
Dathan mendengar Arriel memanggilnya. Namun, dia pura-pura tidak mendengar. Dia terus mengayunkan langkahnya untuk masuk ke kamarnya.
“Than.” Arriel segera berdiri dan menarik tangan lengan Dathan. Menghentikan langkah Dathan.
Kali ini Dathan tidak punya pilihan lain. Karena Arriel yang sudah menariknya, makanya dia harus pasrah berhenti. Dia segera berbalik. Menatap Arriel yang berada di belakangnya.
“Kenapa?” Dathan langsung melemparkan pertanyaan itu. Dia memerhatikan sang mantan istri yang memakai baju tidur dengan bahan sutra. Lapisan kardigan menutup baju yang Dathan yakini tidak ada lengannya. Sungguh pemandangan ini menggoda iman. Namun, Dathan sekuat tenaganya menahan diri. Dia sudah berjanji pada Neta. Jadi dia harus penuhi itu.
“Aku ingin bicara.” Arriel mengatakan apa alasannya memanggil Dathan.
Dathan sudah berjanji pada Neta untuk langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Jadi tentu saja, dia harus melakukannya. Apalagi Arriel memaka pakaian seperti itu. Tentu saja Dathan tidak nyaman.
“Bicaralah besok saja. Aku sudah lelah.” Dathan berbalik kembali. Melanjutkan kembali langkahnya ke kamar.
Arriel yang melihat aksi Dathan yang menolaknya, tidak punya pilihan. Ini memang sudah malam. Jadi wajar jika dia menolak ajakannya.
Langkah Dathan berhenti tepat di depan pintu. Dia yang hendak membuka pintu kamarnya mengurungkan niatnya.
“Riel.” Tiba-tiba Dathan memanggil Arriel, tetapi tanpa menoleh ke arah mantan istrinya itu.
Arriel yang mendengar namanya dipanggil merasa senang. Dia berpikir, mungkin Dathan berubah pikiran.
“Lain kali jika menginap di rumah orang. Perhatikan pakaianmu. Kita sudah bukan suami istri. Tidak baik untuk kita.” Dathan memberitahu mantan istrinya itu.
Arriel melihat ke arah bajunya. Baju yang bersih hanyalah ini saja. Pakaiannya semua kotor. Jadi dia tidak punya pilihan memakai baju tidur seperti yang dipakainya.
Dathan melanjutkan kembali niatnya untuk membuka pintu kamarnya. Dia segera menutup pintu kamarnya. Seperti yang dijanjikan pada Neta, dia segera mengunci pintu kamarnya.
Arriel hanya bisa pasrah. Mungkin besok dia akan bicara dengan Dathan. Untuk saat ini, dia harus menunggu Dathan besok pagi. Arriel pun memilih untuk kembali ke kamar tamu. Malam ini dia akan tidur di sana.
Dathan yang masuk dan mengunci pintu segera menghubungi Neta. Dia ingin membuat sang kekasih tenang.
“Halo, Sayang.” Suara Neta di seberang sana menyapa. “Apa kamu sudah di kamar? Sudah kunci pintunya?” Dia memberikan pertanyaan bertubi-tubi.
Dathan merasa gemas sekali ketika Neta begitu cemas padanya. Itu tanda jika sang kekasih berarti benar-benar mencintainya.
__ADS_1
“Aku sudah masuk kamar. Sudah mengunci pintu.” Dathan menjelaskan pada Neta. Berharap ini bisa membuat temannya itu tenang.
“Baiklah, kalau begitu aku bisa tidur tenang.” Neta di seberang sana merasa begitu senang sekali.
Dathan tersenyum. “Tidurlah, Sayang. Mimpikan aku.”
“Tentu saja. Aku akan memimpikan kamu.” Neta di seberang sana menjawab lirih. Malu dengan ucapannya sendiri.
Rasanya Dathan benar-benar senang mendapatkan jawaban itu. “Selamat malam, Sayang.” Dathan mengakhiri sabungan telepon.
“Selamat malam, Sayang.”
Dathan segera mematikan sambungan telepon. Dia segera berlalu untuk segera tidur. Malam ini, dia benar-benar akan tidur nyenyak. Apalagi sudah mendengar suara Neta.
...****************...
Arriel sengaja bangun pagi-pagi. Dia segera menuju ke kamar Loveta. Dia ingin anaknya bangun dan melihatnya. Saat masuk ke kamar Loveta, dia melihat anaknya masih tertidur lelap. Dengan segera Arriel masuk.
