
Neta dan Loveta menikmati waktunya bersama. Mereka menonton film anak sambil menikmati cemilan. Tawa keduanya begitu renyah terdengar ketika menonton film. Mereka berdua begitu bahagia sekali.
“Kenapa mau berdua dengan Aunty Neta saja?” Neta masih penasaran sekali dengan Loveta.
Loveta langsung tertawa. Dia segera mengambil plastik makanan yang tadi dibeli.
“Lolo mau makan ini.” Loveta langsung mengeluarkan permen warna-warni yang dibelinya.
Neta tersenyum. Ternyata hanya untuk sebuah permen gadis kecil itu tidak mau sang papa ikut bergabung.
“Kata papa permen ini tidak baik. Nanti Lolo sakit gigi kalau makan permen ini.” Loveta selalu ingin beli permen warna-warni itu, tetapi sang papa selalu melarang.
“Memang benar kata papa, makan permen ini akan sakit giginya.” Neta membenarkan apa yang dikatakan oleh Dathan pada anaknya. “Tapi, jika makannya banyak.” Neta menggelitik perut Loveta. Menggoda Loveta.
Gadis kecil itu tertawa. Dia merasa geli sekali. Sampai akhirnya Neta melepaskannya. “Aunty izinkan Lolo makan ini?” tanya Loveta ketika tawanya terhenti.
Neta tersenyum. “Boleh, tatapi tidak boleh banyak-banyak. Papa bilang takut Cinta sakit gigi. Artinya Cinta harus gosok gigi setelah makan permen ini.” Neta membelai lembut rambut Loveta. Memberikan nasihatnya pada Loveta.
“Baik, nanti setelah makan Lolo akan sikat gigi agar tidak sakit.”
Neta tersenyum. Dia paham anak-anak terkadang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Anak-anak harus ditarik ulur saat menjaganya. Tidak bisa terlalu kencang, tetapi tidak boleh terlalu renggang. Intinya harus didampingi. Diberikan pengertian agar mereka paham alasan kenapa dilarang. Namun, larangan harus disertai dengan sebuah penjelasan agar anak-anak tahu apa yang menjadi alasan larangan itu ada.
“Ayo kita makan.” Loveta segera memberikan permen pada Neta. Memintanya Neta membukakannya.
__ADS_1
Neta segera membukakan permen tersebut. Dia segera memberikan pada Loveta.
“Lolo mau warna merah, Aunty biru saja ya.” Loveta memberikan permen berwarna biru pada Neta.
Neta tersenyum. Dia segera membukakan permen untuk Loveta, dan juga untuk dirinya. Mereka memakan permen tersebut kemudian menunggu permen memberikan warna pada lidah mereka. Sambil menunggu mereka melanjutkan menonton film.
“Wlekkk ....” Loveta menjulurkan lidahnya memamerkan warna merah.
“Wleekk ....” Neta juga menjulurkan lidahnya. Ikut memamerkan lidahnya.
Mereka berdua tertawa. Merasa lucu sekali dengan warna merah lidah mereka.
“Coba Cinta makan warna kuning.” Neta memberikan satu permen lagi pada Loveta.
“Jadi orange” Loveta begitu girang sekali.
Neta tersenyum. Terkadang anak-anak hanya sesederhana itu untuk bahagia. Melihat Loveta. Neta langsung tersenyum. Dia merasa senang sekali.
Puas memakan permen, Neta mengajak Loveta untuk segera gosok gigi. Itu agar gigi Loveta tidak sakit.
Jam tidur siang sudah tiba. Jadi tentu saja Loveta sudah mengantuk. Itu membuat Loveta langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Udara dingin pendingin ruangan membuat Loveta segera tidur. Gadis kecil itu puas setelah makan permen warna-warni.
Neta yang melihat Loveta sudah tidur segera menghubungi Dathan. Dia ingin tahu di mama pria itu sekarang.
__ADS_1
“Cinta sudah tidur, kamu di mana?” Neta segera melemparkan pertanyaan itu.
“Aku ada di tempat parkir. Tunggu.” Dathan di seberang sana memberitahu. Sesaat kemudian dia mematikan sambungan telepon.
Neta segera membuka pintu meskipun Dathan belum datang. Tepat saat Dathan datang pria itu langsung masuk saja. Mereka langsung duduk di sofa. Dathan yang melihat anaknya begitu pulas hanya bisa menggeleng kepala. Merasa heran dengan yang dilakukan anaknya.
“Kenapa dia mau berdua denganmu?” Kembali penasaran sekali.
“Dia mau makan permen berwarna, ternyata dia membeli permen itu tadi. Aku pikir dia biasa makan, jadi aku tidak melarangnya.”
Saat di supermarket memang Neta melihat Loveta membeli permen, hanya saja dia membiarkan.
“Dia makan permen itu?” Dathan tampak begitu khawatir.
“Tenanglah, dia sudah gosok gigi. Tadi dia juga hanya makan dua. Jangan terlalu berlebihan. Anak-anak begitu penasaran dengan sesuatu hal. Jika masih aman, biarkan saja. Yang terpenting dipantau saja.” Neta terbiasa bertemu dengan anak-anak panti. Jadi dia tahu bagaimana melakukan banyak hal pada anak-anak.
Dathan membenarkan apa yang dikatakan Neta. Selama tidak berbahaya, tidak masalah menuruti anak. “Kamu benar-benar calon ibu yang sempurna.” Dia mencubit lembut merasa begitu gemas dengan Neta. Dia sudah tidak sabar menjadikan Neta istrinya. Apalagi masalah dengan Arriel sudah selesai.
Neta tersenyum malu mendapati pujian dari Dathan.
“Besok aku masih libur, bagaimana jika kita jalan-jalan.” Neta memberikan idenya pada sang kekasih.
Ide itu tentu saja disambut baik oleh Dathan.
__ADS_1
“Baiklah, kita pergi jalan-jalan besok.” Dathan setuju. Tentu saja dia akan sangat senang jika menghabiskan waktu dengan Neta. Siapa tahu dia bisa melancarkan aksinya sekalian.