Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Senam Hamil.


__ADS_3

“Tolong catnya warnanya biru langit saja. Jangan terlalu gelap.” Dathan sedang mendekorasi kamar untuk anak mereka. Dathan dan Neta sepakat mencampur dua warna, biru dan pink. Karena mengingat anak mereka perempuan.


“Than, kalau begitu tambah warna putih. Jadi agar tidak dominan pink-biru.” Reno memberikan saran.


“Oh ... iya.” Dathan membenarkan ucapan temannya. “Tolong juga tambah warna putih.” Dia memberitahu team dekornya.


“Baik, Pak.”


Dathan dan Reno segera keluar dari kamar. Menyusul sang istri yang berada di taman belakang. Sedang menikmati mangga di sana.


“Sayang, nanti kamu jangan masuk ke kamar. Bau cat tidak baik untuk anak kita.” Sambil menghampiri sang istri Dathan memberitahu.


“Iya, aku tidak akan ke kamar.” Neta mengangguk.


Neta dan Rifa asyik menikmati mangga. Tadi Rifa sudah membuatkan sambal. Jadi kini mereka menikmati dengan sambal rujak.


“A ....” Dathan membuka mulutnya. Meminta sang istri menyuapi.


Neta pun menyuapi Dathan. Saat mangga masuk ke mulutnya, Dathan langsung mengunyahnya. Namun, baru saja mengunyah, tiba-tiba Dathan memuntahkannya.


“Than, jorok sekali.” Reno memberikan komentar pada temannya itu. Dia yang juga mendapatkan suapan dari sang istri, aman-aman saja. Mengunyah mangga dengan tenang.


“Asam.” Dathan memprotes.

__ADS_1


Neta langsung tertawa, diikuti oleh Rifa. Jelas yang dimakan Dathan adalah mangga mentah. Jadi wajar asam. Maklum, Neta sedang hamil. Jadi dia memakan mangga mentah.


“Yang dimakan Neta mentah. Jelas asam.” Rifa tertawa. Temannya itu polos sekali makan mangga tanpa melihat warna mangganya terlebih dulu.


“Maaf, Sayang.” Neta dengan polosnya tersenyum.


“Kamu.” Dathan mendaratkan kecupan gemas di pipi Neta. Istrinya benar-benar mengerjainya.


Mereka bertiga duduk sambil menikmati buah. Loveta sedang asyik bermain dengan Richa. Jadi mereka leluasa mengobrol.


“Kalau nanti sudah menjelang melahirkan sering-sering melakukannya. Agar bisa melahirkan normal.” Rifa memberikan saran pada Neta.


“Memang harus begitu, Kak?” Neta begitu penasaran sekali. Dia baru dengar.


Neta masih belum percaya. “Nanti aku tanya dokter dulu.” Dia mau memastikan pada dokter. Karena tak mau sampai keselamatan bayinya jadi jaminan.


“Rifa sudah pengalaman, Sayang. Jadi yang dia katakan pasti benar.” Dathan tersenyum menyeringai. Siapa yang paling diuntungkan jika bukan dirinya. Tentu saja dia tidak akan melepaskan kesempatan itu.


Neta menatap malas pada sang suami. Dia tahu sang suami mau mengambil kesempatan. Jadi makanya dia setuju dengan cerita Rifa.


“Aku tanya dokter dulu.” Neta tetap dengan pendiriannya.


Dathan pasrah. Dia berharap jika dokter akan mengatakan hal yang sama. Jadi paling tidak, dia akan diuntungkan dalam hal ini.

__ADS_1


Mereka bertiga menikmati makan mangga sambil menunggu dekorasi kamar dilakukan. Sesekali Dathan melihat kamar. Memastikan dekorasi dibuat sesuai.


...****************...


Pagi ini Neta pergi senam ibu hamil. Dathan menemani. Jika biasanya Neta olahraga di rumah, kali ini dia akan pergi senam di tempat senam. Dia akan senam bersama dengan ibu-ibu hamil yang lain. Neta begitu bersemangat sekali ketika berada di tempat senam. Karena bisa bertemu dengan ibu hamil juga. Apalagi bisa saling bercerita.


Mengingat hari ini libur kerja, Dathan jelas bisa menemani sang istri. Kali ini tidak ada Loveta karena gadis kecil itu di rumah mamanya. Menghabiskan waktu bersama sang mama dan papa barunya.


Senam dimulai, Dathan ikut menemani karena senam kali ini dikhususkan untuk ibu dan ayah. Ini agar membuat ayah dekat dengan ibu hamil dan juga ayah bisa merasa dekat dengan bayinya.


“Kenapa posisinya seperti ini? Ini benar-benar tidak baik untuk aku?” Dathan membungkukkan tubuhnya. Berbisik pada sang istri.


Posisi ibu hamil yang menungging dan suami di belakang memegangi pinggang membuat Dathan teringat sesuatu.


Neta mengerutkan dahinya. Memikirkan kenapa tidak baik untuk sang suami. Hingga akhirnya, dia mendapatkan jawaban. Jika posisinya itu sama saat mereka sedang bercinta. Neta yang melihat hal itu melirik kesal pada sang suami. Bisa-bisanya sang suami berpikir hal seperti itu di tengah-tengah senam.


Senam kali ini diwarnai keceriaan. Sesekali Dathan menggoda Neta. Membuat sang istri tertawa. Memang benar adanya. Senam membuat mereka semakin dekat.


“Auch ....” Neta merasakan bayinya menendang ketika sedang senam. Neta langsung menarik tangan Dathan. Memberitahu sang suami.


“Wah ... anak Papi ikut senam juga di dalam.” Dathan tertawa.


Neta dan Dathan senang ketika sang anak aktif di dalam perut. Mereka berharap anaknya selalu sehat sampai nanti lahiran.

__ADS_1


__ADS_2