
Loveta tidur saat di dalam mobil. Dathan sadar jika hari sudah malam. Jadi wajar anaknya sudah mengantuk.
Loveta tidur di kursi belakang. Sejak masuk ke mobil, dia memang mengatakan jika ingin tidur di kursi belakang. Jadi dia meminta maminya untuk pindah ke depan.
“Dia lelah sepertinya.” Neta tersenyum ketika melihat Loveta.
“Iya, lagi pula ini jam tidurnya. Jadi wajar saja jika dia mengantuk.” Dathan tersenyum.
Neta membenarkan apa yang dikatakan sang suami. Ini memang sudah jam tidur Loveta. Jadi wajar saja jika dia sudah tidur.
Mobil sampai di rumah setelah perjalanan dari restoran. Dathan segera membawa anaknya yang sudah tidur ke kamar. Di kamar Neta mengganti baju anaknya. Pasti tidur dengan gaun tentu tidak enak.
Saat melihat sang anak sudah aman, dan masih tertidur pulas. Neta dan Dathan ke kamar mereka. Mereka membersihkan tubuh mereka sebelum beristirahat.
“Apa tadi kamu lihat Kai begitu lucu sekali.” Neta yang mengingat bagaimana anak Kafa dan Flo yang begitu lucu sekali.
“Iya, aku lihat.” Dathan juga melihat bagaimana menggemaskannya Kai. Apalagi ketika makan. Tangan bocah kecil itu meraih makanan tanpa takut kotor.
“Aku ingin anak laki-laki seperti itu.” Neta benar-benar menginginkan anak selucu Kai. Dia membayangkan jika pasti akan menyenangkan jika sampai melihat anaknya kelak.
Dathan menarik sang istri jatuh ke pelukannya. Tubuh Neta tepat jatuh di atas tubuh Dathan. Mereka berdua saling menatap ketika keduanya begitu dekat. Saat seperti itu hanya senyuman yang terlihat.
“Kamu mau anak laki-laki seperti itu?” tangan Dathan membelai lembut wajah Neta.
“Iya, aku mau anak seperti itu.” Neta membenarkan apa yang dikatakan oleh Dathan.
“Kalau begitu ayo kita buat.” Dathan langsung memutar tubuh sang istri.
Membuatnya berada di bawahnya.
__ADS_1
Neta yang terkejut merasakan hal itu justru menjerit. Namun, buru-buru dia memelankan suaranya. Ini sudah malam. Tidak baik untuk membuat suara gaduh.
Tangan Dathan menyingkirkan rambut di wajah Neta. Senyuman menghiasi wajah keduanya saat mereka saling berada tangan.
“Apa kita perlu ikut program agar punya anak laki-laki?” Neta yang memandangi sang suami pun melempar pertanyaan.
“Aku rasa tidak perlu.” Dathan menggeleng.
“Kenapa? Apa kamu tidak mau memiliki anak laki-laki?” Neta begitu penasaran sekali.
“Kita akan coba secara alami dulu.” Dathan membelai lembut wajah sang istri.
“Memang bisa seperti itu?” Neta baru dalam hal melakukan hubungan suami istri. Jadi tentu saja sia tidak mengerti.
“Menurut beberapa sumber jika ingin mendapatkan anak laki-laki bisa dengan menggunakan beberapa cara.”
“Cara apa?” Neta begitu penasaran sekali.
“Ovulasi wanita terjadi saat sepuluh hari wanita datang bulan. Tapi, aku sudah datang bulan sebelum kita menikah, dan minggu depan jadwal datang bulan aku.” Neta menjelaskan hal itu pada sang suami. Jika mencari waktu ovulasi, jelas dia harus menunggu datang bulan lagi.
“Kalau itu tidak bisa, kita bisa gunakan cara lain.” Dathan tersemyum menyeringai.
“Apa?” Neta semakin dibuat penasaran sekali.
“Cara yang kedua ....” Dathan mendekatkan kepalanya ke arah Neta. Berbisik di sana. “Cara kedua adalah dengan mencari posisi intim lebih dalam agar kromosom Y bergerak lebih cepat dalam rahimmu.” Dathan kembali melanjutkan.
Neta mencoba mencerna ucapan Dathan. Seperti jalur cepat. Jika diperdalam, itu agar membuat bibit-bibit milik Dathan bisa ekspres masuk ke rahminya.
Dathan memundurkan tubuhnya. Menatap sang istri yang berada dalam kungkungannya
__ADS_1
“Ada beberapa gaya yang bisa kita coba.” Dathan kembali melanjutkan penjelasannya.
“Apa?” Neta berbinar. Dia begitu penasaran sekali.
“***** *****, melakukan sambil berdiri, dan ....” Dathan menjeda ucapannya sambil memutar tubuh sang istri. Membuat tubuh sang istri berada di atasnya. “Women on top.” Satu kalimat yang diucapkan Dathan saat posisinya di atas.
Pipi Neta merona. Gaya itu artinya dirinya yang memimpin permainan. Rasanya, malu untuk melakukannya. Apalagi, dia tidak ahli.
“Apa itu akan berhasil?” Neta kembali memastikan.
“Kita hanya manusia, hanya bisa berusaha.” Dathan tersenyum.
Neta membenarkan apa yang sang suami. Semua tergantung Tuhan berkehendak apa. Mau memberikan anak dengan jenis kelamin seperti apa.
“Kalau begitu ayo kita coba.”
Neta dengan semangat mendaratkan bibirnya pada bibir sang suami. Menyesapnya lembut. Tangannya membuka menyingkap kaos yang dipakai sang suami. Sambil tangannya membelai lembut tubuh sang suami.
Dathan hanya bisa tersenyum ketika sang istri memimpin permainan kali ini. Rasanya, ini tahu sejauh mana sang istri sudah belajar.
Neta melepaskan tautan bibirnya. Sambil menegakkan tubuhnya. Tangannya membuka kancing piyama yang dipakainya. Dathan tidak mau tinggal diam. Dia pun membantu sang istri melepaskannya.
“Kamu harus bisa menikmati penyatuan kita. Agar bibit-bibit yang sedang berenang di dalam sini nanti bertahan lama.” Tangan Dathan bergerak turun saat membuka kancing baju sang istri.
“Aku akan menikmatinya.” Neta yang sudah melepaskan piyamanya segera membukanya. Kemudian melempar asal ke lantai. Tak menunggu lama, kembali dia mendaratkan bibir di bibir sang suami.
Malam ini, Neta benar-benar memimpin permainan. Melakukan semua yang dikatakan oleh sang suami. Berharap anak yang akan hadir di rahimnya adalah anak laki-laki.
Dathan benar-benar menikmati setiap sentuhan dari sang istri. Ternyata sang istri sudah belajar banyak. Tidak sia-sia, dia mengurung sang istri di pulau kemarin. Karena kini pembelajaran itu diserap dengan baik.
__ADS_1
Kali ini, Dathan melihat sisi lain dari sang istri. Sang istri yang biasanya lembut, berubah seketika. Membuatnya semakin bergelora. Menyeimbangkan apa yang dilakukan sang istri.
Malam yang sunyi ini, keduanya menikmati penyatuan mereka. Mencari kehangatan dalam setiap sentuhan. Saling memberi dan menerima kenikmatan.