
Malam ini Dathan menjemput Neta. Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskannya untuk pulang malam. Dathan yang melihat itu pun memilih untuk menjemput kekasihnya itu. Tak mau gadis cantik itu untuk pulang sendiri.
“Mau makan apa?” Sebelum pulang Dathan mengajak Neta untuk pulang lebih dulu.
“Aku tidak mau makan berat. Aku mau makan martabak aja. Di dekat kos ada yang jual dan enak. Kamu harus coba.” Neta menjelaskan pada kekasihnya akan makan apa malam ini.
Dathan pun setuju saja. Lagi pula yang akan makan Neta, bukan dirinya. Dathan segera melajukan mobilnya ke tempat kos Neta. Sesuai dengan arahan Neta, akhirnya, dia menuju ke tempat martabak yang diminta Neta.
Setelah selesai membeli martabak, mereka langsung ke kos milik Neta. Menikmati martabak yang mereka beli. Di kos Neta, Dathan dan Neta menikmati martabak coklat kacang keju yang mereka beli.
“Cinta tampak bahagia hari ini.” Neta mengingat Loveta yang tadi siang begitu girang sekali.
“Dia akan pergi denganmu. Jadi wajar saja dia senang.” Dathan menjelaskan kemudian memasukkan martabak ke mulutnya.
“Sepertinya tidak hanya itu.” Neta menebak akan hal itu.
Dathan mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya. “Mungkin karena mamanya memberikan hadiah untuknya.”
Neta menganggukkan kepalanya mengerti yang dijelaskan. Dia merasa jika memang Loveta tidak bahagia karena dirinya saja.
Saat mengingat tentang mantan istrinya, Dathan teringat dengan pembicaraan dengan mantan istrinya tadi pagi. Dia memilih untuk jujur pada Neta agar ke depan semua akan baik-baik.
“Sayang, tadi Arriel bicara padaku.” Dathan memulai pembicaraan.
Neta sudah menebak jika pasti ada yang dibicarakan Dathan dan mantan istrinya. Sekali pun tadi dia meminta menutup pintu pada malam hari, tetap saja Dathan akan bertemu pagi ini. Mereka pasti akan ada kesempatan ketika berdua. “Memang bicara apa?” tanyanya ingin tahu.
“Tadi dia bilang jika ingin dekat dengan Loveta. Karena itu dia meminta aku untuk memberikan kesempatan itu. Jadi minggu depan Loveta akan ikut mamanya.” Dathan menjelaskan pada Neta.
Neta tersenyum. “Bukan itu bagus? Jadi Loveta bisa merasakan kasih sayang mamanya.” Dia berpikir ini akan baik untuk Loveta. Jadi tentu saja dia akan ikut senang.
__ADS_1
“Iya, aku juga senang jika Cinta dekat dengan ibunya. Jadi paling tidak, ada kenangan indah di memori Cinta. Tapi, tadi aku mengajukan syarat ketika Arriel meminta akan hal itu.”
“Syarat apa?” Neta begitu penasaran dengan yang dikatakan Dathan.
“Aku minta agar kami bisa mengungkapkan jika kami sudah berpisah.” Dathan sebenarnya masih takut mengatakan itu pada anaknya. Namun, anaknya harus segera tahu. Jadi ke depan hubungannya dengan Neta akan jauh lebih baik.
“Aku sendiri berada dalam dilema. Aku senang jika Cinta tahu semua, tetapi aku takut jika dia tidak akan terima keadaan.” Neta merasa ini benar-benar pilihan sulit.
“Aku akan berusaha untuk tetap pelan-pelan ketika menjelaskan nanti.” Dathan meyakinkan Neta.
“Baiklah.” Neta mengangguk. Dia yakin Dathan bisa mengendalikan semua dengan baik.
...****************...
Dua hari kemarin Neta selalu pulang malam. Dia berniat hari jumat bisa pulang tepat waktu. Jadi dia merelakan dua hari pulang malam. Selama pulang malam, Dathan selalu menjemput Neta. Memastikan jika Neta pulang dengan selamat.
Hari jumat yang dilalui Neta terasa begitu cepat. Jam sudah menunjukkan jam lima saja. Artinya dia bisa pulang dan segera.
Baru saja Neta mengambil tasnya, Adriel yang lewat di meja kerjanya, langsung memberikan perintah. Padahal Dathan sudah memberikan kabar jika dia sudah berada di lobi.
