Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Mau Juga


__ADS_3

Dathan segera mengajak Neta ke kue pernikahan Adriel. Neta begitu senang sekali ketika mendapati kue akan dipotong untuknya.


“Mami-Mami. Mau apa?” Loveta yang melihat hal itu langsung berteriak. Dia berlari menghampiri mami dan papinya yang sedang membuat kue.


“Mami mau potong kue.” Dengan semangat Neta menjelaskan pada anaknya.


“Lolo mau juga, Mami.” Loveta begitu bersemangat sekali.


“Ayo.” Neta mengajak Loveta dengan semangatnya.


“Sebentar.” Loveta berbalik dan pergi begitu saja.


Neta bingung kenapa anaknya justru pergi. Padahal tadi dia baru saja bilang mau. Namun, seketika Neta membulatkan matanya karena ternyata Loveta mengajak semua anak panti.


“Tidak apa-apa ‘kan jika kuenya dibagi-bagi?” Neta menatap sang suami. Sebenarnya dia agak sedikit ragu.


Dathan tersenyum. Dia juga terkejut ketika anaknya mengajak pasukan. “Tidak apa-apa. Biarkan mereka semua menikmati kue.” Dathan justru senang-senang saja. Lagi pula pengantin juga tidak akan makan kuenya.


“Kami semua mau, Mami.” Loveta yang kembali bersama semua anak panti pun mengungkapkan keinginannya.


Dathan dan Neta saling pandang. Mereka tersenyum melihat aksi sang anak


“Baiklah, ayo.” Neta segera mengajak semua untuk makan kue.


Dathan segera memotong kue, sedangkan Neta menaruh di piring kecil. Neta juga meminta pihak catering meminjamkan piring. Satu per satu anak-anak mendapatkan kue. Anak-anak begitu senang sekali karena mendapatkan kue ulang tahun. Setelah anak-anak dapat, barulah Neta mendapatkan kue.

__ADS_1


“Sepertinya yang ingin kue bukan hanya kamu.” Dathan melihat anak-anak begitu lahapnya makan kue.


“Iya.” Neta tersenyum. Rasanya melihat anak-anak makan kue, membuatnya bersyukur. “Sesederhana itu kebahagiaan.” Mungkin sebagian orang akan mengira memalukan sekali memakan kue di pesta pelaminan. Namun, anak-anak begitu menikmati. Neta bersyukur ada orang-orang baik di sekitar anak-anak panti. Setidaknya, mereka dapat merasakan bahagia.


...****************...


Pesta akhirnya usai. Neta dan Dathan meminta anak-anak panti untuk kembali ke kamar mereka. Tadi Adriel sudah menitipkan mereka semua. Alhasil, mereka bertanggung jawab atas mereka semua. Anak-anak diminta untuk segera beristirahat. Karena sudah seharian beraktivitas.


Neta, Dathan, dan Loveta yang juga sudah lelah segera masuk ke kamar. Dathan meminta sang istri untuk duduk manis saja karena dirinyalah yang akan mengurus Loveta.


Loveta yang sudah lelah pun langsung tertidur ketika Dathan dan Neta sedang sibuk membersihkan diri.


“Sepertinya dia lelah.” Neta tersenyum. Dia yang baru selesai membersihkan wajahnya, mendapati sang anak tidur.


Dathan yang sibuk menggosok-gosok rambutnya, tersenyum. “Iya, dia pasti lelah.”


“Iya.” Neta mengangguk dan segera berdiri. Langkahnya diayunkan ke kamar mandi. Dia harus segera membersihkan tubuhnya agar segera bisa beristirahat.


Di saat sang istri mandi, Dathan memilih untuk membuat teh hangat. Dia ingin saat sang istri keluar, dapat langsung menghangatkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian Neta keluar dari kamar mandi. Dia segera menyusul sang suami yang sedang duduk di sofa.


“Aku buatkan teh hangat.” Dathan menatap sang istri yang sedang menghampirinya.


“Terima kasih.” Neta tersenyum. Dathan selalu tahu bagaimana cara memanjakan sang istri.

__ADS_1


Neta yang duduk segera meraih secangkir teh yang dibuatkan untuknya.


“Aku tidak tahu kalau Adriel kenal dengan David.” Sambil menikmati tehnya, Dathan mengingat kejadian tadi. Di mana dia bertemu David.


“Aku juga baru tahu, dan aku baru tahu juga kalau papa David adalah donatur di panti asuhan.” Tadi Bu Kania sedang mengobrol dengan seseorang pria. Neta yang ikut mengobrol mendapatkan banyak cerita. Termasuk tentang David.


“Papanya tampak baik, tetapi anaknya benar-benar berbeda sekali.” Dathan mengomentari kelakuan David yang bertolak belakang dengan sang anak. Itu membuatnya sedikit merasa aneh.


“Kita tidak tahu banyak tentang mereka. Jadi tidak bisa sembarangan menilai orang. Yang dinilai orang baik, belum tentu benar-benar baik, dan sebaliknya.” Neta memberikan pengertian pada sang suami.


Dathan menatap sang istri. Sang istri memang punya sudut pandang lain atas orang-orang di sekitarnya.


“Iya.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang istri. Kemudian beralih ke perut sang istri. Membungkukkan tubuhnya sedikit agar dapat menjangkau perut sang istri. “Anak papi apa kabar? Lelah tidak hari ini?” Dathan membelai lembut perut sang istri.


“Baik, Papi.” Neta menjawabkan untuk sang suami.


Dathan tersenyum. Kemudian menegakkan tubuhnya. Satu kecupan mendarat sempurna di pipi sang istri. Gemas dengan sang istri.


“Cepatlah istirahat.” Tangan Dathan membelai lembut wajah sang istri.


“Iya, setelah aku habiskan teh hangat ini.” Neta masih asyik menikmati tehnya.


Dathan mengangguk. Dia pun masih asyik dengan teh hangatnya.


“Bagaimana jika kita bulan madu?”

__ADS_1


Seketika Dathan yang sedang minum, langsung tersedang mendengar ucapan sang istri yang tiba-tiba. Tidak ada angin, tidak ada hujan, dia langsung mengajak untuk bulan madu.


Permintaan apalagi yang dilakukan ibu hamil satu ini?


__ADS_2