Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Chef Dathan


__ADS_3

Suara mobil Dathan terdengar. Neta yang mendengar itu segera bergegas keluar. Dia tak sabar untuk memakan bubur yang dibeli oleh Dathan. Namun, saat melihat Dathan tampak tidak membawa bungkusan yang tampak lain, membuat Neta mengerutkan dahinya.


“Buburnya mana?” Neta yakin jika yang dibeli Dathan bukan bubur.


“Restorannya tutup.” Tadi Dathan sudah sampai di sana. Namun, ternyata restorannya tutup. Dia sampai menghubungi Adriel untuk memastikan restoran yang didatanginya tidak salah. Namun, memang benar jika restoran tidak berjualan.


Neta tampak kecewa. Keinginannya makan bubu seafood sudah didepan mata. Namun, justru tidak mendapati keinginannya.


“Lalu kamu bawa apa?” Neta yang melihat sang suami membawa plastik, menanyakan apa itu. Karena jika bukan bubur, pasti barang lain.


“Karena restoran tutup, aku putuskan ke supermarket untuk membeli bahan untuk membuat bubur. Aku akan memasakkan untukmu.” Dathan tidak tinggal diam begitu saja. Dia memilih untuk membuat bubur sendiri agar bisa menuruti keinginan sang istri.


“Lalu kamu tidak kerja?” Tadi niat Neta hanyalah meminta untuk membelikan bubur dan membiarkan sang suami kembali bekerja. Namun, jika sang suami ingin memasak. Jelas tentu saja itu akan membuatnya tidak akan berangkat bekerja.


“Tidak apa-apa. Aku bisa kerjakan pekerjaan dari rumah.” Dathan tersenyum. Demi istrinya dia akan merelakan waktunya. Beruntung dia pemilik perusahaan. Jika hanya karyawan bisa-bisa dirinya ditendang.


Dathan mengayunkan langkahnya menuju ke dapur. Neta mengekor di belakang Dathan. Dia duduk di kursi bar yang mengarah ke dapur.


“Kamu bisa membuat bubur?” Neta memastikan kembali. Dia masih ragu sang suami bisa melakukan hal itu.


“Kita lihat saja.” Dathan hanya tersenyum saja.


Neta menjadi ragu ketika melihat senyum Dathan. Namun, mengingat sang suami memang pandai memasak. Jadi dia sedikit percaya jika suaminya bisa memasak.


Dathan melepaskan dasi yang melingkar di lehernya. Kemudian memberikannya pada sang istri. Neta pun menerimanya. Tidak menolak sama sekali.


Saat mulai memasak, Dathan menggulung lebih dulu lengan kemejanya. Barulah dia mulai memasak. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil berasa kemudian mencucinya. Dathan kemudian membersihkan kepiting dan udang yang dibelinya. Kemudian memecahkan udang untuk dikukus.

__ADS_1


Dathan menyiapkan udang yang sudah siapkan untuk ditumis sampai harum. Menambahkan cangkak kepiting yang tadi dipecahkannya. Saat aromanya sudah tercium, Dathan menambahkan daun bawang, wortel, dan bawang bombay yang sudah dipotong-potong. Kemudian menumisnya bersama udang dan cangkak kepiting. Saat sudah layu, baru Dathan menambahkan air kaldu ke dalamnya.


Alih-alih menggunakan santan, Dathan memilih untuk menggunakan susu. Memasaknya di dalam panci membuatnya hangat.


Tangan Dathan begitu cekatan memasak bubur. Meja dapur pun tampak bersih saat Dathan memasak. Sudah seperti chef profesional.


Neta yang melihat Dathan masak hanya bisa menggeleng heran. Suaminya benar-benar luar biasa sekali.


“Kamu tahu, saat kamu memasak, tingkat ketampananmu bertambah.” Neta tersenyum menatap sang suami.


“Apa artinya kamu semakin jatuh cinta padaku?” Dathan tersenyum sambil terus bergerak memasak.


“Aku memang selalu jatuh cinta padamu.” Neta memang mengakui. Dia selalu jatuh cinta pada Dathan setiap hari. Apalagi sang suami selalu memberikan perhatian padanya.


Dathan tersenyum. Bukan hanya Neta saja yang jatuh cinta. Dirinya pun juga jatuh cinta dengan sang istri setiap hari.


Dathan terus memasak. Hingga akhirnya bubur pun matang. Dengan cepat dia menyajikan di mangkuk saji. Menghiasi persis di restoran-restoran ternama.


Neta yang melihat makanan sudah siap segera beralih ke meja makan. Menunggu makanan disajikan oleh Dathan.


“Silakan.” Dathan memberikan mangkuk berisi bubur pada sang istri.


“Terima kasih chef Dathan.” Neta menggoda Dathan.


Dathan tersenyum. Kemudian ikut duduk. Dia juga menaruh mangkuk bubur di depannya.


Neta mencium aroma bubur yang begitu enak. Dia berharap rasanya sesuai dengan aromanya. Tak mau menunggu lama, dia pun segera menyendok bubur tersebut dan meniupnya sebentar, baru memasukkannya ke dalam mulut. Saat bubur masuk ke mulut,

__ADS_1


Neta merasakan bubur yang creamy sekali. Bubur gurih dari susu, dan rasa kepiting dan udang yang begitu enak sekali. Ini jauh lebih enak dibanding bubur yang dibelinya di restoran.


“Ini enak sekali.” Neta menikmati sekali bubur yang dibuat Dathan. Rasanya luar biasa. Membuatnya tidak berhenti untuk memasukkan ke dalam mulutnya.


Dathan senang ketika sang istri makan dengan lahap. Tentu saja dia bangga bisa membuat makanan enak untuk sang istri.


“Sejak kapan kamu bisa membuatnya?” Neta begitu penasaran. Karena tidak tahu Dathan sejago itu membuat bubur.


“Saat Cinta sakit aku sering membuatnya. Jadi aku bisa membuatnya. Mama sering membuat ini. Jadi ini resep dari mama.”


Dathan menceritakan dari mana dirinya bisa memasak bubur.


Neta akhirnya tahu jika sang suami mendapatkan resep dari mamanya. Pantas rasanya enak.


“Kamu bisa memasak. Lalu kamu bisa apa lagi?” Neta penasaran keahlian apa lagi yang dimiliki sang suami.


“Banyak.” Dathan tersenyum.


“Kamu ahli apa lagi?” Neta begitu penasaran.


Dathan mendekatkan tubuhnya pada sang istri. Berbisik tepat di telinga sang istri. “Ahli memuaskanmu.”


Mendengar bisikan sang suami membuat Neta malu. Pipinya seketika menghangat. Merasa malu ketika membahas hal intim di meja makan. Dia pun memilih untuk memakam bubur buatan sang suami.


“Buburnya enak.” Neta memilih mengalihkan pembicaraan. Di rumah tidak hanya dirinya dan Dathan saja. Ada asisten rumah tangga. Jadi tidak bisa sembarangan bermesraan.


Dathan hanya bisa tersenyum ketika melihat sang istri. Dia selalu suka menggoda sang istri.

__ADS_1


__ADS_2