Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Dilaporkan


__ADS_3

Dathan berjalan ke arah supermarket. Beruntung jarak supermarket tidak terlalu jauh. Jadi dia tidak terlalu jauh berjalan.


Saat Dathan sedang berjalan, Maria yang berada di dalam mobil melihat. “Dia.” Dia memang baru beberapa kali bertemu, tetapi dia hapal wajah Dathan. Namun, yang membuatnya menarik adalah saat dia Dathan jalan kaki.


“Kenapa, Sayang.” Martin yang melihat kekasihnya menoleh ke belakang.


“Kamu melihat siapa?” Adriel yang menyetir melihat Maria dari pantulan kaca di atas dashboard mobil.


“Teman kos aku dia berjalan ke supermarket.” Maria tersenyum. Memilih berbohong. “Pasti Neta sudah pulang.” Maria pun memilih mengalihkan pembicaraan.


“Dia mengabarimu?” Adriel bertanya, tetapi tidak melihat ke arah Maria.


Seketika Maria panik. Neta tidak mengabari. Dia hanya mengambil kesimpulan karena tadi dia melihat Dathan. “Iya, dia mengirim pesan padaku.”


“Kalau Neta sudah pulang, bagaimana jika kita ajak saja dia makan siang sekalian.” Martin langsung memberikan ide.


“Kita lihat dulu, apa dia lelah atau tidak.” Adriel tidak mau teman-temannya memaksakan diri.


“Iya.” Maria setuju dengan ide Adriel.


Mobil akhirnya sampai di depan kos. Adriel, Maria, dan Martin segera masuk ke tempat kos. Di saat Maria masuk ke kamar bersama Martin untuk menaruh tas, Adriel mengetuk pintu kamar Neta.


Sesaat kemudian Neta membuka pintu kamar. Neta terkejut ketika melihat Adriel di depan kos miliknya.


“Kak Adriel di sini,” ucap Neta. Dia tampak tenang ketika berbicara pada Adriel. Padahal dia masih terkejut dengan kedatangan Adriel.


“Iya, aku tadi mengantar Maria dan Martin.” Adriel menjelaskan pada Neta.


Neta tahu jika kini Maria sedang menjalin hubungan dengan Martin. Martin adalah wartawan gosip yang juga berada di naungan Syailendra Grup juga.


“Oh ….” Neta mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kami mau makan siang, apa kamu mau ikut?” Adriel menawari Neta.


Tepat saat Neta selesai bicara, Maria dan Martin keluar dari kamar.


“Ta, ayo kita makan.” Maria langsung mengajak temannya itu untuk segera makan siang.


Neta yang melihat temannya merasa tidak masalah jika dia ikut. Lagi pula juga dia belum makan. Dia juga tidak sedang akan melakukan apa-apa.


“Baiklah, aku ambil tas dulu.” Neta berbalik masuk ke kamar. Sesaat kemudian dia keluar.


Mereka berempat menuju ke salah satu restoran di dekat kos mereka dengan mengendarai mobil Adriel.


“Aku tadi lihat Dathan jalan kaki.” Maria berbisik pada Neta.


Neta terkejut mendengar ucapan Maria. Dia ingat sekali tadi Dathan naik mobil dengan Reno. Lalu untuk apa pria itu jalan kaki?


“Kamu lihat dia di mana?” tanya Neta balas berbisik.


“Di dekat kos kita.” Maria menjelaskan.

__ADS_1


Neta sendiri tidak tahu. Dia berpikir untuk nanti dia akan bertanya saja pada Dathan nanti. “Aku tidak tahu, nanti aku akan tanya.” Dia memberikan penjelasan pada temannya itu.


“Kalian ini berbisik-bisik apa?” Adriel yang sedari tadi mendengar dua wanita berbisik merasa lucu.


“Mau tahu saja.” Neta tersenyum.


Martin yang ada di samping Adriel juga merasa lucu sedari tadi kekasihnya berbisik dengan Neta. “Kamu berlibur ke mana, Ta?” tanyanya ingin tahu. Dia menoleh ke belakang menatap Neta.


“Ke Bali.” Neta tersenyum.


“Wah … berasa honeymoon.” Martin tertawa menggoda.


“Honeymoon apa bawa anak. Mana bisa,” celetuk Maria tanpa sadar.


Neta langsung mencubit Maria. Maria langsung menutup mulutnya. Tadinya niat Maria hanya ingin menegaskan jika Neta tidak akan melakukan hal-hal buruk karena ada anak kecil. Namun, itu justru menjelaskan tentang kepergian Neta dengan kekasihnya yang membawa anak kecil.


