
Neta sejenak mengingat jika Adriel pernah mengantarkannya ke kantor Dathan. “Apa kamu melihatnya?”
“Aku tidak melihatnya, tetapi aku tahu kamu diantar oleh seorang pria.” Dathan menjelaskan apa yang dilihatnya itu. Dathan juga tidak pernah tahu jika ternyata dia pernah bertemu dengan pria yang menjadi mantan kekasih Neta itu.
Neta benar-benar tidak menduga jika Dathan menyadari hal itu. Dia pikir saat itu jika Dathan menyadari, pasti pria itu akan bertanya pada Neta. Namun, pria itu tidak menanyakan sama sekali padanya.
Dari wajah Neta yang cukup terkejut membuat Dathan menyadari jika memang pria itu adalah mantan kekasih Neta.
“Jadi dia kembali ke kantormu lagi atau kebetulan kamu bertemu dengannya?” Dathan mencoba memastikan kembali. Dia ingin tahu bagaimana Neta bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
“Dia menggantikan manajerku karena manajerku akan pindah ke luar kota. Tadinya aku benar-benar terkejut ketika dia datang, karena dia memang tidak pernah mengatakannya.” Neta menjelaskan pada Dathan bagaimana Adriel ke kantornya.
Dathan cukup khawatir ketika melihat Neta dekat dengan mantan kekasihnya yang merupakan teman sesama tinggal di panti asuhan. Namun, Dathan tidak bisa egois saat Neta dekat dengan mantannya, karena dirinya juga berhubungan dengan mantannya-mama dari Loveta.
“Apa kamu tidak suka aku dekat dengannya?” Neta mencoba memastikan kembali. Dia tidak mau ada yang menganjal jika sampai mereka menjalin hubungan.
“Aku tidak masalah. Seperti aku dan mantan istriku yang berhubungan, pastinya kamu juga seperti itu. Ada alasan untuk masih bersinggungan dengan mereka.” Dathan tersenyum.
Neta tersenyum. Memilih pria dewasa memang memiliki kelebihan. Mereka lebih matang memikirkan sesuatu. Mengambil aspek di sekitar tanpa terlalu banyak menggunakan ego. Neta benar-benar dibuat semakin jatuh cinta dengan pria di depannya itu.
“Pacar sudah, lalu kita ke kehidupanmu.” Dathan memilih untuk beralih membahas yang lain. “Kamu tinggal dari kecil di panti asuhan?” Dia mencoba berhati-hati sekali ketika bertanya. Ini adalah topik sensitif.
__ADS_1
“Kata ibu, Beliau menemukan aku di depan panti asuhan. Umurku sekitar satu minggu. Sejak saat itu aku dirawat di panti asuhan. Mungkin bisa dibilang sejak kecil aku tinggal di sana.” Neta tersenyum tipis. Menyembunyikan rasa sakit dan kecewanya.
Dathan tidak percaya Neta bisa menyelipkan senyuman di bibirnya. Padahal mungkin ini sangat menyakitkan untuknya.
“Ibu memberikan nama aku Marsya Kineta yang artinya wanita yang enerjik.” Neta tertawa. “Dan, benar. Aku benar-benar jadi wanita yang enerjik.” Terkadang nama adalah doa. Jadi harapkan orang tua pada semua nama adalah doa mereka yang diselipkan.
“Pasti ibu tidak mau melihat kamu bersedih. Berharap kamu selalu bersemangat dalam hidup.” Dathan ikut tersenyum. Senyum Neta menular padanya. Sungguh memang Neta bisa membuat orang-orang sekitar bahagia.
“Mungkin, tetapi terkadang aku tak seenerjik itu. Ada kalanya aku lelah. Hingga membuat aku terdiam dan mengurung diri. Ibu punya banyak anak di panti asuhan yang harus diurus. Jadi aku tidak pernah mau membebani. Semua rasa sedih selalu aku simpan rapat. Dan hanya Kak Adriel dan Maria yang menjadi tempatku berkeluh kesah.” Neta menceritakan seberapa penting mereka berdua bagi Neta.
