Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Nama Yang Sama


__ADS_3

“Selamat ulang tahun ....”


Anak-anak bernyanyi riang. Semua menyanyikan lagu untuk Leo yang berulang tahun. Loveta juga ikut bernyanyi dengan riangnya. Merasa senang sekali bernyanyi bersama teman-temannya.


Dathan menemani anaknya. Hanya dirinya sendiri yang seorang pria. Tentu saja itu membuat ibu-ibu histeris. Di kalangan ibu-ibu Dathan memang seorang duda keren. Mereka semua pernah melihat gosip perceraian Dathan, hanya saja tak ada satu pun yang membahas hal itu di hadapan Dathan. Loveta sendiri pun di sekolah tampak biasanya. Dia masih merasa papa dan mamanya bersama, hanya saja tinggal terpisah karena sang mama sibuk.


Leo langsung meniup lilinnya. Dia begitu bersemangat sekali ketika meniup lilin. Sorak-sorai teman-temannya bertepuk tangan. Mereka juga ikut senang melihat pemandangan itu.


Leo segera memotong kue dan diberikan pada mama dan papanya. Tak lupa juga pada adik kecilnya. Kehangatan itu tertangkap mata oleh Loveta. Senyum gadis itu tergambar indah.


Dathan yang melihat senyum anaknya hanya bisa merasakan sakit. Beberapa kali Loveta meminta adik padanya. Namun, saat Dathan hanya bisa meminta Loveta berdoa. Kini saat melihat kebersamaan Leo dan keluarganya, pasti ada rasa iri yang dirasakan Loveta. Dathan hanya berharap jika pulang dari sini anaknya tidak akan akan meminta adik.


“Ayo kita lihat nama siapa yang akan diambil untuk mendapatkan potongan kue dari Leo.” Pembawa acara mengambil nama yang ada di sebuah tempat kaca. Ini adalah bagian dari acara. Hanya untuk seru-seruan saja.


Semua anak begitu antusias. Leo adalah siswa populer di sekolah. Anak-anak taman kanak-kanak sekarang sudah pintar-pintar ketika ditanya tentang siapa siswa tertampan di sekolah. Nama Leo selalu jadi nomor satu disebut.


“Loveta.” Ketika pembawa acara membuka kertas, dia mendapatkan nama Loveta di kertas.


“Ye ....” Loveta bersorak senang. Dia bangga karena dari sekian banyak teman, namanya yang dipanggil.


Dathan yang melihat anaknya hanya bisa menggeleng heran. Anaknya benar-benar tidak tampil elegan sama sekali. Dia berpikir harusnya anaknya sok jual mahal sedikit, jadi tidak terlihat begitu senang. Dathan hanya bisa menepuk dahinya. Merasa aneh dengan anaknya.


“Leo tolong berikan kue pada Loveta.” Pembawa acara pun memberitahu Leo.


Leo memotong kue. Dia segera memberikan kue pada Leo. Leo tampak biasa saja. Tanpa ekspresi sama sekali. Dia memang anak laki-laki yang pendiam.


“Selamat ulang tahun, Leo.” Loveta mendaratkan kecupan di pipi Leo.


Leo hanya terkejut mendapatkan kecupan dari Loveta. Ibu-ibu yang ada di sana pun bersorak. Merasa aksi Loveta begitu menggemaskan.


Dathan yang melihat kelakuan sang anak hanya mengembuskan napasnya. Merasa heran dengan aksi nekat sang anak.


Katanya buah jatuhnya tidak akan jauh dari pohonnya. Begitulah, Than. Anakmu benar-benar persisi dirimu.


Dathan berbicara pada dirinya sendiri. Menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dilakukan oleh Loveta.


“Pak Dathan, Loveta lucu sekali.” Seorang ibu mengajak bicara Dathan.

__ADS_1


Dathan hanya bisa tersenyum saja. Dia sebenarnya malu, hanya saja dia harus ada di garda terdepan untuk bersama anaknya.


“Biasa, Bu, anak-anak selalu punya cara meluapkan rasa sayang pada temannya.” Dathan menjawab dengan tenang. Dari ibu-ibu di sampingnya, dia mengalihkan pandangannya pada sang anak yang berjalan ke arahnya. Tangan Dathan yang sedari tadi di dalam kantung pun segera keluar, karena anaknya hendak memintanya membawakan kue.


“Iya, anak-anak memang selalu punya cara sendiri.” Ibu itu pun menanggapi ucapan Dathan.


“Papa tolong bawa.” Loveta memberikan kue pada Dathan.


Dathan segera menerima kue dari anaknya. Saat tangannya satu memegang kue, satu tangan memegang kepala Loveta. Membelai lembut rambut lurus anaknya.


