
Neta dan Dathan akhirnya selesai menonton. Mereka melanjutkan kembali perjalanan ke apartemen Arriel. Berniat untuk menjemput Loveta.
“Aku masih kurang nyaman sering-sering bertemu Arriel.” Saat berjalan, Neta mengungkapkan isi hatinya.
“Kamu harus terbiasa. Karena kelak kamu akan bertemu Arriel lebih sering dibanding aku.” Dathan tersenyum. Dia memang membatasi diri untuk tidak sesering itu berinteraksi dengan Arriel. Namanya, mantan, tetap tidak baik terlalu dekat. Apalagi mereka punya pasangan masing-masing.
Neta menyadari jika memang dia akan terus bertemu Arriel, dan dia harus membiasakan diri. Hal itu karena Arriel adalah mama Loveta.
Dathan dan Neta sampai di apartemen Arriel. Setelah menekan bel, mereka menunggu sebentar. Selang sesaat kemudian Arriel membuka pintu.
“Papa.” Loveta langsung berlari menghampiri sang papa, memeluk pria itu.
“Cinta.” Dathan langsung menggendong Loveta. Dia mendaratkan kecupan di pipi sang anak. Dia merasa senang bertemu kembali dengan sang anak.
Arriel tersenyum melihat Dathan yang mencium anaknya. Dia membayangkan akan semurka apa Dathan jika tahu anaknya sempat hampir hilang. Yang ada dia tidak akan mengizinkan dirinya untuk menjaga anaknya lagi.
Arriel mengalihkan pandangan pada Neta. Dilihatnya Neta yang berdiri di samping Dathan. Dia pun tersenyum manis pada wanita yang akan jadi istri mantan suaminya itu.
Neta pun balas tersenyum.
“Ayo, masuk dulu.” Arriel menawarkan dua orang di depan apartemennya itu untuk masuk.
Dathan dan Neta masuk ke apartemen Arriel. Arriel mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamunya. Dia segera membuatkan minuman untuk tamunya.
Di saat menunggu Arriel yang membuatkan minum, Dathan, Neta, dan Loveta saling bercerita.
“Bagaimana kemarin jalan-jalannya?” Dathan menanyakan pada sang anak.
“Kemarin seru sekali. Naik komedi putar, naik biang lala. Naik semuanya.” Loveta bercerita dengan senangnya.
Arriel yang di dapur mendengar cerita dari Loveta itu. Anaknya itu memang selalu saja seru ketika bercerita. Membuat suasana begitu hangat.
“Wah … pasti seru seru.” Neta ikut menanyakan. Dia begitu bersemangat mendengar cerita.
__ADS_1
“Iya, seru sekali.” Loveta begitu bersemangat bercerita. “Lolo beli es krim, beli kue, beli permen kapas. Lolo suka sekali.”
Arriel yang selesai membuat minuman langsung ke ruang tamu. Dia menyuguhkan minuman pada tamunya itu.
“Lain kali kita pergi bersama ya, Papa.” Loveta menatap sang papa.
Dathan tersenyum. Dia selalu tidak bisa menolak permintaan dari sang anak.
“Baiklah.” Dia mengiyakan permintaan sang anak. Walaupun entah kapan terealisasi.
“Terima kasih.” Neta tersenyum.
Arriel bergabung duduk di sofa yang sama. Berhadapan dengan Neta, Dathan, dan anaknya. Dia tidak banyak bicara hanya mendengarkan saja. Loveta terus bercerita banyak hal.
“Kemarin, Lolo kejar kakak pakai topi.” Lolo mulai bercerita perihal hilangnya dirinya.
Sejenak Arriel memikirkan, apakah Loveta akan menceritakan pada papanya perihal kemarin hilang. Jika sampai iya, tentu saja hal itu pasti akan membuat Dathan murka. Namun, Arriel siap jika sampai jadi amukan Dathan. Karena memang dirinya salah.
Arriel begitu berdebar-debar sekali menunggu anaknya bercerita.
“Lolo jalan terus kejar kakak. Sampai akhirnya Lolo minta topinya.” Loveta menceritakan inti ceritanya langsung. “Tapi, Lolo jauh dari mama. Lalu uncle mengantarkan Lolo ke mama.” Dia menceritakan bagaimana dia hilang dan kembali ke mamanya.
