
Neta benar-benar berada dalam dilema. Jika ditanya, dia memiliki sedikit rasa pada Dathan, tetapi dia harus sadar jika urusannya dengan Dathan adalah wawancara. Bukan perihal cinta. Teman-temannya sudah berpesan. Jadi mencoba-coba untuk menjalin cinta dengan klien apalagi masih bekerja sama. Tentu saja hal itu dikarenakan pasti akan berpengaruh dengan hasil wawancara.
“Apa Pak Dathan sadar jika saya mendekati Pak Dathan karena wawancara?” Neta mencoba menyadarkan Dathan. Siapa tahu itu dengan begitu Dathan mengurungkan niatnya.
“Aku tahu.” Dathan menganggukkan kepalanya.
Jawaban Dathan itu membuat Neta semakin bingung. “Pak Dathan tidak takut jika saya jawab iya lalu saya memanfaatkan untuk mendapatkan wawancara saja?” Neta tidak habis pikir. Dia pikir setelah disadarkan, Dathan akan menarik ucapan cintanya padanya.
“Tidak, kenapa harus takut?” Dathan tampak tenang sekali.
Neta terperangah dengan yang diucapkan Dathan. “Kenapa Pak Dathan tidak takut?” tanyanya.
“Karena aku yakin sekali, kamu tidak akan kuasa menahan pesonaku.” Dathan mengangsur tubuhnya. Membuat tubuhnya semakin dekat dengan Neta.
Neta memundurkan tubuhnya. Tubuh Dathan yang semakin mendekat memang membuat Neta semakin berdebar-debar. Jika dibilang dia tidak akan tahan dengan pesona Dathan, mungkin memang jawabannya iya. Entah kenapa Neta bisa jatuh pada pesona duda yang umurnya cukup jauh dengannya itu. Lima belas tahun itu bukan jarak yang dekat. Tentu saja itu adalah hal aneh.
Jika dilihat dari umur Dathan. Mungkin dia lebih cocok jadi pamannya. Namun, karena wajah Dathan yang tak menampilkan umur empat puluh tahu, dia tidak terlihat tua sama sekali.
Neta benar-benar bingung. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan jantungnya yang tak beraturan lebih dulu. Jika dia mengikuti alur yang dibuat Dathan, yang ada nanti dia bisa terbawa dan melakukan hal-hal gila.
“Pak Dathan jangan seperti itu.” Neta mendorong tubuh Dathan agar dapat menjauh. Cara ini yang dipilihnya untuk menyelamatkan jantungnya.
“Kenapa memangnya?” Dathan dengan polosnya bertanya. Dia cukup terkejut dengan Neta yang mendorong tubuhnya.
“Apa Pak Dathan sadar jika kita baru kenal. Lalu bagaimana bisa Pak Dathan menyukai saya?” Neta tidak mau langsung terjebak. Neta sudah pernah berpacaran, dan sebelumnya tidak seperti ini. Tidak langsung dalam hitungan waktu menyatakan cinta seperti Dathan. Dengan mantan kekasihnya itu, Neta melakukan pendekatan terlebih dahulu. Setelah itu barulah mereka jadian. Semua ada prosesnya.
“Instingku tidak pernah salah. Seperti halnya aku memikirkan sebuah bisnis akan berhasil, begitu pula dengan saat melihatmu.” Dathan menjelaskan bagaimana hatinya itu jatuh cinta pada Neta.
__ADS_1
Neta hanya terkesiap ketika disamakan dengan bisnis. “Tapi, apa harus Pak Dathan mengatakan secepat ini?” Neta merasa masih ragu dengan perasaan Dathan yang begitu cepat.
“Aku bukan anak muda, Ta. Jadi tidak bisa berlama-lama memendam rasa.” Dathan jujur apa adanya.
Neta menatap malas. Bagaimana bisa pria di depannya itu main tancap saja. Neta memaklumi jika mungkin pria seusia Dathan itu adalah orang yang tidak bisa bermanis-manis dan berbasa-basi lagi. Dathan pernah menikah, jadi tentu saja sebuah hubungan bukan main-main.
“Saya tidak bisa terima Pak Dathan, karena saya saja tidak tahu Pak Dathan seperti apa.” Neta tidak mau terjebak dalam pesona sang duda itu. Dia harus menjaga dirinya dengan hati-hati.
Dathan mengembuskan napasnya. Yang dihadapinya adalah anak muda. Jadi dia harus banyak-banyak bersabar ketika menghadapi Neta.
