
“Sebaiknya kita tidur, hari sudah malam.” Dathan tersenyum. Dia tahu Neta pasti sangat lelah sekali. Apalagi mereka tadi sama-sama baru pulang kerja.
“Baiklah.” Neta mengangguk.
Dathan dan Neta berdiri. Mereka saling bergandengan tangan masuk ke kamar. Di kamar tampak Loveta tidur begitu pulas sekali. Hal itu membuat Neta bersyukur karena gadis kecil itu tidak terbangun dan melihat dirinya. Jika hal itu terjadi, mungkin Neta akan merasa bersalah sekali menyakiti anak itu. Karena setahu Loveta, mamanya masih bersama papanya.
“Tidurlah.” Dathan meminta Neta untuk ke tempat tidur.
Neta menatap Dathan lekat. “Kamu tidur di mana?” tanya Neta.
“Aku akan tidur di sofa.” Dathan memutar sedikit tubuhnya untuk bisa berhadapan dengan Neta. Tangannya membelai lembut pipi Neta.
Neta mengalihkan pandangan. Sofa begitu pendek. Untuk Dathan yang tinggi tentu saja akan membuat tubuhnya menggantung. Bisa dipastikan jika pasti besok tubuh Dathan akan sakit. Neta tidak mau hal itu terjadi.
“Tidurlah di tempat tidur.” Neta memilih untuk membiarkan Dathan tidur bersamanya.
Dathan terkesiap ketika mendengar permintaan Neta. “Tempat tidur?” Dia mengalihkan pandangan pada tempat tidur. Dia tidak menyangka jika Neta meminta akan hal itu.
“Aku akan tidur di sisi sana. Kamu tidur di sisi sana.” Neta menunjukan sisi di mana berada di kanan dan kiri Loveta.
Dathan mengikuti arah ke mana Neta menunjuk. Itu artinya mereka akan tidur terpisah. Tersekat dengan Loveta yang berada di tengah-tengah. Itu tentu saja membuat Dathan merasa tidak masalah jika tidur bersama Neta.
“Baiklah.”
Dathan dan Neta merangkak ke atas tempat tidur. Mereka mengambil sisi berseberangan untuk tidur. Tubuh mereka masuk ke dalam selimut yang sama. Mencari kehangatan di balik selimut.
Neta menghadap ke arah Dathan. Begitu sebaliknya, Dathan menghadap ke arah Neta. Tangan Dathan yang memeluk Loveta, menggenggam erat tangan Neta. Rasa bahagia yang dirasakannya tergambar dari senyuman yang terus menghiasi wajahnya.
“Selamat tidur, Sayang.” Dathan menarik tangan Neta dan mendaratkan kecupan di punggung tangan Neta.
Pipi Neta merona. Dathan benar-benar memperlakukannya begitu istimewa sekali. “Selamat tidur, Sayang.” Rasanya lidah Neta belum terbiasa memanggil Dathan dengan panggilan ‘sayang’. Masih terasa kaku dan membuatnya malu.
Dipanggil Neta dengan panggilan ‘sayang’ membuat Dathan berbunga-bunga. Hingga membuatnya tidak melepaskan genggaman tangan Neta. Sampai mereka tertidur pun, tangan Neta masih berada di dalam genggaman tangan Dathan.
__ADS_1
...****************...
Loveta membuka matanya. Ketika matanya terbuka, dia melihat Neta yang tidur di sebelahnya. Wajah cantik Neta membuat Loveta tersenyum. Loveta yang gemas sekali dengan Neta pun mendaratkan bibirnya di pipi Neta. Memberikan kecupan di pipi mulus wanita di depannya.
Neta yang merasakan benda kenyal menempel di pipi langsung membuka matanya. Saat membuka mata dia disambut oleh senyuman Loveta yang begitu cantik sekali. Hal itu membuat Neta senang sekali melihatnya.
“Selamat pagi.” Neta membalas kecupan dari Loveta. Dia mendaratkan juga di pipi Loveta.
Loveta tertawa senang. Merasa senang sekali mendapatkan kecupan dari Neta.
“Hust … Papa masih tidur.” Neta memberikan isyarat jarinya di bibir. Meminta agar Loveta tidak terlalu keras saat tertawa.
Loveta langsung berbalik ke arah papanya. Memandangi wajah papanya. Sebuah kecupan pun mendarat di pipi Dathan. Loveta selalu melakukan itu saat papanya tidur dengannya.
