Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Rumah Sakit


__ADS_3

Neta dan Dathan duduk di kursi di balkon lantai. Melihat anaknya yang bermain. Loveta tampak asyik duduk di lantai berbahan vinyl. Kegiatan sore melihat matahari terbenam memang selalu menyenangkan ketika dilakukan. Melihat kawanan burung yang terbang di langit jingga menjadi pemandangan indah yang begitu memanjakan mata.


“Perutku terasa sakit.” Di tengah-tengah suasana indah itu, tiba-tiba suara Neta terdengar.


Dathan segera mengalihkan pandangan pada istrinya. Wajahnya seketika panik ketika mendengar istrinya mengeluh.


“Apa kamu akan melahirkan?” tanya Dathan.


“Sepertinya begitu.” Neta merasa jika dia sudah mulai merasakan kontraksi awal.


“Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?” Dathan tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan istrinya.


“Sepertinya terlalu dini jika sekarang ke sana, karena kontraksinya masih terasa lama jedanya.” Neta menghitung durasi dari rasa mulas begitu berselang jauh. Jika ke dokter jelas dokter akan mengatakan jika masih lama melahirkannya.


“Lalu bagaimana? Apa kita harus menunggu di rumah?” Dathan jelas tidak tenang jika begini ceritanya.


Neta berusaha tetap tenang di saat sang suami panik. “Sebaiknya kamu titipkan Cinta dulu saja. Aku takut saat kita harus ke rumah sakit justru dia sendirian di rumah.” Neta menatap suaminya. Alih-alih memikirkan dirinya, dia justru memikirkan anaknya.


Dathan mengalihkan pandangan pada Loveta. Dia membenarkan ucapan istrinya. Jika lebih baik menitipkan Loveta terlebih dahulu. Karena takut jika nanti sibuk, anaknya justru terabaikan.


“Aku akan hubungi Adriel kalau begitu. Agar menjemputnya.” Dathan segera meraih ponsel yang berada di sebelahnya. Segera dia mencari nomor Adriel. Memberitahu untuk menjemput Loveta.

__ADS_1


“Driel, tolong jemput Loveta.” Dathan memang sudah membuat rencana dengan Adriel. Jika Neta melahirkan, Loveta akan tinggal bersama Arriel dan Adriel.


“Apa Neta sudah akan melahirkan?” tanya Adriel di seberang sana.


“Baru kontraksi awal.”


“Baiklah, aku akan ke sana.”


“Baiklah.”


Dathan segera memastikan ponselnya. Dia segera mengajak sang istri dan anaknya untuk turun. Melewati tangga, Dathan memastikan istrinya dengan perlahan. Tak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dathan segera membawa sang istri ke kamar. Meminta sang istri untuk beristirahat dulu. Tak lupa meminta istrinya untuk menghitung jarak kontraksi awal dirasakan.


“Sayang, Papi akan ke rumah sakit nanti. Jadi Cinta nanti di rumah mama dulu.” Dathan mencoba memberikan pengertian pada anaknya.


“Iya, adik bayi akan keluar nanti. Jadi Papi harus membawa mami ke rumah sakit. Nanti jika adik bayi sudah keluar, Papi akan kabari. Nanti Cinta bisa bertemu dengan adik bayi.” Dathan dengan lembut memberitahu anaknya.


“Iya, Papi.” Loveta mengangguk.


“Baik, sekarang ambil apa yang ingin Cinta bawa ke rumah mama.”


Loveta mengangguk dan segera berlalu ke kamarnya.

__ADS_1


Di saat sang anak sedang mengambil barang-barang miliknya, Dathan memanggil asisten rumah tangga. Meminta asisten rumah tangga untuk memasukkan barang-barang yang hendak dibawa ke dalam mobil. Menghindari jika tiba-tiba kontraksi sudah terasa, mereka bisa langsung ke rumah sakit. Dathan juga menghubungi Reno dan Rifa. Memberitahu jika Neta sudah merasakan kontraksi awal.


Beberapa saat kemudian Reno dan Rifa segera datang mereka ingin mengecek keadaan Neta. Sekaligus hadir untuk menemani teman mereka.


“Tidak dibawa ke rumah sakit sekarang saja, Than?” Reno ikut panik melihat istri temannya itu hendak melahirkan.


“Kata Neta tunggu dulu, tapi aku akan membawanya setelah Adriel menjemput Cinta saja. Aku benar-benar tidak tenang sekali. Lebih baik aku menunggu di rumah sakit.” Ini kali pertama Dathan menemani melahirkan. Saat kelahiran Loveta, Arriel memilih jalan operasi. Dokter sudah menentukan tanggal operasi. Berbeda dengan sang istri yang menginginkan persalinan normal. Tentu saja ini membuatnya berdebar-debar.


“Baiklah, kita tunggu Adriel dulu.” Reno pun mengangguk.


Selang beberapa saat Adriel datang. Dia datang sendiri mengingat sudah malam. Apalagi Arriel juga sedang hamil. Jadi butuh istirahat.


“Titip Cinta dulu.” Dathan menatap Adriel.


“Tenang saja. Dia akan aman. Kabari jika Neta sudah melahirkan.”


“Tentu saja.”


Akhirnya Loveta ikut dengan Adriel. Selama di rumah sakit, anaknya itu akan di rumah mamanya. Kini Dathan tinggal mengurus istrinya. Dia sudah memutuskan untuk membawa Neta ke rumah sakit. Karena memilih menunggu di sana dibanding menunggu di rumah. Maklum, Dathan terlalu takut ketika harus berada di rumah. Reno dan Rifa turut mengantarkan mereka ke rumah sakit.


“Sayang, kenapa harus lebih dini ke rumah sakit. Bukan waktu itu dokter sudah bilang bisa ke rumah sakit jika sudah merasakan kontraksi yang intens.” Neta masih melemparkan protesnya.

__ADS_1


“Dengar, aku tidak tenang di rumah. Jadi lebih aman di rumah sakit. Tidak apa-apa jika harus membayar biaya kamar. Dari pada aku jantungan di rumah.” Dathan tetap tidak mau mendengarkan protes istrinya. Dia merasa ini adalah pilihan terbaik.


Neta pasrah. Suaminya memang tampak panik. Jadi wajar suaminya memilih ke rumah sakit agar lebih tenang. Kali ini Neta pasrah saja. Karena merasa jika mungkin jika menunggu di rumah sakit, akan lebih baik.


__ADS_2