Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Tendangan


__ADS_3

Neta dan Dathan membiarkan Loveta menangis. Membiarkan sang anak mengungkapkan kesedihan dengan tangisan. Berharap nanti setelah menangis, anaknya tenang.


Mengingat Loveta terus menangis, Dathan memutuskan untuk pulang. Arriel dan Adriel tadinya ingin ikut ke rumah Dathan, tetapi Dathan dan Neta yakin jika Loveta akan baik-baik saja. Karena itu menyarankan untuk tidak ikut tidak apa-apa.


Dathan dan Neta membawa Loveta pulang. Sepanjang di jalan Loveta masih menangis. Dia benar-benar merasa sedih Liam pergi. Neta yang kebetulan duduk di belakang, terus meyakinkan Loveta. Jika nanti dia akan bertemu dengan Liam.


Loveta yang terus menangis pun justru perlahan mengantuk dan tertidur. Neta yang melihat anaknya tidur membelai lembut. Merasa kasihan sekali dengan anaknya itu.


“Dia benar-benar merasa kehilangan.” Dathan melihat anak dan istrinya dari pantulan kaca.


“Iya, dan beruntungnya, dia sempat bertemu. Coba bayangkan jika dia tidak bertemu.” Neta hanya bisa bersyukur. Karena bisa membawa anaknya bertemu Liam. Jika tidak, dia yakin anaknya itu akan jauh lebih bersedih.


Dathan membenarkan ucapan sang istri. Kini dia ikut tenang. Paling tidak anaknya tidak akan bersedih.


Dathan terus melajukan mobil. Saat sampai di rumah Dathan segera menggodong anaknya. Membawa sang anak untuk memindahkan ke kamar. Anaknya yang begitu lelah, tak terusik sama sekali ketika dibawa oleh sang papi.

__ADS_1


Neta ikut menemani Dathan ke kamar Loveta. Membantu sang anak melepaskan sepatu dan menyelimuti. Memastikan sang anak nyaman saat tidur.


Dathan dan Neta segera keluar setelah memastikan anaknya aman. Neta dan Dathan memilih untuk ke kamar.


Di kamar Dathan segera menyalakan pendingin ruangan. Memastikan sang istri nyaman ketika berada di dalam kamar. Neta segera mendudukkan tubuhnya di tempat tidur. Sambil bersandar pada head board tempat tidur, Neta meluruskan kakinya. Cukup pegal berada di mobil dengan kaki ditekuk. Padahal sudah berada dalam keadaan setengah berbaring.


“Apa berat?” tanya Dathan ketika melihat sang istri yang menyandarkan tubuhnya di head board tempat tidur. Perut sang istri cukup besar untuk ukuran tujuh bulan. Dathan membantu meletakkan bantal di punggung sang istri.


“Tidak, masih aman.” Neta tersenyum. Mungkin bayangan orang hamil dua anak kembar begitu berat. Jadi wajar banyak orang khawatir.


“Rasanya tak sabar melihat mereka hadir.” Dathan ingin segera melihat hasil buah cintanya dengan sang istri. Pastinya akan secantik sang istri dan setampan dirinya.


“Bersabarlah. Nanti kita akan bertemu mereka.” Neta tersenyum. Seperti sang suami, dirinya juga begitu ingin segera bertemu dengan anaknya. “Dua bulan akan berlalu dengan cepat.” Dia meyakinkan sang istri.


“Baiklah. Aku akan menunggunya.” Dathan kembali mendaratkan kecupan di perut sang istri. “Auch ....” Saat mencium tiba-tiba terasa tendangan di bibir Dathan.

__ADS_1


Neta juga sempat terkejut dengan tendangan anaknya dari dalam perut, tetapi dia jauh lebih terkejut ketika mendengar sang suami berteriak.


“Lihatlah, sepertinya dia memintamu bersabar.” Neta tersenyum.


Dathan gemas sekali. Karena sang anak memberikannya kode. “Iya, papi akan bersabar menunggu kalian.” Dathan kali ini mencium perut sang istri lagi. Namun, tidak ada tendangan lagi. Dia mengalihkan padangan pada sang istri.


Neta menaikkan bahunya. Tanda tidak tahu kenapa anaknya tidak menendang lagi.


Dathan pun memilih membelai lembut perut sang istri. Kali ini sebuah tendangan kembali dilakukan sang anak.


“Sepertinya mereka mau tos.” Neta tertawa.


“Kamu—“ Belum sempat Dathan selesai bicara, satu tendangan kembali diberikan ke arah tangan Dathan. “Sepertinya mereka berdua mengajak tos.” Dathan tertawa. Tak hanya sekali tendangan diberikan oleh anaknya, tetapi dua kali. Itu menandakan jika dua anaknya memberikan tos. Setuju dengan ucapan papinya yang mengatakan akan menunggu.


“Iya.”

__ADS_1


Dathan dan Neta begitu senang bisa berinteraksi dengan anak mereka. Karena dengan begitu mereka bisa merasakan anak-anak mereka hadir di tengah-tengah mereka berdua.


__ADS_2