Neta yang melihat hal itu tersenyum. Ternyata begitu mengemaskan ketika melihat ayah dan anak di depannya itu.
Dathan yang merasakan pipinya dikecup pun membuka perlahan matanya. Saat membuka matanya dia melihat anaknya yang tertawa. Di belakang Loveta ada Neta yang tersenyum padanya. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa sekali karena saat membuka mata, senyuman manis menyambutnya.
Dathan yang tadi merasakan ciuman menebak siapa gerangan yang menciumnya. Namun, dari tawa Loveta, dia tahu jika sang anak yang tadi menciumnya.
Loveta tertawa. Dia selalu geli jika dicium oleh sang papa. Apalagi jambang tipis yang berada di rahang sang papa, membuatnya merasa geli sekali.
“Papa … Papa.” Loveta memanggil sambil tertawa.
“Anak Papa curi-curi cium-cium.” Dathan yang gemas terus mendaratkan kecupan di pipi Loveta.
“Papa ampun.” Loveta tertawa.
“Papa tidak akan lepaskan.” Dathan terus mendaratkan kecupan.
“Papa Lolo mau pipis.” Loveta yang tertawa pun tak tahan menahan kandung kemihnya yang sudah penuh.
Mendengar hal itu Dathan langsung melepaskan anaknya. Membiarkan anaknya untuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Loveta langsung bergegas bangun. Dia sudah tidak sabar untuk segera pipis.
“Mau ditemani, Cinta?” tanya Neta.
“Tidak Aunty, aku bisa.” Loveta turun dari tempat tidur. Kemudian berlari ke kamar mandi.
Kini tinggal Neta dan Dathan yang berada di tempat tidur. Dathan mengangsur tubuhnya. Meraih pinggang Neta.
“Nanti Cinta lihat.” Neta panik. Dia mendorongnya tubuh Dathan untuk menjauh. Tak mau sampai Loveta melihat dirinya yang begitu dekat dengan papanya seperti sekarang.
“Dia baru masuk, mana bisa lihat.” Dathan menyeringai.
“Iya, tapi nanti dia pasti akan segera keluar.” Neta masih begitu panik sekali.
“Kamu cantik sekali bangun tidur.” Dathan yang melihat wajah Neta benar-benar dibuat terpesona. Kata orang, cantiknya wanita yang benar adalah ketika dia bangun tidur. Jika bangun tidur saja dia cantik, memang benar adanya dia benar-benar cantik.
Neta merona dipuji cantik, tetapi pujian itu tidak pas sekali, mengingat anak Loveta di sekitar mereka. Dia takut Loveta melihat dirinya dan papanya begitu dekat.
“Pujiannya nanti saja, sekarang lepaskan aku, nanti Cinta lihat.” Neta menatap Dathan setengah kesal.
“Berikan dulu aku ciuman selamat pagi. Baru aku akan lepaskan.” Dathan menyeringai. Bukan Dathan jika tidak mengambil keuntungan dalam segala hal.
Neta menoleh ke arah pintu kamar mandi. Dia benar-benar takut Loveta keluar dan melihat papanya memeluknya seperti sekarang. Dia takut Loveta berpikir yang tidak-tidak. Karena takut Loveta keluar dan melihatnya, Neta pun segera mendaratkan kecupan di pipi Dathan.
Dathan seketika melepas pelukannya. Rasanya senang sekali mendapatkan kecupan dari Neta. Tepat saat pelukan itu dilepas, Loveta keluar dari kamar mandi. Neta segera berangsur bangun. Menghampiri Loveta. Dathan yang melihat wajah panik Neta hanya bisa tersenyum saja.
“Sudah, Cinta?” tanya Neta yang menghampiri Loveta.
“Sudah.” Loveta tersenyum. Dia kemudian beralih pada sang papa. “Papa ayo berenang.” Dia tak mau melepaskan kesempatan untuk berenang di vila.
Baru saja Dathan mengubah posisi nyaman dengan menyandarkan kepalanya dengan tangan yang melipat. Namun, anaknya sudah harus membuatnya melepaskan kenikmatan itu.
“Baiklah, kita berenang, ganti dulu bajumu.” Dathan selalu saja menuruti apa yang diminta anaknya.
__ADS_1
“Ye … kita berenang.” Loveta tampak begitu senang sekali.