
“Iya, aku sedang dekat dengan seseorang.” Neta memilih membenarkan. Walaupun kelak dia tidak akan tahu akan seperti apa kelak hubungannya dengan Dathan, tetapi dia memilih untuk mengatakan pada Adriel jika dia memang sedang dekat dengan Dathan.
Adriel sedikit terkejut ketika mendengar jika Neta kini sedang dekat dengan seorang pria. Masih terasa sakit ketika mendengar akan hal itu. Namun, dia merasa senang karena Neta akhirnya bisa move on darinya.
“Aku berharap jika kamu akan mendapatkan pria yang baik.” Adriel tersenyum.
Melihat senyuman Adriel. Neta pun ikut tersenyum. Sejujurnya, Neta masih merasa sedikit rasa pada Adriel. Namun, dia sadar jika hubungannya memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Selain karena kesibukan Adriel, pria itu mengakhiri hubungannya karena terasa berat ketika menganggap Neta kekasih. Karena sejak kecil mereka bersama dan Adriel terlalu sulit perubah perasaan itu. Neta tidak bisa memaksa Adriel. Karena itulah mereka memutuskan untuk berpisah.
“Tentu saja.” Neta melebarkan senyumnya. Menutupi rasa sakit di dalam hatinya.
Melihat senyum Neta yang begitu cantiknya, rasanya benar-benar membuat Adriel semakin tersiksa. Dia meyakini jika keputusannya tepat.
Adriel meraih gelas yang berisi air putih yang diberikan oleh Neta. Dalam satu tenggak, dia menghabiskan minumnya. Dia segera meletakkan gelas di atas meja.
“Aku akan kembali ke hotel.” Adriel segera berdiri.
“Oh ... baiklah.” Neta mengangguk. Dia ikut berdiri. Bersiap mengantarkan Adriel sampai pintu depannya.
Neta membukakan pintu untuk Ariel. Kemudian mempersilakan Adriel untuk keluar. Dia tampak tenang sekali. Berusaha menutupi perasaannya yang sesungguhnya.
Adriel keluar dari kamar Neta. Dia berdiri di depan pintu kamar untuk berpamitan terlebih dahulu.
“Aku pamit dulu,” ucap Adriel.
“Iya.” Neta mengangguk.
Adriel segera berbalik untuk segera pergi dari tempat kos Neta. Dia tidak bisa berlama-lama berada di samping Neta. Perasaannya tak karuan saat itu.
“Kak.” Suara panggilan Neta terdengar.
Adriel menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik. “Iya,” ucapnya.
“Datanglah ke sini saat aku ada. Paling tidak aku bisa memberikanmu segelas air.” Neta tersenyum tipis. Berusaha membuat hubungannya dengan Adriel normal seperti saat mereka belum memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.
Adriel tersenyum. “Tentu.” Dia segera kembali melanjutkan kembali langkahnya. Meninggalkan tempat kos Neta.
__ADS_1
Neta segera menutup kembali pintu kamarnya. Dia memegangi dadanya sambil mengembuskan napasnya. Dia berusaha keras untuk tetap tenang.
“Aku mengenalnya cukup lama. Jadi tentu saja aku tidak boleh egois dengan menghancurkan hubungan lama. Ibu pasti sedih jika anak-anaknya saling membenci.” Neta berusaha meyakinkan hatinya jika tindakannya ini benar. Jadi tentu saja dia harus berusaha kuat melepas egonya.
...****************...
“Bagaimana wawancaranya?” Maria melemparkan pertanyaan itu pada Neta.
“Lancar. Aku sudah mendapatkan beberapa pertanyaan. Mungkin dua atau tiga hari aku selesai.” Neta menjelaskan hal itu.
“Apa kamu yakin jika akan selesai dalam dua hari atau tiga hari?” Maria menatap Neta tak percaya.
Seketika tubuh Neta lemas. Satu pertanyaan darinya berbalas satu pertanyaan dari Dathan. Tentu saja hal itu membuat Neta tidak yakin.
“Aku hanya mengingatkan jika kamu punya waktu seminggu. Jika tidak ....” Maria memberikan isyarat mengorok leher, artinya matilah Neta jika tidak dapat wawancara.
“Kamu menyebalkan sekali.” Neta memutar bola matanya malas.
Maria hanya tertawa saat temannya itu tampak kesal.
