Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Mati Lampu


__ADS_3

Pembukaan showroom mobil begitu ramai sekali. Koleksi mobil keluaran terbaru pun juga menjadi daya tarik pada waktu itu. Hal itu membuat acara begitu meriah. Beberapa orang membeli mobil keluaran terbaru itu, tetapi juga beberapa hanya ingin melihat saja.


Setelah selesai, akhirnya Neta dan Maria kembali ke hotel. Merek cukup lelah sekali. Apalagi mereka dari pagi sekali.


“Sepertinya setelah ini aku akan berendam dulu, setelah itu makan, dan tidur.” Neta sudah membayangkan hal indah itu.


“Sepertinya aku juga. Aku akan melakukan hal yang sama.” Maria tersenyum. “Tapi, nanti kamu duluan saja.” Maria dan Neta memang tinggal di kamar yang sama. Jadi wajar jika mereka harus bergantian.


“Baiklah, aku akan duluan.” Neta berbinar ketika diberikan kesempatan untuk lebih dulu.


Mereka sampai di kamar dan segera masuk. Neta segera meletakkan tasnya dan masuk ke kamar mandi. Sesuai dengan keinginannya, dia menikmati berendam di dalam bathtub. Sabun dengan aroma bunga lili yang wangi membuatnya merasa begitu tenang sekali. Dia benar-benar merasa rileks.


Cukup lama Neta menikmati mandinya. Hingga akhirnya dia keluar. Karena tadi dia tidak membawa pakaian, dia memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya.


Saat keluar, lampu kamar mati. Neta yang melihat hal itu terkejut. Tidak mungkin kamar hotel lampunya mati. Lagi pula, kamar mandi menyala. Dia tahu pasti jika Maria tidak bisa tidur dengan lampu yang gelap. Tentu saja itu membuatnya seketika berdebar-debar, apa gerangan yang terjadi.


“Maria?” Neta mencoba memanggil.


Sayangnya, tidak ada jawaban sama sekali. Hal itu membuat Neta semakin takut.


Neta berjalan sambil meraba tembok. Celah gorden yang terbuka, membuat ruangan sedikit ada cahaya. Hal itu membuatnya dapat berjalan. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia mencium aroma yang tidak asing di kamarnya.


“Parfum Dathan.” Dia mencium aroma maskulin yang biasa terdapat di tubuh

__ADS_1


Dathan. Hal itu tentu saja membuatnya merasa bingung. Dia sedang berada di luar kota, dan Dathan sedang ada di rumah. Jadi tentu saja itu membuatnya merasa jika itu tidak mungkin Dathan. Apalagi pria itu mengatakan jika sedang bermain catur dengan Reno.


Saat berjalan dan melihat ke arah gorden yang terbuka, dia mendapati siluet seorang pria di sana. Dari tubuhnya yang sedang membelakanginya, tampak sekali seperti Dathan. Neta tahu persis seperti apa tubuh Dathan. Namun, dia masih menyingkirkan pikirannya itu. Tidak percaya jika Dathan ada di tempat yang sama dengannya.


Neta yang mengayunkan langkahnya ke arah pria itu. Semakin dekat aroma maskulin semakin tercium. Neta yakin jika dia sedang tidak bermimpi.


“Sayang.” Saat langkahnya sampai di belakang pria itu, dia pun segera memanggil.


Pria itu berbalik. Dia tersenyum manis pada Neta. Cahaya yang berasal dari balik gorden yang terbuka membuat Neta dapat melihat jelas senyuman itu.


“Kamu di sini?” Neta benar-benar melihat Dathan di depannya. Pria itu tampak tersenyum manis padanya.


“Kejutan.” Dathan tersenyum. Dia memang sengaja datang untuk bertemu dengan kekasihnya itu.


“Kenapa tidak bilang?” Neta segera menghampiri sang kekasih.


Neta menekuk bibirnya. Kekasihnya itu benar-benar membuatnya terkejut sekali. Kemarin, tidak tampak sama sekali Dathan akan datang. Pria itu justru mengatakan jika dia sedang sibuk. Sampai siang tadi saja, pria itu mengatakan jika dia sedang bertemu pihak wedding organizer. Jadi tidak ada di pikiran Neta jika Dathan akan datang.


“Apa kamu suka aku datang?” Dathan merengkuh pinggang Neta. Membuatnya mendekat ke arahnya.


“Tentu saja aku suka.” Neta tersenyum malu.


Dathan senang mendengarkannya. Lagipula, baru ditinggal sehari saja dia sudah rindu sekali. Apalagi ditinggal dua hari. Dathan yang berada dalam jarak yang dekat perlahan mendekatkan wajahnya. Dalam suasana gelap dan hanya terdapat sedikit cahaya seperti sekarang, menikmati ciuman tentu saja adalah hal yang diinginkan.

__ADS_1


Neta tidak menolak sama sekali Namun, sejenak dia teringat dengan temannya. “Maria?” Dia segera mendorong tubuh Dathan. Malu jika sampai Maria masih ada di kamar. Neta segera mengedarkan pandangan. Dalam keadaan gelap, dia sedikit kesulitan mencari temannya itu.


“Dia sudah keluar dan tidur di kamar sebelah.” Dathan memberitahu Neta yang sedang panik.


Neta langsung beralih ke Dathan kembali. “Dia pesan kamar lagi?” Neta memastikan.


“Tidak, dia memakai kamar yang aku pesan.” Dathan menjelaskan.


“Kamu bekerja sama dengannya?” Neta memastikan kembali pada kekasihnya itu.


Dathan tersenyum. Memang benar dia bekerja sama dengan Maria. Kemarin, dia sempat mengambil nomor ponsel Maria dari ponsel Neta. Kemudian, tadi dia menghubungi Maria untuk mengajak kerja sama. Beruntung Maria mau melakukannya. Jadi dengan mudah, Dathan melancarkan aksinya.


“Ayo lanjutkan dulu.” Dathan kembali menarik tubuh sang kekasih hati untuk mendekat. Tanggung sekali ciuman urung dilakukan karena Neta panik mencari temanya.


Neta tersenyum manis. Tidak ada penolakan, menandakan jika dia mau saja dicium oleh Dathan.


Perlahan Dathan mendekatkan wajahnya. Di mendaratkan bibirnya di bibir Neta. Namun, belum sempat bibirnya sampai di bibir Neta, kekasihnya itu mengubah posisi. Alhasil Dathan justru mendaratkan kecupan di pipi Neta.


“Kenapa di pipi?” Dia segera melemparkan protesnya.


“Di bibirnya nanti saja. Biar sensasinya berbeda jika sudah sah.” Neta tersenyum polos.


Dathan tidak bisa memaksa jika sang kekasih tidak mau. Dia pun yang gemas kembali mendaratkan kecupan di pipi Neta lagi. Hal itu membuat Neta tertawa.

__ADS_1


Jambang Dathan yang ditumbuhi bulu halus sekali sedikit menggelitik. Dia pun tertawa geli. Namun, bukan berhenti Dathan justru terus menggoda.


“Sudah ayo cepat nyalakan lampunya.” Neta berusaha mendorong tubuh Dathan. Berusaha melepaskan diri dari Dathan.


__ADS_2