Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Semakin Cantik


__ADS_3

“Kalau Lolo punya dua adik, nanti Lolo mau ajak bermain.” Loveta di mobil mengoceh terus. Dia begitu senang sekali karena akan memiliki adik. Apalagi adiknya ada dua.


Neta dan Dathan tersenyum. Merasa ikut senang melihat Loveta yang begitu senang dengan kehadiran adiknya. Mereka yakin, nanti jika adiknya sudah lahir, pasti Loveta akan sangat sayang dengan adiknya.


“Memang Cinta mau ajak main apa?” Neta membelai lembut rambut Loveta yang duduk di sampingnya. Dia dan Loveta memang duduk di kursi belakang.


“Lolo mau main, masak-masak, mau main salon-salonan, mau main apa lagi ya ….” Loveta tampak berpikir. Apa yang akan dilakukannya nanti.


“Kalau adiknya laki-laki bagaimana?” Dathan melihat putrinya dari pantulan kaca. Menunggu jawaban sang anak.


Loveta memikirkan apa yang dilakukannya nanti jika adiknya laki-laki. “Lolo akan ajak main dokter-dokteran, main guru dan murid.” Dia menjelaskan apa yang akan dilakukannya.


Dathan tersenyum ketika Loveta menjawab pertanyaannya. Permainan itu jelas sangat pas jika adiknya laki-laki. Membayangkan jenis kelamin sang anak, Dathan begitu penasaran sekali. Dia tak sabar untuk menunggu bisa tahu jenis kelamin sang anak.


Mereka sampai di rumah. Dathan meminta Neta untuk beristirahat. Tidak melakukan hal lain selain beristirahat. Mengingat ke rumah sakit saja pasti sangat melelahkan bagi Neta.


Di saat Neta sedang beristirahat, Dathan dan Loveta sibuk memotong buah di dapur. Loveta membantu sang papi melepaskan anggur dari tangkainya. Agar nanti sang mami mudah untuk memakannya. Dathan sendiri memilih mengupas apel dan memotongnya kecil-kecil agar sang istri dapat memakannya.


Ayah dan anak itu membawa mangkuk berisi buah ke kamar. Tampak Neta yang sedang melihat tayangan televisi.


“Mami.” Loveta begitu girang membawa mangkuk berisi buah. Dia segera mengayunkan langkahnya menghampiri sang mami. “Ini untuk Mami.” Dia memberikan mangkuk pada Neta.


“Terima kasih.” Neta senang sekali sang anak selalu saja membuatnya bangga. Karena begitu perhatian sekali padanya.

__ADS_1


Loveta duduk di samping Neta. Menemani Neta makan buah. Dathan yang ikut masuk, ikut duduk di sisi berseberangan dengan sang anak. Mengapit sang istri dengan anaknya.


“Kamu menonton apa?” Dathan meraih remot televisi. Ingin mengganti siaran televisi.


“Aku sedang lihat dr. Ghea. Dia memberikan edukasi tentang kesehatan. Jangan diganti.” Neta mencegah sang suami yang hendak mengganti saluran televisi.


Dathan pun terpaksa tidak mengganti saluran televisi. Ikut menonton dokter yang sedang memberikan edukasi di televisi.


Neta yang makan buah menyuapi Loveta dan Dathan juga. Mereka bertiga asyik menonton. Karena hari ini libur, mereka justru menggunakan waktu untuk bersama.


...****************...


Sore harinya, Neta, Dathan, dan Loveta menikmati berenang. Dathan menikmati berenang bersama anaknya, sedangkan Neta menunggu di samping kolam renang.


“Mami.” Loveta yang naik di punggung sang papa memanggil sang mami. Merasa senang sekali bermain-main dengan sang papi.


“Awas, pegangan.” Neta memberikan peringatan pada anak.


“Iya, Mami.” Loveta memegang bahu sang papi. Meluncur dari ujung kolam ke kolam yang lain.


Loveta dan Dathan begitu asyik bermain. Sampai tidak terasa mereka bermain air. Dari jam tiga sore sampai jam lima.


Matahari yang mulai pulang ke peraduannya membuat Neta meminta anak dan suaminya berhenti berenang. Neta segera membawa sang anak untuk membersihkan diri, dan segera mengajak makan malam.

__ADS_1


Seharian beraktivitas membuat Loveta begitu lelah. Satu jam setelah makan malam, dia sudah minta untuk tidur. Neta yang memang tidak mual di malam hari, membuatnya menemani anaknya tidur. Membacakan cerita sebelum tidur.


Saat Loveta sudah tertidur pulas, Neta segera kembali ke kamarnya. Menyusul sang suami yang menunggunya di kamarnya.


“Sini.” Dathan menepuk sisi tempat tidur. Meminta sang istri untuk duduk bersamanya.


Neta segera naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Sang suami yang berada di posisi miring membuat Neta juga ikut memposisikan tubuhnya miring. Saling berhadapan dengan sang suami.


Dathan membelai lembut wajah Neta. Senang sekali melihat wajah sang istri yang cantik. Entah kenapa dia merasa jika sang istri semakin cantik ketika hamil.


Neta tersenyum. Waktu berdua menjelang tidur seperti ini memang membuat Neta senang. Karena bisa bercerita banyak.


“Kamu semakin cantik.” Dathan memuji sang istri.


“Kamu merayuku.” Neta mencubit perut sang suami.


“Aku tidak sedang merayu. Aku mengatakan sesungguhnya.” Dathan membela diri. Yang dikatakan memang ada benarnya.


Neta tersipu malu. Sang suami, memang selalu bisa membuat dirinya malu-malu.


“Kamu tadi kembali ke ruangan dokter kenapa?” Saat sedang asyik bercerita, tiba-tiba Neta teringat dengan aksi sang suami yang tadi masuk lagi ke ruangan dokter kandungan.


“Aku ….”

__ADS_1


__ADS_2