Hadiah yang dibawanya diletakkannya di meja belajar milik Loveta. Kemudian dia menyusul anaknya tidur. Dia tidur tepat di samping sang anak. Memeluk erat tubuh mungil itu. Perasaannya menghangat ketika merasakan tubuh mungil itu.
“Mama.” Tangan mungil Loveta langsung memeluk Arriel. Dia senang sekali melihat sang mama yang berada di sampingnya.
Arriel begitu senang ketika melihat anaknya yang begitu girang sekali bangun. Apalagi ketika dipeluk tangan mungil itu.
“Mama di sini?” Loveta melepaskan pelukannya. Menatap sang mama dengan wajahnya yang berbinar.
“Iya, Mama rindu sekali dengan Lolo.” Arriel mendaratkan kecupan di pipi Loveta. Dia langsung teringat dengan hadiah yang diberikan untuk anaknya. “Mama punya hadiah untuk kamu.” Arriel memberitahu anaknya.
“Hadiah?” Loveta begitu terkejut dengan yang dikatakan sang mama.
Arriel segera bangun dari posisi tidurnya. Dia segera menuju ke meja di mana dia meletakkan hadiahnya. Dengan segera dia membawa hadiah itu ke tempat tidur.
Loveta segera bangun. Dia begitu antusias untuk melihat hadiah dari sang mama. Saat mamanya meletakkan hadiah di tempat tidur, Loveta langsung membukanya. Alangkah senangnya dia mendapatkan banyak boneka. Tak hanya boneka, ada baju-baju juga yang diberikan oleh mamanya.
“Terima kasih, Ma.” Loveta begitu bersemangat sekali. Dia segera mendaratkan kecupan di pipi mamanya.
__ADS_1
Arriel merasa senang anaknya begitu senang atas hadiah yang diberikan. Senyum Loveta itu benar-benar mengemaskan. Jika ditelisik lagi Loveta itu benar-benar mirip dengan Dathan. Senyummya, sifatnya, dan segalanya seolah fotokopi dari Dathan.
Suara pintu dibuka. Tampak Dathan berada di balik pintu.
“Papa, Lolo dapat boneka.” Loveta memamerkan boneka itu pada Dathan.
Dathan tersenyum. Dia segera menghampiri anaknya. “Cantik seperti Cinta.” Dia memuji anaknya.
“Iya, seperti Lolo.” Dengan bangganya Loveta mengatakan pada papanya.
“Kalau sudah buka hadiah semuanya. Sekarang simpan dulu. Setelah itu mandi, karena Cinta harus sekolah.” Dathan memberitahu anaknya.
“Siap, Papa.” Loveta langsung berdiri.
“Ayo, mandi dengan Mama.” Arriel langsung mengulurkan tangan. Mengajak anaknya untuk ke kamar mandi.
Dathan yang melihat hal itu pun membiarkan Arriel mengurus anaknya. Dia memilih untuk ke kamarnya, untuk bersiap ke kantor juga.
Loveta dimandikan Loveta. Seusai mandi, dia membantu Loveta untuk segera berganti baju. Kemudian mengajaknya ke meja makan.
Arriel membantu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan. Entah kenapa, dia ingin menikmati momen ini.
“Bi, apa ada wanita yang sering ke sini?” Sejak Dathan mengatakan jika memiliki kekasih, rasa penasaran Arriel begitu besar.
“Wanita?” Asisten rumah tangga mencoba mengingat. “Ada, Nyonya.” Dia membenarkan ucapan Arriel.
“Benarkah? Siapa?” tanya Arriel yang penasaran.
“Tapi, dia seorang wartawan. Karena saya melihat Pak Dathan melakukan wawancara dengan wanita itu.” Asisten rumah tangga memberitahu.
Neta memikirkan, apa wartawan itu adalah kekasih Dathan? Karena setahu Arriel, Dathan menghindari wartawan. Dan lagi saat mengingat jika Dathan di wawancara, dia ingat betul jika Dathan tidak suka pada wartawan. Sebisa mungkin dihindari. Dia ingat betul ketika perceraiannya terjadi, dia tidak mau diwawancara. Sayangnya, berita itu langsung diminta Darthan.
Kenapa dia mau diwawancara?
Pertanyaan itu menghiasi pikirannya. Hanya Dathan yang bisa menjawab hal itu.
__ADS_1