“Apa kamu tahu Adriel ke sini?” Sejenak Maria teringat dengan temannya itu. Tadi dia melihat temannya yang mengatakan jika Adriel akan rapat hari ini.
“Dia mengantar kue bolu pisang?” Maria memastikan. Dia tahu sekali Adriel akan membawakan makanan itu untuk Neta.
“Iya. Karena tepat saat aku datang, dia ada di depan kamar, aku mengajaknya masuk.” Neta tampak tenang. Tak mau memikirkan sakit hatinya.
“Sepertinya kamu sedang berusaha move on.” Maria melihat jelas wajah Neta yang berusaha keras.
“Tentu saja aku berusaha. Hidup harus berjalan. Jika berharap padanya, bukankah aku hanya akan berada di masa lalu dan tidak akan melihat masa depan.” Neta sadar jika dia harus berusaha bangkit. Tak mau sampai berlarut memikirkan mantan kekasihnya itu.
Maria menepuk bahu Neta. Dia tahu perasaan temannya itu. Dia pasti akan selalu mendukung.
...****************...
Neta bersiap ke rumah Dathan. Waktu menujukan jam dua siang. Tadi Dathan sudah mengirim pesan agar datang jam dua siang, dan mulai wawancara di jam tiga sore.
__ADS_1
Dengan menaiki taksi, Neta menuju ke rumah Dathan. Jarak rumah Dathan dan kantornya cukup jauh. Jadi butuh satu jam untuk sampai di rumah.
Saat sampai di rumah Dathan, tampak pria itu sudah datang. Itu terlihat dari mobil Dathan yang terparkir di depan rumah.
Neta yang turun dari taksi segera masuk ke rumah. Sebelum masuk, dia mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat pintu dibuka Dathan berada di balik pintu. Senyum pria itu terlihat begitu semringah sekali.
“Selamat datang.” Dathan menyambut Neta. Senyum menghiasi wajah Dathan. Sedari tadi memang Dathan menunggu Neta. Waktu terasa lama sekali ketika dia berharap bisa segera menunggu Neta.
Neta tersenyum ketika wajah tampan itu menyambutnya.
“Ayo masuk.” Dathan mempersilakan Neta untuk masuk. Dia melebarkan pintu agar Neta dapat masuk.
Neta segera masuk ke rumah Dathan. Sungguh, dia begitu penasaran apa yang akan ditunjukkan oleh Dathan.
Saat masuk tidak terlihat Loveta di rumah. Hal itu membuat Neta memikirkan ke mana gerangan Loveta.
“Ke mana Cinta?” tanya Neta.
“Tidur.” Dathan menjawab sambil terus mengayunkan langkahnya.
Neta terus mengekor di belakang Dathan. Mengikuti ke mana Dathan membawanya. Namun, saat terus mengikuti Dathan, Neta justru mendapati jika Dathan ke lantai atas. Hal itu membuat otaknya traveling.
Kenapa dia membawaku ke lantai atas? Apa yang akan dilakukannya. Cinta tidur, asisten rumah tangga juga tidak tampak, rumah begitu sepi. Bagaimana jika Dathan akan melakukan yang tidak-tidak?
Neta yang mengekor di belakang Dathan memikirkan hal itu. Seketika dia takut sekali. Bayangan-bayangan buruk menghiasi kepalanya. Dathan seorang duda, pastinya gaya pacaran atau mendekati wanita bukan sekadar berpegangan tangan atau sekadar kecupan saja. Pastinya akan lebih dari itu.
Sungguh Neta benar-benar takut. Bukan takut dengan Dathan, tapi takut imannya tidak kuat dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Dathan.
Sadar, Ta. Berhentilah. Menolaklah.
Neta terus mengaungkan itu dalam hatinya. Tak mau sampai nanti dia khilaf. Sayangnya, kakinya terus terayun. Menapaki tangan rumah Dathan.
“Berhenti.” Tiba-tiba Neta berteriak. Dia yang sedari tadi berusaha menyadarkan dirinya akhirnya bisa tersadar juga.
Dathan yang sedang menapaki tangga, seketika berhenti. Dia berbalik untuk melihat Neta.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Dathan.
Neta menatap Dathan yang berada di dua tangga di atasnya. “Yang harusnya bertanya aku. Kenapa kamu mengajak aku ke lantai atas?”