Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Mengantar Majalah


__ADS_3

“Jadi Cinta pulang?” Suara Neta di seberang sana memastikan setelah mendapatkan cerita jika Loveta pulang.


“Iya, dan hari ini sepertinya aku tidak bekerja. Aku mau menunggu Cinta. Apa kamu tidak apa-apa jika nanti pulqng sendiri?” Beberapa hari menjemput Neta membuat Dathan memang begitu khawatir dengan Neta.


Tawa Neta terdengar dari seberang sana.


“Aku tidak apa-apa pulang sendiri. Tenang saja.”


Dathan lupa jika Neta adalah wanita mandiri. Jadi harusnya memang tidak masalah ketika dirinya tidak menjemput.


“Baiklah, kabari jika kamu pulang nanti.”


“Iya, aku akan kabari nanti.”


Dathan mematikan sambungan teleponnya. Dia segera masuk ke kamar. Tampak anaknya sedang bermain boneka di atas tempat tidur. Dia masih lemas dan ingin bermalas-malas di atas tempat tidur.


“Cinta.” Dathan naik ke atas tempat tidur. Memeluk sang anak.


“Papa.” Loveta memeluk sang papa.


Merasakan pelukan itu Dathan mengeratkan pelukannya. Tangannya membelai lembut rambut sang anak.


“Lolo tidak mau tinggal di rumah mama lagi.” Loveta mengungkapkan isi hatinya.


Saat sang anak membahas sang mantan istri, Dathan menjauhkan tubuhnya. Menjangkau wajah sang anak. “Memangnya kenapa?”


“Pagi-pagi Lolo harus lari-lari saat ke sekolah. Mama terlambat antar jadi harus lari. Mama juga tidak berhenti bekerja ketika Lolo panggil.” Selama ini Loveta berusaha mengerti sang mama, tetapi dia belum terbiasa. Apalagi dia terbiasa dengan sang papa.

__ADS_1


Dathan memang selalu memerhatikan anaknya. Dia selalu bangun lebih awal dan membangunkan sang anak agar bersiap sekolah. Tidak pernah Loveta terlambat. Tentu saja hal itu menjadi hal baru untuk Loveta, dan terasa sulit untuknya. Apalagi Dathan adalah tipe yang mendengarkan. Jadi Loveta senang ketika bercerita. Karena papanya akan berhenti mengerjakan pekerjaannya untuk sejenak mendengarkan. Barulah setelah itu, Dathan memberikan pengertian pada anaknya. Jika dia harus bekerja. Lolo selalu mengerti hal itu. Apalagi papanya sudah mendengarkannya, jadi dia membalas sang papa dan mendengarkannya gantian.


“Mama hanya belum terbiasa, Cinta.” Tangan Dathan membelai lembut.


“Tapi, Lolo tidak mau tinggal dengan mama. Lolo mau tinggal dengan papa saja.” Loveta memang merasa tidak nyaman. Dia lebih nyaman dengan papanya.


“Cinta, mama dan papa itu sama. Sama-sama sayang. Jadi Cinta juga harus sayang keduanya. Dengan siapa pun Cinta tinggal, mereka akan berusaha dengan baik membuat Cinta senang. Mama hanya belum biasa saja. Mama masih harus belajar banyak. Jadi Cinta harus dukung terus. Seperti halnya Cinta yang selalu berusaha, mama juga sedang berusaha.” Dathan berusaha untuk menjelaskan pada anaknya. Terkadang Dathan kasihan karena anaknya harus mengerti keadaan sekitar. Hidup dengan orang tua yang terpisah bukan hal mudah. Dathan mengerti sekali.


“Lolo mau tinggal dengan mama, tapi di hari libur. Jika sekolah, Lolo tidak mau. Lolo tidak mau terlambat diantar dan dijemput.” Loveta masih memberikan persyaratannya. Di waktu sekolah memang dia lebih nyaman dengan sang papa.


“Baiklah, kalau memang Cinta mau seperti itu.” Dathan berusaha untuk mengerti. Dia harus mencari celah nyaman untuk anaknya. Hal ini nanti akan dibicarakannya pada Arriel nanti.


...****************...


“Ta, dipanggil Pak Adriel ke ruangannya.” Seorang teman memberitahu Neta.


Neta segera ke ruangan Adriel. Sebelum masuk, dia mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat mendengar suara dari dalam, Neta segera mendorong perlahan pintu.


“Pak Adriel memanggil saya?” tanya Neta.


“Iya, aku memanggilmu.” Adriel membenarkan ucapan Neta.


Neta masuk ke ruangan Adriel. Dia segera duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Adriel.


“Ada apa Pak Adriel memanggi?” Neta merasa penasaran. Ada apa gerangan Arriel memanggilnya.


“Ini majalah minggu depan sudah selesai cetak. Kamu bisa berikan pada Pak Dathan lebih dulu untuk dicek. Jika ada revisi, tolong segera kabari.” Adriel memberikan sebuah majalah pada Neta.

__ADS_1


Neta melihat majalah di depannya. Matanya terperangah ketika melihat sang kekasih hati ada di majalah tersebut.


Astaga, kekasihku setampan ini? Rasanya aku tidak mau berbagi dengan yang lain.


Neta mengagumi Dathan dalam hatinya. Sungguh Dathan terlihat begitu tampan sekali.


Adriel melihat bagaimana Neta memandangi Dathan, hal itu membuatnya merasa aneh.


“Ta, kamu kenapa?” Adriel yang penasaran langsung bertanya.


“Tidak apa-apa.” Neta langsung menggelengkan kepalanya.


“Kalau bisa kamu berikan ini secepatnya.” Adriel memberikan perintah pada Neta.


“Jadi aku harus bertemu Pak Dathan hari ini?” Neta memastikan. Dia merasa senang sekali jika diberikan kesempatan untuk bertemu Dathan.


“Tentu saja kamu harus bertemu dengannya. Kamu bisa pergi siang ini. Tanyakan jika ada yang harus direvisi.”


Binar kebahagiaan terpancar jelas. Sungguh dia benar-benar senang jika punya kesempatan untuk bertemu Dathan. Apalagi dia sudah merindukan Loveta.


“Baiklah, saya akan bertemu dengan Pak Dathan. Nanti saya kabari jika ada yang perlu direvisi.” Neta meraih majalah yang diberikan oleh Adriel di atas meja.


“Iya.” Adriel mengangguk.


Neta segera keluar dari ruangan Adriel. Dia membawa serta majalah yang diberikan Adriel padanya.


Adriel melihat ke arah Neta yang sedang keluar dari ruangannya. Sungguh dia merasa aneh dengan sikap Neta. Tampak Neta begitu senang sekali diminta untuk bertemu dengan Dathan.

__ADS_1


“Apa jangan-jangan ... tidak-tidak. Mana mungkin Neta menyukai pria itu.” Adriel menyingkirkan pikirannya itu.


__ADS_2