo mau mandi.” Loveta yang sudah kencang karena makan tiga donat pun ingin segera membersihkan diri. Sudah tidak sabar karena tepung masuk ke bajunya.
“Mandi dengan bibi dulu.” Dathan sedang makan. Tidak enak jika harus berhenti.
“Baik.” Loveta mengangguk.
Dathan memanggil asisten rumah tangga. Kemudian meminta untuk menemani Loveta mandi.
Kini di dapur tinggal Dathan dan Neta. Neta masih melanjutkan makan walaupun sudah makan dua donat.
Dathan melihat sang istri yang begitu semangat memakan donat. Dia merasa tidak sia-sia membuatkannya.
“Lihatlah, kamu makan sampai belepotan seperti itu.” Dathan yang tadinya berdiri di seberang meja bar berhadapan dengan sang istri segera menghampiri istrinya. Berdiri tepat di samping sang istri yang duduk.
Neta yang hendak menghapus mulutnya yang belepotan, tetapi Dathan sudah mencekalnya. Neta tahu jika suaminya ingin membersihkan sisa coklat yang menempel di bibirnya. Jadi dia pun menurunkan tangannya.
Dathan mengarahkan tangannya ke bibir sang istri. Tubuhnya sedikit membungkuk agar dapat melihat bibir sang istri. Namun, belum sempat ibu jarinya sampai di bibir sang istri, dia menghentikan gerakan itu. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya ketika menemukan cara lain menghapus coklat di bibir sang istri. Dengan gerakan cepat Dathan mendaratkan bibirnya. Menyesap coklat di bibir sang istri.
Untuk sesaat Neta terdiam. Dia terkejut dengan gerakan suaminya. Karena dia pikir suaminya mau menghapus dengan tangannya. Namun, ternyata tidak. Neta terdiam tak sama sekali membalas.
Dathan melepaskan tautan bibirnya. Senyumnya merekah ketika perlahan menjauhkan wajahnya dari sang istri.
“Kalau ada yang lihat bagaimana?” tanya Neta.
“Tidak akan ada yang lihat. Semua di kamar.” Dathan selalu bisa saja menjawab.
__ADS_1
Neta hanya menatap malas, tetapi selang beberapa saat senyumnya menghiasi wajahnya. Suaminya selalu saja bisa membuatnya tersenyum karena ulahnya.