Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Lolo Hilang


__ADS_3

Loveta dan Arriel menuju ke taman hiburan. Mereka menikmati waktu bersama. Mereka bermain bersama beberapa wahana. Loveta benar-benar senang sekali. Dia senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan sang mama.


“Lolo senang?” Arriel menatap anaknya.


“Lolo suka sekali.” Loveta tersenyum manis. Dia merasa senang sekali.


“Lolo haus?” tanya Arriel menatap sang anak.


“Iya, Lolo haus.” Loveta pun memegangi lehernya.


“Baiklah.” Arriel mengambil minum yang berada di dalam tas. Sayangnya, air di dalam botol miliknya sudah habis. “Sayang, kita beli minum dulu ya.” Karena habis, akhirnya dia memutuskan untuk membeli. Dia menarik tangan Loveta ke stand untuk membeli minuman.


Di depan stand minuman, Arriel sibuk mengambil uang di dompetnya, sedangkan Loveta melihat ke sekitar untuk melihat-lihat sekitar. Saat sedang asyik melihat sekitar, ada seorang anak yang memakai topi yang lucu sekali. Topi itu berbentuk kelinci. Telinganya bisa bergerak-gerak. Hal itu membuat Loveta penasaran. Tanpa sadar Loveta berjalan mengejar anak kecil yang memakai topi itu. Dia lupa jika tadi dia dan mamanya sedang membeli minuman.


“Sayang, ini minumnya.” Arriel menoleh ke samping di mana anaknya berdiri. Namun, alangkah terkejutnya ketika mencari anaknya tetapi tidak ada. Arriel seketika panik. Dia mengedarkan pandangannya. Memastikan keberadaan sang anak. Namun, tidak ada di sekitar.


“Lolo.” Arriel memanggil anaknya itu. Sayangnya tidak ada jawaban sama sekali. Jantung Arriel benar-benar berdebar-debar sekali. Bisa-bisanya anaknya hilang dari pengawasannya. Karena tadi sibuk mengambil uang dan membayar air minum yang dibelinya, dia tidak memerhatikan anaknya.


Arriel memutuskan untuk mencari ke sekitar. Dia berharap anaknya masih bisa ditemukan, dan tidak jauh dari tempatnya berada tadi.


Di saat sang mama sibuk mencari Loveta, gadis kecil itu sibuk mengikuti pria kecil itu. Loveta yang terus berjalan tidak menyadari jika dia sudah pergi jauh meninggalkan sang mama. Tepat saat pria kecil itu berhenti, Loveta menghampiri.


“Kelincinya lucu.” Loveta mengomentari topi yang dibawa anak tersebut.


Anak laki-laki itu sedikit terkejut. Namun, dia langsung tersenyum. “Kamu suka?” Dia membuat telinga kelinci bergerak-gerak.


“Lucu.” Loveta girang sekali. Dia merasa benar-benar lucu. “Apa boleh untukku?”


Pria kecil itu merasa bingung ketika Loveta meminta mainnya itu. Dia jarang sekali dapat mainan. Jadi ini adalah benda berharga untuknya.

__ADS_1


“Liam, kamu sedang apa?” Seorang pria bertanya sambil berjalan menghampiri pria kecil itu.


“Ini dia mau topi ini, Kak.” Pria kecil yang bernama Liam itu menunjuk ke arah Loveta.


Adriel melihat gadis kecil di depannya. Hari ini Adriel sengaja mengajak anak-anak panti untuk bermain ke taman hiburan. Dia ingin menyenangkan adik-adiknya. Mengingat sekarang dia mendapat banyak penghasilan sebagai manager.


“Hai, Cantik. Siapa namamu?” Adriel menatap gadis cantik di depannya itu.


“Loveta, dipanggil Lolo.” Dengan senyum manis, dia menjawab itu.


“Lolo, ke sini dengan siapa?” Adriel bertanya dengan lembut.


“Dengan mama.” Loveta masih santai menjawab.


“Lalu, mamanya mana?” Adriel jelas melihat Loveta sendiri. Jadi tentu saja dia bertanya.


“Mama ….” Loveta menoleh. Dia terkejut ketika mendapati tidak ada sang mama. Dia lupa jika tadi sang mama sedang membeli minum. “Tadi mama membeli minum, Lolo ikuti kakak karena mau topinya.” Dia menceritakan pada Adriel apa yang dilakukannya.


“Sepertinya, dia terpisah dari mamanya, Bu.” Adriel memberitahu pada ibu panti.


“Driel, antarkan dulu ke pusat informasi. Siapa tahu ibunya sedang panik.” Ibu panti pun memberitahu Adriel.


