Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Training Calon Istri


__ADS_3

Neta ingin melingkarkan dasi pada kerah kemeja Dathan. Sayangnya, Dathan terlalu tinggi. Hingga membuatnya berjinjit. Dathan yang menyadari itu pun menundukkan kepalanya, agar Neta bisa melakukannya. Neta hanya bisa tersenyum ketika Dathan menundukkan kepalanya.


“Apa kamu tidak bisa memakai sendiri?” Walaupun tangannya bergerak memakaikan, tetapi tetap saja mulut Neta mencibir permintaan Dathan itu. Dia merasa jika Dathan sengaja menyuruhnya. Karena dia tahu Dathan bisa melakukannya sendiri.


“Anggap saja ini training sebagai calon istri.” Dathan menyeringai.


Neta berusaha menahan senyumnya. Dia merasa malu dengan kalimat Dathan. Walaupun, dia senang dengan kalimat itu.


Neta berusaha untuk tetap tenang saat Dathan menggodanya. Dia mendongakkan dagu Dathan agar memudahkan memasang dasi di kerah kemeja Dathan. Jantung Neta benar-benar berdebar-debar. Kali ini dia terlalu dekat sekali dengan Dathan.


“Kamu cantik sekali hari ini?” Dathan berusaha untuk melihat Neta ke bawah. Menggoda Neta.


“Apa hanya hari ini saja?” Neta menyindir Dathan yang memujinya hari ini saja.


“Bukan begitu maksudnya. Kamu cantik kemarin-kemarin, tetapi hari ini cantik sekali.” Dathan masih mode menggoda.


“Jangan menggodaku!” Neta memberikan peringatan pada Dathan.


“Aku tidak sedang menggoda. Aku hanya mengatakan sesungguhnya.” Dathan tersenyum.


Wanita mana yang tidak suka dipuji cantik oleh orang yang disukai. Pastinya dia akan sangat senang ketika dipuji. Begitu pun dengan Neta.


Neta yang selesai memasangkan dasi pun menjauhkan tangannya. Dathan segera menundukkan pandangan. Menatap Neta. Neta jelas melihat Dathan yang menatapnya. Hal itu membuatnya semakin salah tingkah.


Dathan yang melihat Neta, mengangsur tubuhnya. Mengikis jarak antara mereka berdua. Neta yang melihat itu begitu berdebar-debar. Dathan mengusap bibir Neta perlahan dengan ibu jarinya. Saat seperti ini, Neta seolah yakin jika Dathan akan menciumnya. Entah kenapa kali ini Neta diam saja. Seolah mengizinkan apa yang akan dilakukan Dathan.


“Coklat.” Dathan menunjukkan ibu jarinya.


Seketika Neta terkejut. Neta mengalihkan pandangan pada jari Dathan. Terlihat coklat di sana. Ternyata tadi saat makan coklat, ada yang menempel di bibirnya. Sungguh Neta malu dengan dirinya sendiri. Dia sudah berpikir Dathan hendak menciumnya. Dan lebih menyebalkan lagi adalah dia yang berharap.


Dathan menyeringai. “Apa kamu berharap aku menciummu?” Dathan selalu punya cara untuk menggoda Neta.


“Ti-tidak.” Neta mengelak. Tak mau Dathan mengetahui apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


Dathan jelas melihat wajah Neta yang panik. Jadi tentu saja hal itu membuatnya yakin jika Neta memikirkan itu.


“Sudah cepat pakai jasmu. Aku akan segera memotretmu.” Neta berusaha untuk menghindar.


Dathan hanya bisa tersenyum. Dia berbalik dan segera mengambil jasnya yang tadi sempat ditaruh di kursi. Karena di ruangan Dathan ada cermin, pria itu pun memakai jas sambil bercermin.


Neta segera berlalu mengambil kameranya. Dia segera memasang kameranya agar dapat memotret Dathan. Saat selesai memasang tripod, dia segera bersiap memotret Dathan.


Dathan yang sudah selesai segera menuju ke meja kerjanya. Dia duduk di sana untuk berpose. Neta yang melihat hal itu merasa heran, kenapa Dathan mau duduk di sana. Hal itu membuatnya segera menghampiri Dathan.


“Jangan duduk di sana. Ayo.” Neta menarik tangan Dathan. Membawanya ke depan meja. Dathan yang ditarik pun pasrah saja.


“Kamu bersandar di meja ini. Anggap kamu model profesional.” Neta memberitahu. Saat selesai memberitahu, dia segera kembali ke kameranya.


