Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Mainan Baru


__ADS_3

Neta membuka matanya lebih dulu. Saat membuka matanya ternyata Dathan menaruh bantal di tengah-tengah mereka. Neta sedikit terkejut ketika melihat jika dirinya sudah lepas dari pelukan Dathan.


Entah kapan Dathan melepaskan pelukannya. Mungkin saat pria itu merasa sudah tidak tahan menahan dirinya.


Dathan tidur dengan menggunakan tangannya sebagai sandaran. Menghadap ke langit-langit kamar dan tampak begitu tenang.


Neta terus memerhatikan pria tampan di sampingnya itu. Rahang Dathan yang ditumbuhi rambut halus memang membuat Dathan punya ciri khasnya sendiri.


Terkadang membuat Neta ikut gemas, karena Dathan begitu terlihat macho dengan rahangnya yang Ditumbuhi bulu halus.


Neta yang gemas berusaha untuk memegang rahang Dathan. Telapaknya yang bertemu dengan jambang, Dathan membuat Neta langsung tersenyum. Di tangan saja geli. Apalagi, ach … Neta membuang pikiran kotornya itu. Belum apa-apa dia sudah membayangkan yang tidak-tidak.


Cukup lama tangan Neta berada di rahang Dathan. Sampai akhirnya, Dathan terbangun.


“Apa kamu punya mainan baru?” Dathan yang membuka matanya segera menoleh ke arah Neta.


“Emm … aku benar-benar gemas.” Neta tersenyum. Deratan giginya tersusun rapi.


“Lakukan yang mau.” Dathan justru meminta Neta melakukan apa yang dimau Neta. Tangannya justru meminta Neta untuk memegang keseluruhan rahangnya.


Neta tertawa. Dia merasa geli ketika Dathan mengusap tangan Neta di wajahnya. Melihat tawa Neta, justru membuat Dathan segera mengangsur tubuhnya. Mendaratkan kecupan di pipi Neta, sambil menggesekkan rahangnya di pipi Neta.


“Apa kamu di tempat lain?” Dathan menggoda Neta.


Dengan cepat Neta menggeleng. Wajahnya seketika pucat. Seketika Dathan tertawa. Apa yang dilakukan Neta membuat Dathan merasa lucu.


“Kali ini aku lepaskan, tetapi nanti setelah menikah aku tidak akan melepaskanmu.” Dathan menyeringai.


Neta hanya menekuk bibirnya kesal. Dathan selalu saja menggodanya.

__ADS_1


“Ayo, kita harus bersiap untuk kembali.” Dathan berangsur bangun. Dia tidak mau sampai ketinggalan pesawat. Lagi pula, dia sudah membuat janji dengan Mauren. Jadi dia tidak bisa bersantai-santai dulu.


“Baiklah.” Neta mengangguk. Dia pun berangsur bangun.


Mereka berdua segera bersiap. Sebelum pergi, mereka menyempatkan sarapan dulu. Maria yang berada di kamar sebelah juga bergabung. Karena nanti mereka akan pulang bersama.


“Melihat kalian seperti melihat pengantin baru.” Maria menyindir temannya itu. “Cepatlah kalian menikah.”


“Kamu sudah tahu aku sebulan lagi menikah. Mana bisa dicepat-cepat. Kamu pikir beli sayur di pasar.” Neta memutar bola matanya malas.


Dathan tersenyum mendengar perdebatan dua teman itu. Neta dan Maria sudah seperti saudara. Jadi tentu saja hal itu menjadi biasa.


Mereka bertiga saling mengobrol. Sejak awal, Maria memang sudah tahu hubungan Neta dan Dathan, jadi hal itu membuat mereka nyaman bercerita. Neta juga menceritakan jika setelah ini nanti mereka akan pergi ke toko perhiasan.