Pesta berlanjut. Para tamu undangan mulai menikmati makanan yang ada. Anak-anak pun juga asyik bermain bersama. Menikmati permainan-permainan yang ada.


Dathan tidak makan, dia tidak terlalu nyaman sebenarnya ke pesta. Mulai dari pesta pernikahan, pesta bisnis, bahkan pesta ulang tahun seperti ini.


Di saat menunggu anaknya menikmati pesta, Dathan memilih memantau dari kejauhan. Tampak anaknya sedang makan bersama dengan teman-temannya. Jadi Dathan merasa anaknya aman-aman saja.


Dathan yang bosan pun memilih untuk mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan pada Neta yang berada di seberang sana.


[Sedang apa?]


Dathan menunggu pesan di balas. Dia ingin sekali tahu apa yang dilakukan oleh Neta. Apalagi sejak pagi dia belum bertemu dengan gadis itu.


Neta yang mendapatkan pesan di ponselnya segera mengambil ponselnya. Dilihatnya pesan itu berasal dari Dathan. Senyum Neta pun langsung mengembang ketika melihat pesan itu.


[Sedang merapikan beberapa barang.]


Pesta baru saja usai. Jadi Neta sedang merapikan dekorasi yang ada. Tadi pagi ada seorang donatur yang datang ke panti asuhan untuk merayakan pesta ulang tahun dengan anak-anak panti asuhan. Tepat jam satu tadi, pesta usai. Karena keluarga mereka juga mengadakan pesta di rumah pada sore hari. Jadi mereka harus segera kembali.


[Apa perlu aku jemput pulangnya?]


Sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya. Neta yang melihat pesan itu tersenyum. Dathan begitu gigih. Dia punya banyak waktu untuknya. Sekadar menjemputnya saja dia bisa.


[Tidak, aku akan pulang dengan Maria.]


Namun, Neta merasa Dathan tidak perlu menjemput. Karena memang dirinya berangkat dengan temannya. Kasihan jika temannya harus pulang sendiri.


[Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu besok di kantor.]

__ADS_1


Satu pesan kembali masuk ke ponsel Neta.


[Sampai jumpa besok.]


Membayangkan hari esok membuat Neta tersenyum saja. Sungguh dia begitu antusias untuk hari esok.


“Dari tadi Ibu perhatikan kamu senyum-senyum sendiri.” Bu Damita yang memerhatikan Neta pun segera bertanya.


Neta mengalihkan pandangan pada Bu Damita. “Aku memang selalu tersenyum.” Dia memamerkan deretan giginya.


“Dia sedang jatuh cinta, Bu.” Maria yang berada di samping Bu Damita pun menggoda Neta.


“Siapa yang jatuh cinta?” Neta mengelak.


Maria menjulurkan lidahnya. Menggoda Neta. Neta hanya menatap malas pada temannya itu, karena memang begitulah mereka. Saling menggoda satu dengan yang lain.


“Kamu sudah punya kekasih?” Bu Damita bertanya.


“Belum, Bu, jangan dengarkan Maria.” Neta membela dirinya.


“Bohong, Bu. Dia sudah punya kekasih. Seorang duda empat puluh tahun.” Maria menggoda Neta.


“Maria.” Neta memukul Maria karena kesal dibocorkan rahasia. Walaupun bukan tentang ciuman kemarin diceritakan, tetap saja dia kesal.


Bu Damita membelalak kaget. Anaknya baru berusia dua puluh lima, bagaimana bisa menjalin hubungan dengan pria yang usianya cukup banyak.


“Benar, Ta?” Bu Damita tampak begitu penasaran.


Dari raut wajah Bu Damita, Neta melihat jelas jika Beliau terkejut. “Jangan dengarkan Maria, Bu.” Neta merasa tidak mau membuat Bu Damita berpikir yang tidak-tidak. Lagi pula, hubungannya belum jelas dengan Dathan.


Bu Damita begitu lega mendengarnya.


Neta yang melihat kelegaan Bu Damita, memberikan kode Maria untuk menutup mulutnya. Seketika Maria menutup mulutnya.


“Leo, kamu tidak ambil nama yang di tembok itu. Bukankah namanya sama denganmu.” Neta memilih mengalihkan pembicaraan. Tak mau sampai membuat Bu Damita membahas tentang Dathan.


“Iya, lumayan di pasang di kamar.” Maria menimpali.

__ADS_1


“Apa boleh?” Leo yang melihat hal itu begitu senang.


“Tentu saja boleh.” Neta tersenyum. Tadi nama anak yang berulang tahun tadi pagi bernama Leo. Jadi karena namanya sama tentu saja Neta tidak keberatan diambil ketas nama tersebut.


__ADS_2