Dathan agak bingung dengan apa yang dikatakan sang anak. Dia masih tidak mengerti. Karena bingung, dia pun mengalihkan pandangan pada Arriel.
Arriel yang ditatap oleh Dathan pun terpaksa menceritakannya. “Kemarin Lolo hilang.”
Dathan seketika membulatkan matanya. Dia benar-benar terkejut mendengar akan hal itu. Bagaimana anaknya bisa hilang? Padahal dia bersama mamanya. Namun, Dathan tidak mau langsung marah. Ingin mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Arriel dulu.
“Jadi aku sedang membeli minum dan fokus membayarnya. Tiba-tiba Lolo melihat anak laki-laki yang memakai topi kelinci. Dia mengikuti tanpa aku sadar. Aku yang panik langsung mencarinya. Karena tidak menemukannya, aku memutuskan untuk ke pusat informasi. Beruntung sampai di sana ada pria yang mengantarkan Lolo.” Arriel menjelaskan pada Dathan. Dia pasrah jika Dathan marah.
“Sayang, lain kali kalau ke mana-mana harus bilang.” Neta langsung membelai lembut rambut Loveta. Pasti Arriel panik sekali.
“Iya, nanti Lolo akan bilang.” Lolo merasa bersalah.
__ADS_1
“Lihat, Mama pasti ketakutan sekali melihat Lolo hilang.” Neta membelai sambil meminta Loveta melihat sang mama.
“Maaf, Mama.” Loveta merasa bersalah.
Arriel membuka tangannya. Meminta anaknya untuk datang dan memeluknya. Dengan cepat Loveta memeluk sang mama.
Neta menatap Dathan. Meminta Dathan untuk tenang menghadapi hal ini. Dathan berusaha keras untuk tetap tenang. Karena itu dia tidak marah.
“Mama juga salah karena tidak fokus. Lain kali mama akan lebih hati-hati.” Arriel yang memeluk anaknya memberikan janjinya. Itu juga menyiratkan janjinya pada Dathan.
Dathan merasa tidak perlu bicara lagi. Anaknya sudah dapat nasehat dari Neta, Arriel sendiri juga sudah sadar apa kesalahannya. Jadi tidak perlu diperpanjang lagi.
Dathan dan Neta menikmati minuman yang disuguhkan pada mereka. Kemudian dia mereka berpamitan pada Arriel.
“Minggu depan dia tidak bisa ikut kamu karena dia akan ikut aku ke acara lamaran.” Sebelum pulang, Dathan memberitahu Arriel jika anaknya minggu depan akan ikut dirinya ke panti asuhan. Jadi tentu tidak bisa ke rumah Arriel.
“Iya.” Arriel mencoba untuk menerima. Lagi pula, anaknya harus ada saat papanya melamar. Agar dia mengerti jika Neta akan jadi ibunya.
“Aku tidak akan memperpanjang masalah hilangnya Cinta. Aku tahu kamu sudah mengerti.” Dathan kembali mengingatkan perihal hilangnya anak mereka. Berharap setelah ini Arriel lebih hati-hati.
“Aku tahu, lain kali tidak akan terulang.”
“Baiklah, kami pamit dulu.”
“Lolo pulang dulu, Mama.” Loveta memeluk sang mama.
“Hati-hati, Sayang.” Arriel mendaratkan kecupan di puncak rambut sang anak.
“Kami pulang dulu.” Neta ikut berpamitan.
Mereka bertiga akhirnya pulang. Sepanjang jalan Loveta menceritakan apa yang dilakukan hari ini. Tidak menceritakan kejadian kemarin lagi. Anak-anak memang begitu. Tidak fokus pada satu hal saja.
Dathan memilih mengantarkan Neta terlebih dahulu, barulah dia akan pulang. Sepanjang jalan, Loveta begitu senang bercerita pada Neta. Sampai saat Neta keluar dia baru berhenti. Dari kos Neta ke rumah, Loveta tidur. Gadis kecil itu terlalu lelah bercerita tadi. Dathan yang melihat hal itu hanya membiarkan saja. Nanti dia akan mengangkat tubuh anaknya jika sudah sampai di rumah.
__ADS_1