
Dathan, Neta, dan Loveta yang sudah selesai sarapan segera berangkat. Seperti yang dijelaskan oleh Neta kemarin, dia yang akan menyetir. Jadi dengan penuh semangat Neta segera masuk ke kursi kemudi.
Dathan membantu Loveta yang duduk di belakang, dan segera beralih ke kursi yang berada di samping sang istri.
“Mami mau bawa mobil?” Pertanyaan itu meluncur dari mulut Loveta.
“Iya, mulai sekarang Mami akan antar kamu dan Papa.” Dengan percaya diri Neta menjelaskan. Senyumnya menghiasi wajahnya.
Loveta membulatkan matanya. Gadis kecil itu semakin menggemaskan ketika mata kecilnya membulat.
“Lolo tidak mau.” Dengan suara lantang Loveta menolak ketika sang mami akan menyetir mobil.
“Kenapa?” tanya Neta yang begitu terkejut sekali.
“Kata Leo, maminya bawa mobil, lalu lampu depan menyala ke kiri, tetapi dia belok ke kanan. Jadi mobilnya tertabrak.” Loveta menjelaskan sambil menunjukan lampu sein yang berada di dashboard mobil. Kemarin temannya itu menceritakan bagaimana sang mama membawa mobil. Yang akhirnya mengakibatkan sang mama shock. Beruntung mereka tidak apa-apa. Hanya saja sebuah motor yang tertabrak-terjatuh.
Neta terkesiap. Untuk sejenak dia mencerna ucapan sang anak. Dari bagaimana anaknya bercerita tentang mami dari Leo.
Dathan yang mendengar hal itu seketika panik. Dia takut sang istri juga melakukan hal itu. Menyalakan sein ke kiri, tetapi belok ke kanan. Seperti para ibu-ibu yang biasa ditemuinya di jalanan.
“Sayang, sebaiknya kamu urungkan niatmu saja.” Dathan yang takut segera melarang sang istri.
Neta langsung menekuk bibirnya. Merasa kesal karena dilarang untuk mengendarai mobil. Padahal ini agar praktis.
“Sayang, Mami dan mami Leo berbeda. Mami sudah punya surat izin mengemudi yang resmi. Mami sudah ahli.” Neta mencoba membujuk.
__ADS_1
Loveta menatap sang papa. Seolah meminta pendapat sang papa. Dia bingung.
Neta melihat anaknya melihat sang suami. Hal itu membuat Neta beralih pada sang suami. Menatap pria yang begitu dicintainya itu. “Sayang, percayalah padaku. Aku bisa.” Dia mencoba meyakinkan Dathan.
Dathan menimbang-nimbang lagi. Apa yang harus dilakukan. Istrinya tampak begitu meyakinkan sekali. Namun, dia juga takut. Apalagi belum pernah melihat sang istri menyetir.
“Baiklah.” Dathan yang menimbang-nimbang akhirnya memilih untuk mengiyakan.
Neta bernapas lega karena akhirnya Dathan memberikan izin.
Dathan segera beralih pada anaknya. “Sayang, duduk manis dan pakai sabuk pengamannya.” Dia memberikan perintah.
Loveta pun segera menarik sabuk pengamannya. Dathan juga ikut membantu anaknya memasang sabuk pengamannya itu.
Saat melihat sang anak sudah aman, Dathan segera beralih pada sabuk pengamannya sendiri. Memasangnya untuk keselamatan. Jantungnya berdebar-debar ketika sang istri akan menyetir. Tangannya terus berpegangan. Agar jika ada apa-apa dia bisa selamat.
Wajah Dathan dan Loveta begitu tegang. Sudah seperti mereka sedang uji nyali.
“Sayang, kenapa diam saja?” Neta melihat sang anak dari pantulan kaca di atas dashboard mobil.
“Iya.” Loveta hanya menjawab singkat.
Neta beralih pada sang suami. “Sayang, kamu tegang sekali.” Neta yang melihat raut wajah sang suami merasa sangat lucu sekali.
“Sayang, lebih baik kamu fokus pada jalanan. Jangan melihat ke arahku.” Dathan takut sekali ketika diajak bicara oleh Neta.
__ADS_1
Neta melirik kesal. “Kalian seperti sedang naik roller coaster saja.” Neta mengomentari apa yang dilakukan anak dan suaminya.
“Ini lebih menyeramkan dari naik roller coaster,” jawab Dathan bergumam.
“Apa?” Suara Dathan yang bergumam tidak terdengar oleh Neta dengan jelas.
“Tidak apa-apa. Sebaiknya kamu fokus saja.” Dathan menggeleng. Meluruskan wajah Neta untuk melihat ke arah depan.
Tepat saat hampir sampai ke wilayah sekolah lampu sein menyala. Dathan sudah ancang-ancang, takut istrinya seperti mami Leo. Namun, beruntung. Ternyata hal itu tidak terjadi sama sekali.
Akhirnya perjalanan menegangkan itu selesai juga. Walaupun Neta benar-benar bisa mengendarai mobil, tetap saja itu membuat Dathan dan Loveta takut.
Wajah Dathan dan Loveta yang pucat, akhirnya kembali berseri lagi. Mereka cukup lega karena selesai juga perjalanan ini.
Neta dan Dathan masuk. Mengantarkan Loveta masuk. Di sana ada Leo yang sudah duduk manis.
“Hai, Leo.” Loveta menyapa.
“Hai, Lolo.” Leo membalas sapaan temannya itu. Dia beralih pada Neta. “Pagi, Aunty, Uncle.” Dia menyapa.
“Hai, Leo. Apa mamimu sudah sembuh?” Neta membalas sapaan sambil bertanya.
Leo menatap Loveta, pasti temannya itu yang bercerita. “Sudah, Aunty. Mami sudah sembuh.”
“Leo, kamu tahu tidak, tadi mami aku juga bawa mobil. Aku takut sekali. Sudah seperti naik roller coaster.” Loveta dengan polosnya menceritakan apa yang baru saja dirasakannya.
__ADS_1
Neta hanya bisa membulatkan matanya ketika mendengarkan perumpamaan yang diberikan anaknya. Neta pun mengalihkan pandangan pada sang suami. Dathan langsung mengalihkan pandangan. Tak berani melihat, karena memang yang dirasakan sang anak, juga dirasakan olehnya.