
Seusai acara akad nikah, Neta dan Dathan bersiap untuk acara resepsi. Penata rias kembali memoles wajah Neta. Karena untuk acara resepsi tampilan make up lebih terang dibanding waktu akad yang minimalis.
Dathan pun sedang bersiap kembali. Dia mengenakan jas yang serasi dengan gaun yang dipakai oleh Neta. Perasaan Dathan sudah jauh lebih tenang dibanding tadi saat akad nikah. Apalagi ini hanya tinggal resepsi saja. Artinya ini puncak dari rangkaian acara.
Arriel yang tadi tidak datang di acara akad menemui Neta dan Dathan yang tengah bersiap. Dia ingin mengantarkan Loveta sekaligus memberikan ucapan selamat.
“Papa.” Saat masuk ke kamar, Loveta langsung berteriak memanggil papanya.
Dathan langsung menyambut anaknya dengan pelukan. Neta yang berada di sebelahnya membelai lembut rambut panjang Loveta.
Arriel menghampiri Dathan dan Neta. “Selamat untuk pernikahan kalian.” Dia mengulurkan tangannya pada Dathan.
“Terima kasih.” Dathan mengangguk.
“Selamat, Neta. Semoga pernikahan kalian bahagia.” Arriel memberikan ucapan selamat pada Neta.
“Terima kasih, Kak.” Neta tersenyum. Dia sedikit mengingat jika tadi Arriel tidak ada di acara akad nikah. Entah apa pun alasannya, dia menghargai itu. Neta sadar, melihat mantan suami menikah lebih dulu tentu saja tidak semudah itu, walaupun mungkin sudah tidak ada perasaan cinta lagi.
Pihak wedding organizer memanggil Dathan dan Neta. Meminta mereka untuk segera ke ballroom hotel. Karena acara akan segera dimulai.
Dathan dan Neta pun segera bergegas ke ballroom hotel. Gaun kedua yang dipakai Neta kali ini potongannya lebih panjang. Jadi Neta cukup kesulitan untuk berjalan. beruntung ada Maria yang setia membantu mereka. Temannya itu membantu mengangkat gaun.
Mereka bersiap di depan ballroom hotel. Neta menggandeng Dathan yang berada di sebelahnya. Perasaan Neta masih tetap berdebar-debar. Karena ini menjadi pengalaman pertamanya. Dathan yang melihat hal itu menggenggam erat tangan Neta. Menenangkan wanita yang kini jadi istrinya itu.
Di belakang Dathan dan Neta ada anak-anak yang berjajar sebagai pengiring pengantin yang berpasang-pasangan. Mereka begitu mengemaskan sekali. Ada Loveta dan Liam yang berpasangan, dan juga ada anak-anak panti lainnya yang saling berpasangan.
“Apa aku cantik, Kak Liam?” Loveta menatap Liam. Menanyakan pendapat pria kecil itu.
Liam tersenyum. “Kamu cantik.”
Pembawaan Liam yang tenang selalu saja dapat membuat orang di sekitar ikut tenang. Hal itu juga turut membuat Loveta begitu senang ketika mendapati jawaban dari Liam.
“Nanti kalau aku besar, aku mau menikah seperti papa dan mami.” Loveta berceloteh ria. Dia yang melihat Neta dan Dathan memang begitu senang.
“Sekolah dulu, kerja, baru menikah.” Liam memberitahu Loveta.
“Iya, nanti sekolah dulu, kerja dulu, baru menikah.” Loveta pun mengatakan apa yang dikatakan Adriel. “Nanti Kak Liam mau menikah denganku?” Anak-anak memang polos. Dia tidak tahu menikah seperti apa. Mereka pikir, menikah adalah sebuah permainan putri dan raja saja.
Liam tersenyum lebih lebar. “Jika tidak ada yang mau menikahmu, aku akan menikahimu.” Di usia sepuluh tahun, Liam jauh lebih dewasa dibanding usianya. Maklum, keadaan memaksanya untuk lebih cepat dewasa.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mencarimu nanti.”
Obrolan absurd dari dua anak kecil yang mendefinisikan tentang pernikahan sesederhana itu memang terdengar lucu. Kelak saat mereka dewasa, mereka akan menyadari apa yang mereka katakan saat kecil.
Pintu ballroom dibuka. Dathan dan Neta berjalan menyusuri karpet yang mengarah ke pelaminan. Kanan dan kiri terdapat tamu undangan yang duduk di kursi yang sudah disediakan. Karena memang hanya keluarga dan kerabat yang datang, tentu saja hal itu membuat tamu undangan tidak terlalu banyak.
Dathan dan Neta melebarkan senyum mereka ketika berjalan ke arah tempat pelaminan. Beberapa orang mengabadikan momen pernikahan Neta dan Dathan.
Neta dan Dathan terus berjalan ke pelaminan. Gaun panjang Neta tampak indah sekali ketika mereka menyusuri karpet. Anak-anak yang menjadi pengiring pengantin pun tampak begitu ceria sekali. Membuat suasana benar-benar semakin indah.
