Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menemui Kekasihku


__ADS_3

“Mau menemui kakasihku.”


Mendapati satu jawaban itu membuat Arriel terperangah. Arriel bak disambar petir mendengar jawaban jika Dathan sudah memiliki kekasih. Dia benar-benar terkejut dengan yang didengarnya. Apalagi dengan lantangnya Dathan mengatakan hal itu. Arriel tahu lima tahun ini, mantan suaminya tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Dia hanya fokus pada anaknya saja. Tanpa memikirkan hubungan dengan wanita. Namun, tampaknya sekarang sudah berbeda, pria itu telah menemukan seorang wanita penganti dirinya.


“Kamu sudah punya kekasih, Than?” Arriel memastikan yang baru didengarnya.


“Iya.” Tak ada keraguan dalam ucapan Dathan. Dia memang sengaja mengatakan ini agar Arriel tahu jika kini dirinya sudah move on. Sudah cukup lima tahunnya dibuang sia-sia dengan kesendirian. Kini dia akan menata hidupnya kembali.


Arriel masih tidak percaya. Walaupun dia sudah yakin hal ini akan terjadi, tetapi tetap saja dia merasa sakit. Lima tahun ini juga dia fokus membangun bisnisnya. Begitu pun dengan Dathan. Dia sibuk dengan perusahaan dan anaknya. Jadi boleh dibilang Dathan tidak punya waktu untuk bersama wanita. Apalagi ada anaknya.


“Aku pergi dulu, titip Cinta.” Dathan segera mengayunkan langkahnya keluar dari rumah.


Arriel hanya terdiam saja ketika melihat Dathan pergi. Dia masih benar-benar tidak percaya dengan yang didengarnya.


“Dia sudah move on?” Arriel masih tidak percaya. Dadanya seketika terasa sesak ketika mendapati jika mantannya sudah bisa move on lebih dulu.


Arriel segera meminum teh miliknya. Berharap itu dapat sedikit melegakannya. Sesaat kemudian dia berlalu ke kamar Loveta. Dia mengecek keadaan anaknya.


Saat masuk ke kamar, lampu tampak temaram. Hanya lampu tidur saja yang menyala. Arriel mengayunkan langkahnya mendekat ke tempat tidur sang anak. Dengan perlahan dia mendudukkan tubuhnya. Tangannya langsung membelai lembut rambut Loveta.


“Mama tidak menyangka jika sekarang kamu sudah besar.” Melihat Loveta yang tumbuh dengan cepat membuatnya menyadari jika waktu bergulir dengan cepatnya. “Sepertinya mama sudah membuang banyak waktu.” Arriel sadar dengan semua yang dilakukan. “Mama mau menebus semua, Nak. Mama mau luangkan waktu untukmu.” Arriel sudah berjuang selama lima tahun membangun bisnisnya. Dia juga sudah bisa tampil di gelaran internasional seperti yang diimpikan. Semua mimpi-mimpinya sudah banyak yang terwujud. Dirinya yang tak mengenal lelah dalam bekerja sudah dapat menciptakan banyak hal dalam hidupnya. Sayangnya, semua kesuksesan itu harus mempertaruhkan kebahagiaan anaknya. Dia membiarkan anaknya terus bersama Dathan dan dirinya sibuk sendiri. Kini saat kesuksesan sudah diraih, dia ingin menebus semuanya kembali.


Satu kecupan mendarat di dahi Loveta. Dia tidak sabar bertemu dengan anaknya besok pagi. Memberikan hadiah yang dibelinya.


Saat melihat Loveta, Arriel masih memikirkan Dathan yang sedang menemui pacarnya. Jujur Arriel berada dalam dilema. Dia sedang ingin dekat dengan anaknya, tetapi tempatnya terancam akan tergeser. Akan ada ibu baru untuk Loveta, dan tentu saja dia belum siap untuk hal itu.


“Aku harus bicara dengan Dathan.”

__ADS_1


...****************...


Suara ketukan pintu terdengar. Neta yang sedang bersantai seusai pulang bekerja segera bangun dari tidurnya. Dia segera membuka pintu, mengecek siapa gerangan yang datang.


Senyum manis menyambutnya ketika membuka pintu. Senyum siapa lagi jika bukan senyum Dathan. Pria itu memenuhi janjinya untuk datang.


“Kamu benar-benar ke sini?” Neta pikir Dathan tidak akan benar-benar datang.