“Baiklah, kalau begitu kita saling mengenal dulu.” Dathan akhirnya mengalah. Lagi pula Dathan juga harus mengenal Neta lebih jauh juga. Jadi ketika nanti menjadikan Neta ibu dari Loveta, sudah tidak ada keraguan.
Neta berbinar. Dia sendiri juga ingin mengenal Dathan lebih jauh dulu. Seperti apa Dathan? Kenapa bisa bercerai? Atuu bagaimana kehidupan Dathan selama ini? Dia harus tahu dulu sebelum mengatakan
Namun, tiba-tiba pikiran Neta kembali pada wawancaranya. Dia mendekati Dathan untuk wawancara. Jadi jika dia sibuk mengenal Dathan yang ada dirinya bisa dipecat dari pekerjaanya.
Baru saja Dathan mengalah untuk berlama-lama dengan perkenalan dulu, sekarang sudah disodori dengan syarat saja. “Apa syaratnya?” tanya Dathan yang ingin tahu.
“Saya ingin wawancara Pak Dathan dulu, baru kita saling mengenal satu dengan yang lain.” Terserah dibilang memanfaatkan. Memang kenyataannya memang benar.
Dathan mengembuskan napasnya. Jika wawancara dulu artinya semakin lama mereka akan jadian. Sungguh Dathan diuji dengan permintaan Neta itu. Dia memikirkan bagaimana caranya untuk tidak akan menghabiskan banyak waktu.
“Bagaimana kita wawancara sambil saling kenal satu dengan yang lain?” Dathan seorang pebisnis. Dia harus mengambil strategis yang benar untuk segala hal.
Neta menautkan alisnya. “Bagaimana caranya?” Dia merasa takut tidak konsentrasi jika dikerjakan secara bersamaan.
“Satu-satu.” Dathan memberikan ide.
__ADS_1
“Satu-satu?” Neta merasa bingung dengan ide Dathan.
“Artinya satu pertanyaan wawancara, satu pertanyaan untuk kita. Kamu bertanya padaku, dan aku bertanya padamu tentang kehidupan kita.” Dathan menjelaskan pada Neta.
Neta mulai mengerti. Dia menimbang apakah itu menguntungkan atau tidak. Dia pun merasa jika memang itu jauh lebih baik. Istilahnya, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
“Nanti jika kamu memintaku menunjukan sesuatu, kamu harus menujukan juga.” Kembali Dathan melanjutkan ucapannya.
Mendengar ucapan Dathan seketika Neta menutupi tubuhnya dengan tangan. Dia seketika takut ketika diminta menunjukan anggota tubuhnya.
Dathan seketika tertawa. Benar-benar lucu sekali wajah polos Neta. “Maksud aku bukan anggota tubuh. Jika itu aku akan menunggu sah dulu.” Dathan menyeringai.
Neta malu sekali. Otaknya sudah traveling ke mana-mana.
Dathan tersenyum melihat wajah malu Neta.
“Maksudku, jika kamu memintaku menunjukan tempat kerja, atau toko, kamu harus menunjukan juga padaku. Kamu bisa menunjukan kosmu atau tempat yang sering kamu datangi.” Dathan menjelaskan lebih terperinci.
Akhirnya Neta mengerti apa yang dijelaskan oleh Dathan. “Baiklah.” Dia mengangguk.
“Berarti kita sepakat?” Dathan mengulurkan tangannya. Terbiasa berbisnis dan mengakhiri dengan kesepakatan sebelum kerja sama dimulai, Dathan pun melakukan hal yang sama. Dia meminta Neta untuk berjabat tangan tanda mereka setuju dengan satu dengan yang lain.
Neta pun dengan semangat menjabat tangan Dathan. “Sepakat.” Dia setuju dengan semua yang diminta Dathan. Jika begini urusan hati dan pekerjaan bisa berjalan dengan seimbang. Neta benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya. Bisa-bisanya dia melakukan hal gila seperti ini.
Mereka berdua tersenyum ketika kesepakatan sudah dibuat. Jadi tinggal melaksanakannya saja.
Neta berusaha menarik tangannya, tetap Dathan berusaha untuk menahannya. Neta beralih menatap Dathan. Tatapannya seolah menyiratkan jika dia meminta Dathan melepaskan tangannya. Namun, yang ada Dathan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
__ADS_1