“Pak Adriel, besok kita masih bisa bertemu pagi, bisakah Bapak menjelaskan besok saja. Saya sedang ada acara dan harus buru-buru.” Neta memberanikan diri untuk bicara pada Adriel.
Adriel melihat Neta yang sudah membawa tasnya. Jadi tampaknya gadis itu memang sudah bersiap pulang. “Baiklah, besok datanglah ke Hotel Maxton lebih awal. Jadi aku bisa memberitahumu.”
Neta bersyukur akhirnya Adriel mengizinkannya. “Terima kasih, Pak.” Neta menganggukkan kepalanya dan segera berlalu pergi. Dia tidak mau Loveta menunggu lama dirinya.
Saat di lobi, mobil Dathan sudah terparkir di sana. Segera Neta masuk ke mobil dan pergi ke mal bersama dengan Dathan dan Loveta.
Dathan, Neta, dan Lovata menuju ke mal. Rencananya mereka akan bermain di permainan anak-anak. Loveta begitu senang sekali ketika hendak pergi ke tempat kesukaannya itu.
__ADS_1
Sampai di mal. Mereka segera menuju ke tempat permainan anak. Loveta menarik Neta untuk bermain. Dia benar-benar tidak sabar bermain dengan Neta.
Loveta langsung mengajak Neta untuk main perosotan. Bola-bola yang ada di ujung perosatan membuat mereka masuk ke kolam bola. Tawa mereka pecah ketika masuk ke kolam bola. Bahagia sekali ketika bisa bermain bersama.
“Papa ayo ikut.” Loveta memanggil sang papa.
Dathan sedari tadi memilih menunggu Neta dan Loveta bermain. Dia beberapa kali menemani Loveta dan Arriel. Dan yang dilakukannya sama persis dengan yang dilakukannya sekarang.
“Papa pasti takut.” Neta meledek Dathan. Loveta yang mendengar langsung tertawa.
“Enak saja.” Dathan tidak terima dengan yang dikatakan oleh Neta. Dia segera bergabung dengan Neta dan anaknya.
Melihat hal itu Loveta senang. Akhirnya, papanya ikut dengannya juga. Mereka langsung meluncur bersama ke kolam bola. Tawa mereka pun terdengar renyah sekali ketika masuk ke kolam bola.
“Apa usiaku masih pantas bermain di sini?” Sungguh Dathan merasa begitu malu sekali. Bisa-bisanya dia ikut dengan anaknya.
“Menyenangkan anak tidak kenal usia. Jadi anggaplah kamu teman anakmu.” Neta memberikan komentarnya.
Loveta bermain banyak permainan. Ditemani Dathan dan Neta, dia menjajal semua permainan. Mulai dari trampolin, masak-masakan, hingga bermain game koin. Loveta benar-benar tidak melepaskan kesempatannya bermain.
Loveta bermain sekitar dua jam tanpa jeda mereka bermain. Waktu yang menunjukkan jika jam delapan malam, akhirnya membuat Dathan menghentikan permainan. Dia mengajak Loveta untuk makan malam dulu sebelum pulang.
Sebelum makan, Neta mengajak Loveta untuk ke toliet. Neta membantu Loveta untuk mengelap badan Loveta. Bermain tadi membuat Loveta banyak berkeringat. Jadi takut nanti Loveta mengantuk, jadi dia memastikan tubuh Loveta bersih dulu.
Usia membersihkan diri, Neta dan Dathan mengajak Loveta untuk makan. Mereka memilih restoran jepang. Menikmati ikan salmon dan sushi.
Loveta yang sudah menghabiskan banyak tenaga membuatnya banyak makan. Dia lapar karena energinya sudah terpakai. Dathan yang melihat anaknya makan banyak hanya tersenyum.
Tepat saat sedang menikmati makanannya, suara ponsel berbunyi. Dathan segera mengambil ponselnya untuk tahu siapa yang menghubunginya. Nama ‘Arriel’ ternyata terpampang di layar ponselnya. Dia memikirkan kenapa dia menghubungi.
__ADS_1
Jangan-jangan dia ingin membatalkan acara besok.
Dathan terlalu sering mendapatkan alasan. Jadi dia selalu curiga jika Arriel menghubunginya ketika rencana mengajak Loveta tinggal besok.