Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Kue Pernikahan


__ADS_3

Acara pernikahan dimulai. Neta dan Dathan mengatur anak-anak panti untuk bersiap. Mereka memastikan anak-anak panti rapi dan memastikan semua tidak ada yang tertinggal. Dathan meminta Neta untuk duduk manis karena dia yang akan mengatur anak-anak. Jadi tentu saja itu membuat Neta tidak bisa melakukan apa-apa.


Dathan dengan ramah meminta anak-anak untuk duduk manis. Memberitahu jika anak-anak harus duduk manis saat acara dimulai.


Neta yang melihat Dathan mengatur anak-anak panti hanya bisa tersenyum. Merasa bangga karena dia begitu baik sekali.


Acara dimulai. Ikrar pernikahan pun dilaksanakan. Tampak Adriel begitu lantang mengucapkannya. Seolah tidak ada keraguan.


“Aku jadi ingat pernikahan kita.” Dathan berbisik pada sang istri. “Serasa mau menikah lagi.” Dia melanjutkan ucapannya.


Neta membulatkan matanya. Kalimat yang diucapkan suaminya terdengar ambigu. Karena dia sudah menikah. Artinya Dathan ingin menikah lagi.


“Sayang, jangan salah sangka. Maksud aku menikah denganmu.” Dathan yang menyadari jika sang istri memandanginya pun langsung meralat ucapannya.


Neta yang tadinya ingin kesal, pun akhirnya urung dilakukannya. Karena sang suami sudah meralat ucapannya.


Astaga, bicara dengan ibu hamil lebih seram dibanding bicara dengan klien. Sekali salah. Tatapannya menghujam.

__ADS_1


Dathan hanya bisa membatin saja. Dia merasa harus lebih berhati-hati lagi. Karena ibu hamil sangat sensitif.


Mereka mengikuti semua rangkaian acara. Acara begitu intim dan hangat. Membuat mereka menikmati acara.


Langit sore yang indah pun menghiasi


indahnya pernikahan Adriel dan Arriel.


“Sayang, aku mau kue pernikahan itu.” Neta yang melihat kue pernikahan yang begitu cantik seketika menginginkannya. Sedari tadi kue itu seolah memanggilnya untuk minta dimakan.


“Sayang, bagaimana jika kue lainnya.” Dathan mencoba membujuk Neta. Karena terlalu sulit jika menuruti kue pernikahan.


“Tidak mau. Aku mau kue itu.” Ibu hamil memang selalu menginginkan apa yang dilihatnya. Tak mau menunggu lagi.


Dathan mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung dengan permintaan sang istri. “Aku akan minta nanti, tapi tidak sekarang. Karena acaranya belum selesai.” Dathan mencoba membujuk sang istri. Karena memang tidak mungkin meminta saat acara masih berlangsung.


“Tapi, aku mau memotongnya sendiri.” Neta kembali dengan keinginannya yang aneh.

__ADS_1


Belum hilang pusing Dathan dengan permintaan Neta yang meminta kue, kini bertambah meminta kue dipotong sendiri. Namun, demi sang istri tentu saja dia akan mendapatkannya.


...****************...


Acara pernikahan usai. Satu per satu tamu undangan pergi. Kini Dathan mulai beraksi. Dia mendekat ke arah pengantin. Meminta izin terlebih dahulu.


“Driel, Riel, aku mau meminta kue pernikahan itu untuk Neta.” Takut-takut Dathan mengungkapkan keinginannya. “Biasa ibu hamil.” Dia sedikit berbisik.


Adriel tersenyum. “Ambil saja.” Dia pun mengizinkan Dathan untuk mengambil kue pernikahannya. Lagi pula tidak ada yang makan. Setelah acara selesai, pastinya pihak WO akan membawanya.


“Terima kasih.” Dathan beruntung sekali. Karena Adriel dan Arriel mengizinkan.


“Apa saat kamu hamil akan seperti itu juga?” Adriel menoleh pada wanita yang kini jadi istrinya itu.


“Bisa jadi iya, atau bisa jadi lebih parah.” Arriel tersenyum.


Adriel merasa jika kelak dia harus bersiap-siap. Karena jelas dia akan merasakan apa yang dirasakan oleh Dathan.

__ADS_1


__ADS_2