“Tentu saja aku akan datang.” Dathan tidak akan melepaskan kesempatan ini. Apalagi rindunya pada Neta selalu membuatnya gelisah.


“Ayo masuk.” Neta melebarkan pintu.


Dathan masuk ke kamar Neta. Baru kali ini dia datang malam-malam ke kos perempuan. Rasanya sedikit aneh, tetapi sensasinya mendebarkan.


Dathan menoleh ke arah belakang di mana Neta sedang menutup pintu. Kekasihnya itu tampak lucu memakai piyama strowbery. Dathan seperti melihat anaknya saja.


“Bawa apa kamu?” Neta melihat Dathan yang membawa bungkusan sesuatu. Hal itu menarik perhatiannya.


“Aku bawa kue.” Dathan menunjukkan bungkusan yang dibawanya.


“Ayo kita makan kalau begitu.” Neta mengayunkan langkahnya. Tangannya melingkar di lengan Dathan. Mengajaknya untuk duduk di sofa.


Saat melintas di dapur, di berbelok. Mengambil piring kecil untuk mereka makan. Dathan terus mengayunkan langkahnya menuju ke sofa. Mendudukkan tubuhnya di sana. Kue yang dibawanya diletakkan di atas meja. Menunggu Neta untuk menikmatinya.


“Cinta sudah tidur?” tanya Neta yang menghampiri Dathan. Dia segera duduk dan membuka kue yang dibuka Dathan. Tangannya dengan cekatan memotong kue dan meletakkannya di piring kecil.


“Sudah, jika tidak mana mungkin aku bisa ke sini.” Dathan tersenyum.

__ADS_1


Neta memberikan piring berisi kue pada Dathan. Sayangnya, Dathan menggeleng. Neta hanya tersenyum saja ketika melihat hal itu. Seperti sudah tahu isi pikiran Dathan, dia langsung meraih sendok dan menyuapi Dathan.


Dathan segera membuka mulutnya. Dia memang menginginkan disuapi oleh Neta. Beruntung Neta mengerti. Neta pun memakan kue dari sendok yang sama. Menikmati kue yang dibawanya.


“Bagaimana pekerjaanmu?” Dathan mengisi keheningan dengan mengobrol.


“Seperti biasa.” Neta menjawab sambil mengunyah kue. Namun, seketika dia teringat sesuatu. “Sabtu besok, aku ada pekerjaan.”


Dathan membulatkan matanya. Baru juga mereka jadian, dan sabtu besok adalah minggu pertama mereka menjadi sepasang kekasih, tetapi Neta justru ada pekerjaan.


“Memang pekerjaanmu tidak bisa ditunda?” Dathan tampak kecewa.


“Tidak bisa, aku harus meliput acara ulang tahun perusahaan Adion Company.” Neta mencoba menjelaskan.


“Adion Company perusahaan konstruksi itu?” Dathan memastikan.


“Iya, kami dapat undangan khusus. Sebelum acara kami akan wawancara. Setelah itu baru liputan pesta.” Neta tadi sudah dikirimi jadwal oleh Adriel. Acara pesta dimulai jam tujuh, tetapi jam dua belas mereka dapat wawancara eksklusif dengan pemilik Adion Company-yaitu Bryan Adion.


“Lalu malam minggu kita?” Dathan masih belum rela jika harus malam minggu sendirian.


“Pesta selesai jam sembilan. Mungkin aku akan keluar jam sepuluh malam.” Neta tidak yakin bisa malam minggu dengan Dathan.


“Kalau begitu aku akan ikut kamu wawancara.” Dathan langsung memberikan ide.


“Kamu jangan bercanda. Aku ke sana untuk kerja.” Neta mencoba membujuk Dathan. Merasa jika Dathan berlebihan.


Dathan hanya tersenyum melihat wajah kekasihnya yang pucat itu. Dia tidak akan benar-benar ikut, apalagi Neta pergi untuk berkerja.

__ADS_1


“Baiklah.” Dathan akhirnya mengalah. Sekali pun Neta tidak mengajaknya, dia akan tetap ke sana. Nanti, dia akan tanya pada Reno apakah ada undangan untuknya. Dathan pernah bekerja sama dengan Adion untuk membangun toko barunya, tentu saja dia pasti akan dapat undangan. Ini justru akan jadi kejutan untuk Neta.


__ADS_2