
Loveta bangun lebih awal. Dia melihat ke arah papa dan maminya. Sebuah kecupan mendarat di pipi keduanya. Hal itu membuat Neta yang merasakan kecupan itu terbangun. Saat membuka mata, Neta melihat sang anak yang sedang sibuk menciumnya.
Neta memeluk Loveta sambil mendaratkan kecupan di pipi sang anak. Merasa senang sekali karena baru saja dicium oleh anaknya.
“Mami bangun?” Loveta menatap Neta yang sedang memeluknya.
“Iya, Mami bangun karena merasakan kecupan di pipi.”
“Iya, Lolo cium.” Loveta tersenyum polos.
Neta pun segera memeluk sang anak. Gemas sekali.
“Mami bangun dicium, papa tidak?” Loveta melihat ke arah sang papa. Sayangnya, papanya tidur dengan pulas. Hingga membuat Loveta bertanya.
“Coba cium lagi.” Neta pun meminta sang anak membangunkan papanya dengan cara dicium. Siapa tahu dengan begitu sang papa akan bangun.
Loveta mendongakkan kepalanya dan segera mencium papanya. Mendaratkan kecupan di pipi sang papa. Sayangnya, satu kecupan tidak membuat sang papa bangun. Sang papa masih tertidur pulas.
“Coba Mami cium.” Loveta yang merasa kecupannya tidak mempan pun memilih meminta Neta untuk menciumnya.
Neta hanya tersenyum. Dia menuruti keinginan sang anak. Segera mendaratkan kecupan di pipi sang suami. Kali ini Dathan langsung membuka matanya ketika sang istri menciumnya. Neta yang melihat suaminya bangun pun langsung memundurkan tubuhnya.
“Kalian.”
Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang anak. Mengingat sang anak yang lebih dekat. Loveta pun berteriak dan tertawa. Bulu halus di rahang sang papa memang membuat Loveta geli.
“Papa bukan Lolo yang bangunkan.” Loveta tidak mau disalahkan.
__ADS_1
“Lalu siapa?” Dathan masih terus menciumi anaknya bertubi-tubi.
“Mami yang salah.” Loveta melempar kesalahan pada sang mami.
Dathan langsung melepaskan kecupan pada anaknya. Loveta yang terlepas dari sang papa pun memilih berangsur bangun. Memberikan ruang pada papanya agar dapat membalas maminya.
Dathan tanpa menunggu lama mendaratkan kecupan di pipi Neta. Membuat Neta tertawa dan berusaha melepaskan diri.
“Sayang.” Neta berusaha untuk melepaskan diri.
Loveta begitu senang. Hingga membuatnya tertawa. Dia senang maminya merasakan hal yang sama dengannya tadi.
“Terus, Papa.” Loveta memberikan aba-aba pada sang papa.
Suara Loveta itu menjadi penyemangat untuk Dathan mencium sang istri. Neta yang mendapatkan kecupan bertubi-tubi pun berteriak terus. Hingga akhirnya Dathan melepaskan ketika mendengar suara sang anak. Dathan menatap Neta. Neta yang masih terengah-engah menatap sang suami. Dathan memberikan kode pada sang istri untuk mencium sang anak.
Neta yang mendapatkan kode pun segera mengerti. Tanpa menunggu lama, mereka berdua mendaratkan kecupan di pipi Loveta. Membuat Loveta berteriak.
...****************...
Neta sibuk merapikan rambut Loveta mengikatnya menjadi dua sesuai dengan keinginan Loveta. Setelah pagi tadi mereka bercanda ria, mereka pergi untuk bersiap. Loveta tadi dibantu asisten rumah tangga untuk mandi. Di saat itu Neta juga tengah bersiap. Setelah selesai, barulah Neta menyusul sang anak dan membantunya untuk bersiap.
“Lolo senang sekali Mami Neta di sini. Nanti Lolo akan cerita dengan Leo kalau sekarang Lolo punya mami.”
Neta tersenyum menatap Loveta yang begitu bersemangat sekali menceritakan kebahagiaannya. Dia berharap kelak kebahagiaan itu akan ada untuk keluarganya. Agar Loveta tumbuh dengan baik.
“Boleh cerita, tetapi tidak boleh berlebihan. Karena berlebihan itu tidak baik.” Neta memberitahu anaknya.
__ADS_1
“Siap, Mami.”
Neta terus merapikan rambut sang anak. Kali ini Loveta begitu ceria. Jadi wajahnya terlihat bersinar sekali. Mungkin ini adalah efek dari kebahagiaan yang sedang dirasakan.
“Sayang, pasangkan ini.” Dathan datang ke kamar anaknya dengan membawa dasi.
Neta yang mendengar suara Dathan segera mengalihkan pandangannya. Melihat sang suaminya yang belum rapi sama sekali. Neta hanya memicingkan matanya saja. Dia sedikit heran. Suaminya padahal duda selama lima tahun. Artinya selama lima tahun itu dia memakai dasi sendiri. Namun, baru dua hari dirinya ada, sang suami sudah tidak bisa memakai dasi. Tentu saja itu sangat lucu sekali.
“Sayang, Lolo bersama bibi dulu, tunggu Mami di sana.” Neta membelai lembut rambut Loveta.
“Iya, Mami.” Loveta mengangguk. Dia segera keluar untuk bersama asisten rumah tangga menunggu mami dan papanya.
Neta segera menghampiri sang suami. Tepat saat di depan sang suami, dia meraih dasi yang dibawa sang suami. Tak butuh waktu lama, dia melingkarkan dasi di kemeja sang suami.
“Apa ingatan lima tahun pakai dasi bisa terhapus dalam dua hari?” Neta tersenyum sambil menggoda sang suami. Dia yakin sang suami bisa memakai sendiri.
“Iya, tiba-tiba aku lupa ingatan.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang istri.
Neta hanya bisa tersenyum. Sungguh suaminya benar-benar mengemaskan sekali.
“Isi kepalaku hanya dipenuhi dengan seorang Neta. Jadi aku lupa segalanya.” Dathan merayu sang istri yang sedang asyik memasang dasi.
“Jangan mengada-ada. Kamu tidak lupa makan. Jadi tidak mungkin isi kepalamu dipenuhi dengan aku.” Neta tidak akan percaya semudah itu. Apalagi sang suami menggodanya.
“Makan itu kebutuhan yang tidak bisa dilupakan, apalagi sekarang aku punya tambahan makanan.” Dathan membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya di telinga Neta. “Memakan kamu.”
Pipi Neta seketika menghangat. Suaminya selalu saja bisa membuat dirinya salah tingkah.
__ADS_1
“Sudah diamlah. Cinta sudah menunggu.” Neta menegakkan tubuh sang suami.
Dathan hanya tersenyum saja. Karena mereka harus segera berangkat bekerja. Tentu saja dia tidak bisa terus menggoda sang istri. Yang ada nanti anak dan istrinya terlambat.