Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Hari Terakhir Bulan Madu


__ADS_3

Di belahan dunia lain, sepasang suami istri sedang merapikan barang-barangnya. Rencananya besok mereka akan pulang. Perjalanan besok pasti akan sangat panjang sekali.


“Sudah masuk semua barang kita?” Dathan ikut duduk di lantai yang terbuat dari kayu itu. Membantu sang istri memasukkan barang-barang mereka.


Rencananya mereka besok pagi akan berangkat dari pulau ini. Jadi hari minggu malam, mereka bisa sampai di rumah.


“Sudah, dan tidak ada yang tertinggal.” Neta tersenyum.


“Ayo, kalau begitu jika sudah kita nikmati malam ini di pulau ini.” Dathan tersenyum. Malam ini akan jadi malan terakhir mereka berbulan madu. Jadi tentu saja itu membuat mereka akan tidak akan melepaskan kesempatan tersebut.


“Baiklah, setelah aku selesaikan semua ini, kita akan bersantai di luar.” Neta tersenyum. Dia segera menyelesaikan merapikan kopernya.


Barang-barang sudah masuk semua. Tak ada yang tertinggal karena Dathan sudah menggeceknya. Saat barang sudah aman, mereka berdua memutuskan untuk berpindah ke teras. Duduk di sofa. Dathan setengah tidur, dan Neta bersandar pada tubuh sang suami. Dathan dengan mudah membelai lembut rambut sang istri.


“Cepat sekali seminggu.” Dathan merasa waktu bergulir dengan cepatnya. Hingga terasa waktu begitu kurang. Dia ingin menikmati waktu lebih banyak lagi. Sayangnya, ada tanggung jawab yang harus dikerjakan. Ada Loveta yang ditinggalkan. Ada pekerjaan yang juga ditinggalkan. Tentu saja hal itu membuat mereka harus berpikir jika harus segera pulang.

__ADS_1


Seminggu ini mereka menikmati pulau indah ini. Dari mulai berenang, main di pantai, bersepeda, main ayunan, menikmati makanan. Banyak hal yang mereka lakukan seminggu ini. Tentu saja itu menjadi kenangan indah untuk keduanya.


Neta tersenyum. “Nanti kita honeymoon lagi.” Dia menenangkan sang suami.


“Aku rasa kita tidak akan honeymoon lagi, tetapi babymoon.” Dathan membelai lembut perut Neta. Berharap benih-benih yang ditaburnya di perut sang istri akan menghasilkan nyawa di sana.


Neta tersenyum. Dia j berharap bukan honeymoon lagi, tetapi babymoon. Dia juga berharap jika akan ada anak di dalam kandungan mereka. Jadi dengan segera mereka akan mendapatkan keturunan.


“Akan seperti apa perutku jika hamil.” Neta memegangi perutnya. Penasaran dengan apa yang akan terjadi.


Neta tersenyum. Selalu senang ketika sang suami memujinya. “Apa kamu akan mendampingi aku saat hamil. Menemani aku berkunjung ke dokter. Menemani aku senam. Menuruti aku sedang ngidam.” Neta membayangkan akan hal itu. Dia sering melihat film di mana suami selalu siaga menjaga ketika istrinya hamil.


“Tentu saja aku akan melakukannya. Dulu saat Cinta, aku tidak pernah melakukan itu. Jadi kali ini, aku tidak akan melepaskan kesempatan itu.” Dathan mengeratkan pelukannya.


“Apa dulu kamu dan Arriel tidak melakukannya?” Neta memiringkan kepalanya sambil sedikit mendongak. Dia ingin tahu sedikit cerita.

__ADS_1


“Hubungan kami tidak baik. Aku hanya bertemu ketika dia pemeriksaan. Dia terus bekerja. Tidak peduli dengan kehamilannya. Dia juga memilih untuk meminum banyak vitamin dibanding olahraga. Saat melahirkan, dia memutuskan untuk operasi. Karena tidak mau susah payah mengeluarkan anaknya.” Jika mengingat apa yang terjadi Dathan merasa lucu. Seperti itulah hidupnya dulu. Banyak luka yang ditorehkan Arriel. Hingga mungkin bagi Dathan, menyakitkan untuk diingat.


Neta merasa Arriel dulu benar-benar tidak mengharapkan Loveta. Namun, melihat Arriel sekarang, aku yakin dia sudah berubah. Dia yakin sekali. Arriel yang dulu dan sekarang berbeda. Terbukti Loveta tampak nyaman bersama mamanya. Namun, ada untungnya juga Arriel seperti itu. Jadi kini yang dicintai Dathan adalah dirinya.


“Apa kamu tidak suka jika aku melahirkan operasi?” Neta justru tertarik bertanya akan hal itu. Apalagi setelah mendengar cerita dari Dathan tadi.


“Tentu saja tidak. Kamu mau melahirkan dengan cara apa pun aku tidak masalah. Yang terpenting kalian sehat, dan aku tentunya bisa menemani.” Dathan mendaratkan kecupan di pipinya.


Neta tersenyum. Dia senang Dathan tidak banyak menuntutnya. Pastinya, sang suami akan mementingkan keselamatan anak dan istrinya. Dengan cara apa pun, pastinya ajan dilakukan.


“Yang terpenting saat ini adalah ….”


Dathan menggantung ucapannya. Hal itu tentu saja membuat Neta menunggu. Kepalanya mendongak ke arah Dathan yang berada di belakangnya. Menunggu kelanjutan ucapan Dathan.


“Membuat anaknya dulu.” Dathan membenamkan bibirnya.

__ADS_1


Neta selalu saja tidak pernah bisa menolak pesona sang suami. Apalagi ini akan jadi malam terakhir mereka di pulau ini. Besok mereka akan kembali. Tentu saja malam ini, mereka akan menggunakan waktu sebaik mungkin.


__ADS_2