Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Hotel


__ADS_3

Neta masuk ke mobil Dathan. Dia duduk di belakang bersama dengan Loveta. Perasaannya benar-benar berdebar-debar ketika duduk di mobil Dathan. Dia sedikit takut jika yang diikutinya bukanlah orang orang yang dia cari. Jika benar, matilah sudah Neta.


Di dalam mobil hanya suara Loveta yang terdengar. Dia menyanyi sepanjang di perjalanan. Neta yang mendengarnya merasa senang. Paling tidak ada hiburan ketika keheningan terjadi, karena sedari tadi Dathan diam saja. Melihat Loveta yang lucu, membuatnya tertawa. Dia teringat dengan anak-anak di panti asuhan tempatnya dibesarkan.


“Bagaimana bisa kamu basah kuyup seperti itu?” Pertanyaan itu seketika meluncur dari mulut Dathan. Sedari tadi dia gemas sekali untuk bertanya akan hal itu. Namun, baru sempat ditanyakan saat di mobil.


Neta mengalihkan pandangan pada Dathan yang duduk di kursi depan. Aura dingin begitu terasa sekali. Hal itu tentu saja membuat Neta takut. “Tadi minuman yang tumpah itu manis, jadi karena saya takut lengket, saya membasuhnya. Karena cukup banyak tempat yang terkena, tanpa sadar saya membasahi semua baju saya.” Dia menjelaskan pada Dathan. Dia benar-benar berusaha keras untuk tetap tenang.


Dathan mencerna ucapan Neta. Hingga dia menyadari jika pastinya tidak nyaman berada dalam tubuh yang lengket. Karena anaknya yang melakukannya, dia merasa harus bertanggung jawab atas semua itu.


“Kita ke hotel terdekat.” Dathan memberitahu asistennya yang membawa mobil.


Mendengar ucapan Dathan di depan, tubuh Neta gemetar. Dia takut Dathan akan melakukan hal buruk di hotel. Namun, sejenak Neta sadar jika dia tidak sendiri. Dia bersama dengan Loveta, tentu saja hal itu membuatnya yakin Dathan tidak akan melakukan apa-apa padanya. Apalagi di depan anaknya.

__ADS_1


Mobil sampai di hotel. Dathan, Neta, Loveta, dan sang asisten turun dari mobil. Dathan menggendeng Loveta masuk ke hotel, sedangkan Neta hanya berusaha menutup rapat jas yang dipakainya.


Sejujurnya Neta merasa tidak nyaman memakai jas milik Dathan. Aroma maskulin yang tercium membuatnya merasa desiran aneh. Seolah dia merasa tubuh Dathan berada dekat dengannya.


Sang asisten segera melakukan reservasi. Setelah itu dia segera mengajak Dathan, Loveta, dan Neta ke kamar hotel.


Neta benar-benar membungkam mulutnya. Dia tidak berani bertanya apa pun pada Dathan. Selama dari lift sampai ke kamar hotel pun dia memilih diam.


Asisten Dathan yang membuka pintu kamar hotel, mempersilakan Dathan, Loveta, dan Neta masuk.


Neta yang melihat pemandangan kota yang terlihat dari hotel membuatnya kembali terperangah. Sungguh hal itu benar-benar membuatnya tak dapat berkata-kata. Orang kaya memang punya banyak uang hingga bisa mendapatkan pemandangan indah semacam itu.


“Cepat bersih tubuhmu.” Dathan memberikan perintah pada Neta.

__ADS_1


Neta menatap Dathan. Masih bingung dengan yang diminta oleh Dathan. Insting pertahananya mulia berkerja. Dia mulai takut ketika


“Kamu bilang tubuh kamu terkena minuman manis. Jadi artinya tubuh kamu lengket. Jadi bersihkan tubuhmu agar rasa lengket itu hilang.” Dathan menjelaskan apa yang diinginkanya.


Neta bersyukur itu alasannya. Padahal tadi otaknya sudah traveling yang tidak-tidak. Membayangkan hal intim antara dirinya dan Dathan. Sungguh liar sekali pikiran Neta.


Tak mau malu karena baru saja memikirkan hal itu, Neta segera pergi ke kamar. Di dalam kamar presidential suite terdapat dua kamar. Neta menggunakan satu kamar untuknya membersihkan tubuhnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2