Usai makan, mereka semua akhirnya langsung ke bandara. Pesawat mereka akan terbang jam sepuluh. Jadi mereka tidak mau sampai terlambat. Apalagi Dathan dan Neta membuat janji jam satu siang dengan Mauren di toko perhiasan.


Arriel sepagi ini bermain dengan sang anak. Setelah kemarin bermain di taman hiburan, dia memutuskan untuk hari ini mereka akan di rumah saja. Mereka bermain bersama.


“Mama diam dulu.” Lolo yang sedang mengepang.


Arriel langsung diam. Dia dan anaknya memang sedang bermain-main. Tadi Arriel mengepang rambut Loveta, sedangkan sekarang gantian Loveta sedang mengepang rambutnya.


“Mama, rambutnya susah.” Loveta memprotes rambut sang mama.


“Kamu coba dulu yang benar. Pasti bisa.” Arriel melihat sang anak dari pantulan kaca. Senyumnya menghiasi wajahnya. Apalagi ketika melihat anaknya yang mengangguk dan tersenyum.


Saat melihat senyum sang anak, dia merasa jika kemarin adalah hari keberuntungannya. Jika sampai Loveta hilang, dia pasti akan sangat menyesal. Karena tidak bisa menjaga anaknya. Beruntung Loveta bertemu pria kemarin, jika tidak, pasti dia akan benar-benar kehilangan anaknya.


“Lolo tahu panti asuhan tempat kakak yang memberikan Lolo topi?” Arriel ingin berterima kasih pada pria itu dan anak yang memberi topi pada anaknya. Ini adalah rasa syukur karena sudah menolong anaknya.

__ADS_1


“Tidak tahu.” Loveta menggeleng. “Kakak Liam tidak bilang di mana rumahnya.” Dia menceritakan pada sang mama.


“Uncle kemarin juga tidak cerita?” tanya Arriel memastikan.


“Uncle Adriel juga tidak cerita.” Loveta kembali menjelaskan.


Akhirnya nama pria itu disebut sang anak. Karena dari kemarin hanya nama Liam di sana. Dari anaknya juga akhirnya dia tahu siapa nama pria muda itu.


“Mama mau apa?” Loveta memiringkan kepalanya-menatap sang mama dari pantulan cermin. Dia ingin tahu kenapa sang mama menanyakan Liam dan Adriel.


“Mama hanya ingin berterima kasih saja. Karena mereka mau membantu mengantarkan Lolo ke mama.” Arriel langsung memutar tubuhnya. “Jika Lolo hilang pasti mama akan sedih.” Dia langsung memeluk sang anak.


Loveta balas memeluk. “Maafkan Lolo, Mama.” Gadis kecil itu merasa bersalah sekali.


“Tidak apa-apa, Sayang.” Arriel sadar, anak-anak pasti ingin tahu banyak hal. Lain kali, dia harus lebih ekstra saja.


Suara telepon terdengar. Arriel yang sedang memeluk sang anak pun melepaskan pelukannya itu. Dia segera meraih ponselnya. Ternyata temannyalah yang menghubunginya.


“Ada apa, Mauren?” Arriel langsung bertanya hal itu pada Mauren ketika sambungan telepon terhubung.


“Apa kamu akan ke toko hari ini?” Mauren di seberang sana justru balik bertanya.


“Aku tidak ke toko. Kamu urus saja semuanya.” Arriel ingin bersama anaknya. Tidak mau diganggu urusan pekerjaan.


“Baiklah kalau begitu. Selamat bersenang-senang dengan Lolo.”


“Iya.” Arriel segera mematikan sambungan telepon setelah menghubungi temannya itu. Dia pun segera kembali bermain dengan Loveta. Dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri jika akan fokus pada Loveta. Tidak mau lagi melepaskan masa indah bersama anaknya. “Ayo cepat lanjutkan kepangnya.” Dia kembali membelakangi anaknya.


Loveta begitu senang sekali. Dia segera berbalik untuk melanjutkan kembali mengepang.

__ADS_1


__ADS_2