Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Kursi Pijat


__ADS_3

Truk pengangkut barang berhenti di depan rumah. Neta yang melihat hal itu langsung mengintip dari balik pintu. Ternyata truk itu berhenti di depan rumahnya. Tertera nama IZIO di sana. Artinya itu dari toko suaminya. Neta pun segera keluar dari rumah. Mengecek kiriman apa ke rumahnya.


“Bapak mau kirim apa?” Neta yang keluar dari rumah segera bertanya.


“Kirim kursi, Bu. Diminta Pak Dathan.” Karyawan dari IZIO itu menjelaskan apa yang membuatnya datang.


“Kursi?” Neta merasa bingung. Suaminya tidak mengatakan apa-apa. Jadi tentu saja dia bingung.


“Iya, Bu.” Karyawan tersebut membenarkan.


“Baik, taruh di dalam.” Neta memberikan perintahnya.


Karyawan IZIO segera mengangkat kursi tersebut ke dalam rumah. Sambil menunggu karyawan suaminya Neta menghubungi sang suami.


“Halo, Sayang.” Neta menyapa sang suami.


“Sayang, apa kursinya sudah sampai?” Bukan menjawab sapaan sang istri, Dathan segera bertanya.


“Sudah sampai.” Neta menjawab pertanyaan suaminya. “Untuk apa kamu beli kursi?” Neta masih penasaran niat suaminya. Kursi di rumah sudah cukup banyak. Jadi tentu saja dia merasa tidak perlu.


“Itu untuk kamu duduk sambil bersandar. Aku rasa akan nyaman dibanding duduk di tempat tidur dan bersandar di head board tempat tidur. Itu juga bisa dipakai nanti jika kamu menyusui anak kita.” Dathan menjelaskan di seberang sana.


Neta terharu. Ternyata itu dilakukan suaminya untuk memberikannya kenyamanan. Mungkin karena seringnya duduk di tempat tidur sambil bersandar dengan tumpukan bantal di belakang, suaminya merasa jika perlu membeli kursi.


“Sayang, tolong katakan untuk menaruhnya di kamar.” Dathan memberitahu sang istri. Takut sang istri tidak tahu akan diletakkan di mana.

__ADS_1


“Baiklah.” Neta menjawab. Kemudian mengalihkan pandangan pada karyawan IZIO. “Tolong taruh di kamar saja.” Neta berjalan ke arah kamar dan membukakan pintu. Tangannya masih memegang ponsel dan menempelkannya di telinga.


“Sayang, aku sedang jemput Cinta sekalian pulang. Sampai jumpa di rumah.” Dathan mengakhiri telepon. Karena sedang dalam perjalanan.


“Baiklah.” Neta mengangguk. Dia segera mematikan sambungan teleponnya.


Neta memerhatikan karyawan IZIO yang sedang mengangkat kursi. Kursi tampak besar dan berat. Jadi harus diangkat beberapa orang.


“Sudah, Bu.” Karyawan IZIO yang sudah mengantarkan kursi berpamitan.


“Ini buat beli makan.” Neta memberikan beberapa lembar uang pada karyawan.


“Terima kasih, Bu.” Karyawan menerima uang tersebut. “Kami permisi dulu.”


Neta mengangguk. Mempersilakan


Saat plastik terbuka, dia segera duduk.


Ada beberapa tombol di kursi. Neta membaca petunjuk pemakaian. Ternyata kursi tersebut juga bisa memijat. Tentu saja itu pasti akan membuatnya nyaman. Apalagi ada pemijatan bagian kaki. Di mana Neta sering sekali pegal.


Neta segera mencoba kursi. Membuatnya setengah tidur. Merasakan kursi yang nyaman membuatnya kini lebih rileks ketika ingin duduk. Apalagi dia memang suka bersandar.


Neta menyalakan bagian pemijatan kaki. Rasanya nyaman sekali. Hingga membuatnya memejamkan mata. Menikmati kursi tersebut. Saat merasa nyaman, Neta mematikan bagian pemijat. Bersandar membuatnya mengantuk. Alhasil, dia tertidur di kursi yang didudukinya itu.


Setengah jam berlalu, Dathan pulang. Dia menanyakan keberadaan sang istri pada asisten rumah tangganya. Ternyata sang istri sedang di kamar. Jadi dia memilih untuk meminta asisten rumah tangga menemani Loveta untuk mengganti bajunya, karena dia ingin mengecek keadaan istrinya.

__ADS_1


Dathan yang masuk mendapati sang istri tertidur di kursi. Ternyata sang istri sudah menjajal kursi yang dibelinya. Melihat sang istri begitu nyaman dan sampai tertidur, Dathan senang.


Dathan menghampiri sang istri, kemudian mendaratkan kecupan di dahi sang istri. Apa yang dilakukan Dathan membuat Neta terbangun.


“Kamu sudah sampai?” tanya Neta.


“Iya, aku baru sampai.” Dathan tersenyum.


“Cinta mana?” Neta mencari keberadaan sang anak.


“Dia sedang mengganti baju dengan bibi.” Dathan memberitahu sang istri keberadaan anaknya. “Kamu suka kursi ini?” tanyanya penasaran.


“Kamu membeli kursi ini agar tidak memijat aku lagi?” tanya Neta curiga. Dia menahan tawanya agar tampak serius.


“Sayang, aku hanya ingin membelikan kursi yang nyaman. Tidak tahunya bisa memijat juga. Tapi, aku tidak berniat begitu. Aku tetap akan memijatmu.” Dathan panik. Dia tidak bermaksud seperti yang dituduhkan sang istri.


Neta tidak kuasa menahan tawa. “Aku hanya bercanda.” Dia senang sekali melihat Dathan yang panik. “Aku suka.” Neta tersenyum melihat sang suami yang posisinya jauh lebih tinggi dibanding dirinya.


Dathan yang gemas segera membungkukkan tubuhnya. Mendaratkan kecupan di bibir. sang istri.


“Kamu ini.” Dathan gemas melihat aksi sang istri yang menggodanya.


“Terima kasih untuk kursinya. Ini akan sangat berguna sekali.”


“Harusnya aku membelinya sejak lama. Maaf aku baru menyadarinya.” Terakhir kali melihat sang istri menumpuk bantal untuk bersandar membuatnya sadar dengan yang dibutuhkan. Karena itu dia segera membelinya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Tidak ada kata terlambat.” Neta tersenyum.


Dathan tersenyum merasa senang sang istri menerima kursi yang dibelinya. Paling tidak itu akan memberikan kenyamanan selama hamil dan menyusui.


__ADS_2