“Baik, Bu. Adriel akan antar dulu.” Adriel merasa jika pasti ibu dari anak ini sangat khawatir sekali. Jadi dia merasa apa yang dikatakan ibu panti ada benarnya.


“Kamu antar, ibu dan anak-anak akan menunggu di sini.” Ibu panti tersenyum.


“Baik, Bu.” Adriel mengangguk. Dia segera beralih pada Loveta. “Sayang, kita cari mama kamu dulu. Pasti dia sedang khawatir sekali.” Adriel mengulurkan tangannya.


Loveta mengangguk. Dia segera menerima uluran tangan pada Adriel. Mengikuti Adriel yang akan membawanya ke pusat informasi.

__ADS_1


“Tunggu.” Tiba-tiba Liam memanggil. Dia melepaskan topinya dan memberikannya pada Loveta. “Untuk kamu.” Dia memberikan topi itu untuk Loveta. Pria kecil itu bahkan memakaikannya.


“Terima kasih.” Loveta berbinar. Dia segera menerima topi yang diberikan oleh Liam.


“Sama-sama. Jangan pergi jauh-jauh dari orang tuamu. Karena itu akan membuatmu tidak akan bertemu mereka lagi.” Pria kecil yang usianya sepuluh tahun itu memberitahu Loveta.


“Iya.” Loveta mengangguk.


Adriel pun tersenyum. Anak-anak panti memang pintar. Karena mereka sering berbagi, jadi memberikan sesuatu pada orang lain, adalah hal yang biasa. Itu membuatnya bangga menjadi anak panti asuhan. Karena ibu panti mengajarkan banyak hal baik.


Akhirnya Adriel mengantarkan Loveta menemui mamanya. Dia tidak tega gadis kecil ini sampai terpisah dengan sang mama. Seperti Liam bilang, jika sudah berpisah, pasti akan sulit sekali bertemu kembali. Seperti yang Liam alami. Dulu Liam terpisah dengan sang ibu sewaktu umur tiga tahun. Anak keturunan asing itu, ditemukan dan akhirnya diantar oleh pihak kepolisian ke panti asuhan. Sejak itu, akhirnya Liam tinggal di panti asuhan. Tidak ada orang tua yang mencari Liam. Jadi akhirnya dia menetap di panti asuhan sampai usianya sudah sepuluh tahun.


Adriel mengantarkan Loveta ke pusat informasi. Sepanjang jalan Loveta menceritakan jika tadi dia ke sini dengan sang mama. Bermain banyak permainan di taman hiburan. Adriel mendengarkan dengan baik dan menanggapi setiap obrolan Loveta. Adriel yang memang suka anak-anak, memang cenderung mudah untuk akrab dengan anak-anak.


“Lolo.” Tepat saat sampai di pusat informasi, ada wanita yang memanggil Loveta.


“Mama.” Loveta langsung berlari dan memeluk sang mama.


Adriel tersenyum, nasib Loveta ternyata lebih beruntung, dia dapat bertemu dengan sang mama.


Arrriel menangis. Dia sudah hampir gila mencari anaknya. Hingga akhirnya dia memutuskan ke pusat informasi. Baru saja dia menjelaskan ciri-ciri anaknya, ternyata anaknya datang bersama seorang pria.


“Maafkan Mama, Sayang.” Arriel merasa bersalah sekali karena tidak menjaga dengan baik anaknya.


“Lolo minta maaf, Ma. Tadi Lolo lihat topi kelinci ini. Jadi Lolo ikut Kak Liam.” Loveta ingat nama itu karena Adriel memanggilnya.


“Sudah, tidak apa-apa. Lain kali Lolo harus bilang dulu pada mama.” Arriel tidak mau menyalahkan anaknya. Dirinya juga bersalah. Jadi dia tidak mau sampai membuat anaknya justru takut. Arriel beralih pada pria yang mengantarkan Loveta. “Terima kasih.” Dia menatap pria muda di depannya. Jika dilihat dari segi umur, pria ini terlihat jauh di bawah usianya.


“Tidak apa. Kebetulan yang diikuti Lolo adalah anak panti asuhan kami.” Adriel tersenyum. “Kalau begitu saya permisi dulu.” Dia langsung berpamitan, karena harus kembali melanjutkan bermain dengan anak-anak panti. Sebelum dia pergi, dia berjongkok di depan Loveta. “Dengar, jika pergi izin dengan mama. Jangan pergi sendiri karena bahaya.” Tangannya membelai lembut rambut Loveta.

__ADS_1


“Iya, Uncle.” Loveta tersenyum.


Adriel segera pergi. Meninggalkan Loveta dengan Arriel. Arriel terus memeluk sang anak. Untung ada pria itu tadi. Jika tidak, pasti dia tidak akan bertemu anaknya lagi.


__ADS_2