Neta dan Dathan menjalani serangkaian acara. Mulai memotong kue pernikahan, hingga mereka berdansa bersama. Mereka bergerak sesuai dengan alunan musik.
“Apa kamu bahagia?” Dathan menatap sang istri yang berdansa.
“Tentu saja aku bahagia.” Neta tersenyum.
“Aku janji aku akan membuatmu selalu bahagia.” Bagi Dathan, Neta adalah hidupnya. Tidak akan dia biarkan sedikit pun air mata mengalir di pipi Neta.
“Terima kasih.” Neta tersenyum.
Alunan musik yang mengiringi mereka berakhir. Jika biasanya akan ada ciuman di akhir dansa, tetapi karena kali ada banyak anak kecil, Dathan tidak melakukannya. Tak masalah, dia bisa melakukannya nanti saat berdua.
Tamu undangan satu per satu naik ke pelaminan. Mereka memberikan ucapan selamat pada Neta dan Dathan. Tampak Bryan Adion dan sang istri datang ke pernikahan Neta dan Dathan.
“Terima kasih sudah datang, Pak.” Dathan memang sengaja mengundang Bryan Adion. Itu karena mereka cukup dekat.
“Selamat.” Shea-istri Bryan pun juga memberikan ucapan selamat.
“Terima kasih.” Dathan tersenyum.
Bryan beralih pada Neta. Mengulurkan tangan pada Neta. “Lihatlah, baru aku mau menjodohkanmu dengan anak bungsuku, tetapi kamu sudah mendapatkan yang lain.” Dia menggoda Neta.
“Sepertinya Anda terlambat, Pak. Saya sudah terlanjut punya yang ini lebih dulu.” Neta melingkar lengannya di lengan Dathan.
“Baiklah, sepertinya memang aku terlambat, tetapi aku berharap kamu bahagia.” Bryan tersenyum.
“Terima kasih, Pak.” Neta menerima doa orang-orang yang datang. Berharap doa itu benar-benar terjadi padanya.
“Jangan didengar.” Shea yang berada di sebelah sang suami pun tersenyum pada Neta. Sejak awal dia sudah tahu jika Neta sudah punya kekasih, tetapi tidak menyangka jika itu adalah Dathan Fabrizio.
__ADS_1
“Sekali lagi selamat. Semoga cepat diberikan momongan.” Dia turun mendoakan sambil mengulurkan tangan.
“Terima kasih.” Neta tersenyum.
Tamu bergantian memberikan ucapan selamat. Beberapa dari mereka adalah keluarga jauh dari Dathan, sebagian lagi rekan kerja yang Dathan undang secara khusus. Selain itu Dathan juga mengundang beberapa teman sekolahnya. Tentu saja itu yang benar-benar dekat.
Saat menerima tamu undangan tampak sepasang suami istri yang datang untuk memberikan ucapan selamat.
“Selamat atas pernikahannya.” Pria itu mengulurkan tangannya pada Dathan.
“Sama-sama.” Dathan menerima uluran tangan dari tamu yang datang. Namun, saat melihat pria itu, dia merasa bingung. Siapa gerangan pria di depannya itu.
“Selamat.” Seorang wanita yang sedang mengandung mengulurkan tangan juga.
Pria yang selesai mengulurkan tangan beralih pada Neta.
Neta menatap pria yang sedang ingin mengulurkan tangan. “Dr. Dean.” Dia mengenali siapa gerangan pria di depannya.
Beruntung sekali Dean pengantin wanita mengenalinya. Jadi dia tidak terlalu malu. Pria yang datang ini adalah Dean dan Dearra-sang istri. Dean sengaja datang ke pernikahan untuk menuruti keinginan sang istri yang ingin makan kambing guling di pesta pernikahan. Setelah kemarin menanyakan pada Rowan-pemilik wedding organizer, dia mendapatkan undangan untuk datang.
“Iya, selamat untuk pernikahan kalian.” Dean mengulurkan tangan.
“Sama-sama.” Neta tersenyum.
Dearra pun juga memberikan selamat. Kemudian mereka berlalu bergantian dengan tamu yang lain.
“Apa kamu yang mengundangnya?” tanya Dathan.
“Tidak.” Neta menggeleng.
“Lalu bagaimana bisa datang?”
“Entah.” Neta menaikkan bahu tanda tidak tahu.
“Tapi, kamu kenal.”
“Tidak kenal, hanya tahu jika dia dokter jantung terkenal. Tadinya saat aku jatuh cinta padamu, aku berniat memeriksakan diri karena jantungku tidak baik-baik saja. Tapi, aku belum lakukan itu.” Neta tersenyum sambil menjelaskan.
“Lalu kenapa dia bisa masuk?”
__ADS_1
“Entah.”
Mereka berdua bingung bagaimana bisa mereka masuk ke pesta pernikahan. Karena memang undangan tidak diberikan sembarang orang. Namun, karena Dean adalah dokter terkenal, pastinya tidak sembarangan juga dia masuk ke pesta pernikahan orang.