“Kekasihmu duda, Ta?” Martin langsung menebak.


Maria menatap Neta ketika Mario bertanya. Merasa bersalah karena mulutnya sudah dengan lancangnya mengatakan akan hal itu. Padahal niatnya bukan ingin membongkar Dathan.


“Iya.” Neta dengan tersenyum menjawab. Tak ada rasa ragu sama sekali ketika menjawab. Dia merasa tidak ada yang salah dengan status Dathan. Jadi tidak masalah jika orang-orang tahu jika dirinya memiliki hubungan dengan duda.


Maria tidak menyangka jika Neta akan mengakuinya.


Adriel yang mendengar kenyataan jika Neta berhubungan dengan seorang duda cukup terkejut. Dia pikir kekasih Neta single seperti dirinya. Namun, saat melihat senyum Neta dari pantulan cermin, tentu saja membuat Adriel merasa jika Neta bahagia.


Mobil sampai di restoran. Obrolan mereka harus terhenti ketika mereka turun dari mobil dan masuk ke restoran.


“Aku dengar kamu mewawancara Dathan Fabrizio, Ta?” Martin menatap Neta ketik mereka sedang makan dan bercerita.


“Iya, sudah selesai. Mungkin akan majalah akan rilis bulan depan.” Neta tersenyum. Ini pekerjaan hebat baginya karena kantornya akan menjadi majalah pertama yang mewawancarai Dathan Fabrizio.


“Wah … hebat kamu. Padahal sulit sekali mewawancara Dathan Fabrizio.” Martin menyanjung Neta.


“Iya, dan Syailen Bisnis akan menjadi majalah pertama yang mewawancarai Dathan Fabrizio.” Maria ikut memuji.


“Seperti apa Dathan Fabrizio, Ta?” tanya Martin yang penasaran.


“Em … tunggu saja. Kamu akan tahu nanti.” Neta tersenyum. Tak mau membocorkan apa-apa.


Adriel sedari tadi hanya mendengarkan cerita itu. Dia tidak pernah menyangka jika sebenarnya dia pernah bertemu dengan pria yang bernama Dathan Fabrizio itu.


Usai, makan Adriel pun mengantarkan Neta dan Maria untuk pulang. Setelah itu barulah mereka pulang ke rumah.


Neta dan Maria langsung masuk ke kos mereka. Makan siang tadi cukup lama. Karena mereka sekaligus mengobrol ria bersama.


“Ta, maaf tadi aku kelepasan.” Maria merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.


“Tidak apa-apa. Lagi pula suatu saat mereka akan tahu siapa kekasihku.” Neta tersenyum.


Maria bersyukur karena Neta tidak marah dengannya. Paling tidak itu membuatnya lega.

__ADS_1


Neta sampai di kos langsung beristirahat. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia memainkan ponselnya berkirim pesan dengan Dathan.


Dathan:


Sedang apa?


^^^Neta:^^^


^^^Mengistirahatkan diri di tempat tidur.^^^


^^^Kamu sendiri sedang apa?^^^


Dathan:


Sedang memikirkan kamu.


^^^Neta:^^^


^^^Gombal.^^^


Dathan:


Aku tidak sedang menggombal.


^^^Neta:^^^


^^^Tadi Maria melihatmu berjalan. Kenapa berjalan?^^^


Dathan:


Tadi Reno dan Cinta beli es krim. Jadi aku harus berjalan ke minimarket.


^^^Neta:^^^


^^^Aku pikir mobilnya kenapa-kenapa.^^^


Dathan:


Mobilnya tidak kenapa-kenapa. Yang kenapa-kenapa itu hati aku.


^^^Neta:^^^


^^^Memangnya kenapa?^^^


Dathan:


Aku sedang memikirkan, kenapa kamu tidak datang sejak lama?


^^^Neta:^^^


^^^Jika aku datang sejak lama, yang ada kamu akan dilaporkan ke polisi karena memacari anak di bawah umur.^^^

__ADS_1


Tidak ada balasan dari Dathan. Padahal Neta menunggu. Ternyata yang datang bukanlah pesan singkat lagi. Namun, sambungan telepon. Pria di seberang sana itu tampaknya tidak sabar jika berkirim pesan. Dia langsung menghubungi Neta. Neta hanya tersenyum. Dia segera mengangkat sambungan telepon tersebut.


__ADS_2