Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Impas


__ADS_3

Kafa dan Dathan sekeluarga menikmati makanan malam bersama. Mereka saling bercerita banyak hal. Dathan dan Kafa menceritakan tentang bisnis, sedangkan, Neta dan Flo menceritakan tentang anak.


“Papa, Lolo mau dedek kecil.” Loveta yang sedari tadi melihat Kai merasa gemas sekali.


“Iya, nanti Papa buatkan adik.” Dathan mencoba membujuk anaknya.


“Buatnya sekarang saja.” Loveta merengek.


Dathan hanya bisa menggeleng heran. Bagaimana bisa anaknya memintanya untuk membuat anak sekarang. Anaknya pikir, membuat adik seperti beli kue di toko kue.


Kafa dan Flo yang melihat hal itu merasa begitu lucu. Mereka tersenyum melihat aksi Lolo.


“Sayang, buat adik perlu waktu. Nanti ya.” Neta dengan senyum memberikan pengertian.


“Iya, jadi Lolo harus sabar. Sementara anggap Kai, adik Lolo.” Flo ikut memberikan pengertian.


“Iya.” Lolo dengan semangat menjawab.


Mereka melanjutkan kembali obrolan bersama. Mereka yang baru kenal, justru bisa akrab.


“Jadi apa ada dampak baik dari munculnya majalah hari ini?” Dathan ingin mendengar dari Kafa. Walaupun baru sehari, dia merasa jika itu akan ada perkembangan.

__ADS_1


“Sudah sehari ini sudah terjual lima ratus majalah. Tadi dari beberapa toko buku dan majalah mengabarkan ada order tambahan. Ini di luar prediksi kita. Karena orang cenderung ingin tahu kisah kalian. Dari isu yang aku dengar. Mereka seperti mendengar kisah Cinderella yang menikah dengan pangeran.” Kafa menjelaskan informasi yang tadi dijelaskan Gala padanya.


Dathan merasa orang-orang itu begitu tertarik sekali dengan rumah tangga orang lain. Maka itu, majalah pasti laku. Namun, hanya itu cara Dathan menyelamatkan istrinya. Membuka dirinya untuk diketahui orang lain.


“Sejujurnya aku tidak terlalu suka tampil, tetapi kali ini pengecualian.” Dathan masih beradaptasi untuk terbiasa masuk ke majalah.


“Tenanglah, masalah pasti akan berlalu begitu saja. Artikel kemarin, akan menghilang dengan artikel yang baru. Nanti lambat laun kabar pernikahan kalian juga akan tenggelam. Apalagi akan disusul berita baru. Paling, berita itu akan bertahan dalam seminggu saja.” Kafa sudah tahu cara kerja media. Jarang berita berlangsung lama.


Mengingat Dathan hanya tampil sekali di media. Setelah itu, dia tidak tampil. Mereka yang selalu tampil, justru yang selalu berusaha untuk tampil.


Dathan mengangguk mengerti apa yang dijelaskan Kafa. Dia berharap jika berita tentangnya akan segera tenggelam.


“Santai saja. Jangan terlalu dipikirkan. Fokus saja dengan kehidupan baru kalian.” Flo menyemangati Neta. Dia sudah dengar banyak dari Kafa.


“Jadi kamu masih akan bekerja di Syailen Bisnis?” tanya Kafa menatap Neta.


“Masih, Pak. Kebetulan masih ada dua minggu lagi.” Neta menjelaskan waktu yang tersisa. Dia sendiri tidak sabar untuk menikmati waktunya untuk menjadi ibu sepenuhnya.


“Pasti kamu akan menemukan kesenangan saat nanti jadi ibu rumah tangga sepenuhnya.” Flo tersenyum.


“Tentu.” Neta juga pasti akan menemukan kesenangannya di rumah.

__ADS_1


Mereka mengobrol. Dathan dan Kafa saling bercerita. Jika keduanya juga tidak suka datang ke acara para pebisnis. Namun, Kafa meluangkan waktunya untuk bertemu dengan sesama pebisnis, mengingat mereka bisa saling bertukar ilmu. Kafa pun meminta Kafa ikut juga. Siapa tahu banyak kenalan, membuat membuka jalan. Dathan sendiri merasa memang yang dikatakan Kafa ada benarnya. Dia merasa jika mungkin, dia harus memulai dengan membuka diri.


Neta dan Flo juga mengobrol. Bereka berdua seru mengobrol. Merencanakan kembali untuk bertemu.


Akhirnya, makan malam usai. Mereka saling berpamitan. Kali ini baby Kai tidak mau diletakan di stroller. Justru mau digendong oleh sang papa.


“Kapan-kapan kalian harus datang ke rumah kami untuk makan malam. Agar kami bisa menjamu kalian.” Kafa merasa jika jamuan makan malam ini harus dibalas.


“Tentu. Kapan pun kalian mengundang kami akan datang.” Dathan tentu tidak keberatan. Mengobrol dengan Kafa begitu mengasyikkan. “Sekali lagi terima kasih sudah membantu Neta dalam hal ini.” Sambil mengulurkan tangan, Dathan kembali berterima kasih. Dia tahu semua berkat Kafa.


“Jangan berterima kasih. Kita sudah impas karena kalian mau tampil eksklusif di majalah kami.” Kafa tersenyum. Sebenarnya tidak ada yang dirugikan. Karena ternyata dia pun diuntungkan karena berita ini.


Dathan mengangguk. Dia menerima jika memang semua dianggap impas.


“Da ... Dedek Kai.” Loveta melambaikan tangan pada Kai.


Kai yang begitu girang langsung segera bergerak-gerak di pelukan sang papa.


“Da ... Kakak Lolo. Nanti kita bertemu lagi.” Flo melambaikan tangan Kai pada Lolo. Dia beralih pada Neta. Menautkan pipinya. “Sampai jumpa lagi.”


Neta menerima tautan pipi itu. “Sampai jumpa lagi.” Dia tersenyum.

__ADS_1


Mereka bersama-sama menuju ke tempat parkir. Masuk ke mobil masing-masing dan segera pulang ke rumah.


__ADS_2