Mendengar nama itu, seketika Dathan merasa dejavu. Seolah pernah mendengarnya, tetapi entah di mana. Kembali pada dua nama yang disebut Neta, ternyata mereka adalah dua hal penting dalam hidup Neta. Dathan tidak bisa memungkiri itu. Dia adalah orang yang belakangan datang, jadi dia harus menyadari itu.
“Aku ingin menjadi seperti Adriel atau Maria untukmu, tetapi sayangnya aku tidak akan membuatmu berkeluh kesah padaku Aku akan membuat kamu bahagia sampai tidak ada tempat untukmu bersedih.” Dathan mengeratkan genggaman tangannya.
“Jika kamu percaya padaku aku akan membuktikan jika aku tidak akan membuatmu bersedih.” Dathan menyakinkan Neta.
Neta tersenyum. “Kita lihat saja.”
Dathan bertekad, dia akan membuktikan pada Neta. Jika kelak dia akan membuktikan jika dia tidak akan membuat Neta menangis.
“Sudah berapa pertanyaan kita?” Neta mencoba mengingatkan Dathan. Sudah banyak pertanyaan yang diajukan oleh Dathan. Jadi kesempatan pasti sudah tinggal sedikit.
__ADS_1
Dathan tersenyum. Dia sudah tidak menghitungnya. Baginya bukan berapa jumlah pertanyaannya, tetapi tentang jawabannya. Dia merasa semua yang ditanyakan olehnya sudah cukup. Cukup untuk meyakinkan jika Neta wanita yang tepat untuknya. “Entah, anggap saja sudah empat belas.” Dia tidak mau mengambil pusing.
“Berarti tinggal satu pertanyaan lagi.” Neta bertanya menyeringai. Jika tinggal satu pertanyaan, tentu saja itu sesuatu yang mudah.
“Iya.” Dathan mengangguk.
“Oke, berikan pertanyaanmu lagi.” Neta begitu penasaran pertanyaan terakhir yang akan diberikan oleh Dathan. Dia mencoba menebak-nebak, tetapi tidak ada yang terlintas di pikirannya.
“Tunggu.” Dathan mengajak Neta untuk berdiri.
Neta merasa bingung, tetapi mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Dathan. Dathan menariknya ke pinggir kolam renang di mana lautan terlihat. Neta merasa heran dengan yang dilakukan Dathan. Untuk apa pria itu membawanya untuk melihat lautan. Apalagi sedari tadi lautan malam tak ada yang istimewa, karena terlihat gelap.
Saat mereka berdua menatap ke arah laut, tiba-tiba ada kembang api yang terlihat di tengah gelapnya langit. Neta yang melihat kembang api begitu terpukau. Kembang api menghiasi langit malam yang gelap gulita, dan pemandangan itu begitu sangat indah. Warna-warni percikan api itu menghiasi lautan, membuat Neta tak beralih sama sekali memandangi kembang api di depannya, karena begitu mengagumkannya saat kembang api terlihat menghiasi langit malam ini. Bersama Dathan, dia melihat kembang api yang ada di depan mereka.
Tepat saat kembang api yang berbentuk love melesat ke udara, Dathan melepaskan tangan Neta. Neta yang menyadari itu langsung beralih pada Dathan. Pria itu berlutut di hadapan Neta.
“Masya Kineta, maukah kamu menjadi pendampingku, menjadi ibu untuk anak-anakku, dan menemani hari tuaku.” Satu pertanyaan terakhir yang Dathan berikan pada Neta. Pertanyaan spesial untuk Neta.
Neta menutup mulutnya yang terbuka karena begitu terkejutnya. Neta pikir kembang api yang tadi adalah pertunjukan dari pihak hotel, tetapi saat melihat kembang api berbentuk love dan Dathan berlutut di hadapannya, dia pun menyadarinya. Jika semua sudah disiapkan Dathan.
Dathan yang berlutut membuka kotak yang berisi cincin. Dia benar-benar serius dengan hubungan ini. Kelak setelah ini, dia akan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
__ADS_1
Neta benar-benar tidak percaya jika Dathan bukan lagi memintanya untuk menjadi kekasih, melainkan untuk menjadi istri dan ibu anak-anaknya. Neta memang sudah jatuh cinta sejak awal pada Dathan. Mengenal Dathan lebih dalam, membuat Neta terperangkap jauh pada pesona duda tampan di depan itu.