Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Tidak sendiri


__ADS_3

“Cinta, kenapa?” Neta menatap Dathan.


Setelah tadi makan malam, Dathan memilih untuk mengantarkan Neta. Mobil baru saja sampai di depan kos Neta, dan terdengar telepon yang berbunyi. Dathan menunjukkan ponselnya ketika ada panggilan telepon tersebut. Neta tidak masaka Dathan mengangkat telepon, karena pasti alasan menghubungi adalah Loveta.


“Cinta demam. Jadi aku harus ke sana.” Dathan menjelaskan pada kekasihnya tentang rencananya itu.


“Kalau begitu aku akan turun, agar kamu segera ke sana.” Neta segera melepaskan sabuk pengamannya, kemudian keluar dari mobil. Namun, ternyata pintu mobil tidak bisa dibuka. Dathan tidak membuka pintu tersebut. Neta pun langsung memutar kembali tubuhnya.


“Mau ke mana?” Neta langsung disambut pertanyaan dari Dathan.


“Mau pulang.” Neta menjawab dengan polosnya.


“Kamu harus ikut aku ke sana.” Dathan tidak mau sampai nanti kedekatannya dengan Arriel membuat Neta cemburu.


Neta menautkan kedua alisnya. Merasa bingung dengan yang dikatakan oleh Dathan.


“Kamu takut aku cemburu?” Neta memastikan pada Dathan.


“Anggap saja begitu.” Dathan tersenyum.


“Sayang, bagaimana aku bisa cemburu. Lagi pula sudah lima tahun kamu sering bertemu dengannya. Jika harusnya tergoda, bukankah dulu bisa.” Neta merasa memang tidak akan cemburu pada Dathan. Dia yakin sekali dengan Dathan jika dia akan menjaga hatinya.


Dathan senang ketika Neta memberikan kepercayaannya. Dia memang tidak akan merusak kepercayaannya itu.

__ADS_1


“Tapi, aku tetap ingin kamu ikut.” Dathan tetap dengan pendiriannya.


Neta tidak punya pilihan. Dia pun memilih untuk ikut sang kekasih. Lagi pula, dengan begitu dia bisa bertemu Loveta.


“Baiklah.” Akhirnya Neta kembali menarik sabuk pengamannya.


Saat Neta sudah siap, Dathan pun memilih untuk segera melajukan kembali mobilnya. Mobil melaju menuju ke apartemen milik Arriel.


Jarak apartemen sekitar tiga puluh menit. Di tengah jalan, Dathan membeli obat, plester kompres demam, dan termometer. Nanti iti akan digunakan untuk merawat Loveta.


Dathan dan Neta segera menuju ke unit apartemen Arriel. Mereka berharap Loveta baik-baik saja. Di depan apartemen Dathan menekan bel. Sesaat kemudian pintu terbuka. Tampak Arriel di balik pintu.


Arriel begitu terkejut ketika Dathan tidak datang sendiri. Dia datang bersama kekasihnya. Jika kemarin dia hanya melihat di layar ponselnya. Kini dia melihat secara langsung. Arriel akui jika kekasih Dathan cukup cantik. Terlihat begitu masih muda. Pikirannya memikirkan, umur berapa kekasih Dathan itu? Yang jelas, pasti di bawah umurnya.


“Bagaimana keadaan Cinta?” Suara Dathan terdengar bertanya.


“Masih demam dan dia ada di kamar.” Arriel memberitahu sambil melebarkan pintu mempersilakan Dathan dan kekasihnya untuk masuk.


Dathan menarik tangan Neta lembut. Mengajaknya untuk masuk bersamanya. Apa yang dilakukan Dathan tentu saja menarik perhatiannya. Dia sedikit kesal ketika melihat keromantisan tersebut.


“Di mana kamarnya?” Dathan berbalik ke arah Arriel.


Arriel tersadar ketika suara Dathan terdengar. Dia segera menutup pintu dan menujukan ke mana arah kamar yang dipakai anaknya.

__ADS_1


Dathan segera mengayunkan langkahnya menuju ke kamar yang diarahkan Arriel. Saat masuk ke kamar dia segera menghampiri anaknya yang tidur di tempat tidur. Dathan menempelkan punggung tangannya di dahi sang anak. Suhunya tidak terlalu tinggi. Jadi tidak terlalu mengkhawatirkan.


Neta yang mengekor di belakang Dathan melihat jelas jika Loveta sedang tertidur pulas. Saat Dathan mengecek suhu tubuh Loveta, dia segera memberikan termometer pada Dathan. Meminta Dathan mengecek dengan alat tersebut dengan akurat.


Dathan yang menerima termometer segera duduk di tepi tempat tidur untuk mengecek suhu tubuh Loveta. Suhu tubuhnya 38°c. Panas, tetapi tidak terlalu panas.


Neta yang melihat suhu tubuh Loveta segera memasak plester perdera demam di dahi Loveta. Berharap itu dapat menurunkan suhu tubuh Loveta.


“Bagaimana?” Arriel di belakang Dathan langsung bertanya.


“Tidak apa-apa. Dia baik-baik saja. Hanya diberikan obat nanti suhu tubuhnya turun.” Dathan menjelaskan hal itu.


Dathan segera mengangkat tubuh sang anak setengah bangun. Dia menatap Neta dan memberikan isyarat untuk membuka obat. Dengan cekatan Neta pun melakukannya. Dia membuka kotak berisi obat dan segera menyuapkan obat ke mulut Loveta.


Beruntung Loveta mau membuka mulut. Jadi dengan mudah obat masuk.


Saat obat masuk, Dathan kembali merebahkan rubuh Loveta. Membiarkan dia untuk tidur kembali.


“Suhu tubuhnya akan reda nanti. Tunggu saja.” Dathan berdiri sambil berbalik ke arah Arriel.


“Apa dia akan demam lagi nanti?” Arriel melempar pertanyaan itu.


“Bisa iya, bisa tidak.” Suhu tubuh yang panas memang perlu proses untuk reda. Jadi dia tidak bisa memastikan.

__ADS_1


Jawaban Dathan membuat Arriel justru bingung. Jika malam-malam demam semakin panas, pasti dia akan panik. Apalagi dia sendiri. “Than, aku takut Loveta demam lagi. Jadi menginaplah di sini.” Satu kalimat permohonan yang diberikan Arriel.


__ADS_2