Dathan melakukan seperti yang diminta Neta. Sayangnya, dia bukan model. Jadi tentu saja dia kaku sekali.


Neta yang melihat Dathan kaku sekali, hanya bisa menepuk dahinya. Sungguh dia harus bersabar dengan Dathan. Dia segera menghampiri Dathan kembali. Dia memastikan jika Dathan bisa berpose dengan baik.


Neta menata tangan Dathan di depan dada. Dia mengatur wajah Dathan. Mulai dari mana Dathan harus melihat dan fokus.


Dathan pun melakukan hal yang sama dengan Dathan. Sungguh benar-benar dia merasa jelek sekali. Karena seolah memaksakan senyum.


Neta segera kembali pada kameranya. Memotret Dathan yang sedang berpose. Sayangnya saat dipotret Dathan justru terlihat aneh. Pria itu tampak begitu gugup.


“Apa kamu merasa cemas?” tanya Neta memastikan.


“Ini wawancara pertama dan pemotretan pertamaku. Jadi aku sedikit cemas saja.” Dathan lebih baik memilih berhadapan dengan klien dibanding seperti ini. Jika seperti ini. Rasanya dia benar-benar tak menentu.


Neta tidak mau membuat Dathan tidak nyaman. Dia mau hasil foto yang membuat Dathan nyaman.


“Begini saja. Lakukan yang biasa kamu lakukan di tempat kerjamu. Aku akan memotretmu candid. Anggap aku tidak ada, dan bersantailah.” Neta memutuskan untuk membuat Dathan nyaman. Jadi tentu saja hal itu membuatnya memutuskan hal itu. Dia segera melepas kameranya dari tripod miliknya.


Dathan pun segera melakukan apa yang biasa dilakukannya di ruangannya. Dia membuka buku miliknya dan membaca. Neta pun memotret Dathan terus menerus. Nanti dia akan memilih beberapa foto dari yang dia ambil. Dathan yang mulai nyaman pun tersenyum ke arah kamera ketika Neta berada tepat di depannya. Foto yang diambil Neta saat itu benar-benar bagus. Ketika Dathan membuka buku, pria itu menatap ke arah kamera. Sempurna untuk dipajang di halaman depan. Apalagi pose Dathan yang membetulkan jasnya. Sempurna sekali seluruh badan. Dathan yang memang terbiasa memakai setelah jas dengan sepatu kets terlihat keren.

__ADS_1


“Selesai.” Neta tersenyum. Dia senang sekali akhirnya bisa menyelesaikan pemotretan.


“Apa hasilnya bagus?” tanya Dathan.


“Sempurna.” Neta tersenyum.


Dathan berharap hasilnya benar-benar bagus. Karena paling tidak, dia tidak akan malu dipajang di majalah.


“Baiklah, ayo kita sarapan. Setelah itu kita berangkat ke kantor.” Dathan mengakhiri sesi foto.


Neta mengangguk. Dia segera merapikan kameranya. Memasukkan pada tas yang dibawanya. Tak menunggu lama, setelah selesai, dia segera mengikuti Dathan ke ruang makan. Menikmati sarapan bersama Dathan.


“Besok bawalah baju sekalian. Aku akan menjemputmu di kantor besok.” Di tengah-tengah makan, dia pun memberitahu Neta.


Neta merasa jika ajakan Dathan benar-benar serius. Jadi tentu saja dia harus bersiap.


“Baiklah.” Neta mengangguk.


Seusai makan, mereka berdua berangkat bersama menuju ke kantor. Dathan mengantarkan Neta terlebih dulu ke kantor. Dia harus memastikan Neta sampai dengan selamat.


“Sampai bertemu besok.” Neta berpamitan saat hendak keluar.


“Kamu tidak pulang denganku?” tanya Dathan yang mendengar ucapan Neta.


“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Jadi aku akan pulang malam. Nanti aku akan pulang dengan Maria.” Neta mencoba menjelaskan.


“Apa tidak apa-apa kamu pulang dengan temanmu?” Dathan tahu Maria yang dimaksud adalah temannya tempo hari yang bersama Neta saat pertama bertemu Dathan.


“Jangan khawatir.” Neta tersenyum.


Sebelum ada dirinya, Neta adalah wanita mandiri. Jadi harusnya Dathan tidak masalah.


Neta keluar sambil melambaikan tangan. Senyuman menghiasi wajah gadis cantik itu. Dia yang masuk ke kantor terus berjalan dengan semangat.

__ADS_1


Dathan yang melihat Neta sudah masuk pun segera melajukan mobilnya. Dia harus segera kembali ke kantornya.


__ADS_2