Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Bryan Adion


__ADS_3

“Di kafe yang berada di depan kantormu. Aku sempat mengobrol dengannya.” Dathan tersenyum. Dia merasa jika ini kebetulan yang luar biasa.


Neta mencoba mengingat kapan Dathan di restoran. Hingga akhirnya dia ingat jika Dathan pernah menunggu di kafe depan di mana kala itu Adriel melihat dirinya di kafe depan.


“Kalian mengobrol apa?” Neta begitu penasaran.


“Membahas kamu.” Dathan tersenyum.


“Aku?” Neta menunjuk dirinya.


“Iya, kamu. Aku bilang menjemput kamu.” Dathan tersenyum. Ternyata dulu orang yang sama yang dibahas olehnya dan Adriel.


Neta hanya melirik malas saja. Dia tidak menyangka jika ternyata yang jadi topik utama adalah dirinya.


“Jadi kamu akan wawancara sendiri?” Dathan melempar pertanyaan itu pada Neta.


“Iya, aku akan wawancara, jadi kamu tunggu aku saja. Kebetulan aku dapat satu kamar. Kamu bisa tempati.” Neta menyerahkan access card miliknya.


Dathan melihat access card yang diberikan Neta. Sepertinya dirinya harus menunggu Neta dengan sabar. Karena Neta sedang bekerja. Dathan meraih access card yang diberikan oleh Dathan.


“Oh iya, sepertinya aku tidak bisa mengajakmu. Aku hanya dapat satu undangan saja untuk pesta. Jadi aku tidak bisa mengajakmu masuk ke pesta. Pesta kali ini privat, jadi undangan memang diberikan setiap satu orang satu undangan.” Neta merasa tidak enak karena jauh-jauh Dathan mengantarkan, dia tidak bisa ikut dengannya.


Dathan tersenyum tipis. “Tidak masalah. Aku bisa menunggumu di kamar hotel.”


Neta bersyukur Dathan mengerti posisinya. Jika sudah seperti ini, sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

__ADS_1


“Kalau begitu ambil bajumu dulu.” Dathan berdiri. Mengajak Neta untuk ke mobilnya yang berada di tempat parkir.


Neta segera berdiri. Dia mengikuti Dathan untuk mengambil bajunya yang ditaruhnya tadi di mobil. Baju itu nanti akan dipakai untuk acara nanti malam.


Dengan membawa bajunya, Neta segera ke kamar yang sudah disiapkan oleh Adriel. Kamar tidak terlalu besar. Cukup untuk nanti dirinya akan menunggu acara nanti malam.


Neta membuka gorden yang menampilkan pemandangan jalanan yang ada di depannya. Jalanan tampak macet, dan itulah ibu kota.


“Jam berapa mulai wawancara?” Dathan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Jam dua belas.” Neta melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Ternyata sudah jam hampir jam dua belas.


“Sepertinya aku harus pergi.” Dia berbalik dan segera meraih tasnya yang tadi diletakkanya di atas meja.


“Kamu akan di sini ‘kan?” tanyanya.


“Iya, aku akan di sini untuk tidur.” Dathan merasakan tubuhnya yang begitu nyaman di atas tempat tidur.


Melihat Dathan Neta yakin jika kekasihnya itu pasti akan menunggunya sambil tidur.


“Baiklah, aku pergi dulu.” Neta melambaikan tangan dan berlalu pergi.


Dathan melambaikan tangannya pada Neta. Dia pun pura-pura memejamkan mata. Saat pintu tertutup Datham segera berangsur bangun. Dia harus mengambil bajunya untuk nanti malam. Dia akan hadir dalam pesta yang diadakan oleh Bryan Adion. Dia secara khusus diundang oleh Bryan Adion. Jadi tentu saja dia punya undangan khusus. Ini akan menjadi kejutan untuk Neta nanti.


Dathan segera keluar dari kamar. Dia harap Neta tidak akan kembali tiba-tiba dan melihatnya yang sedang akan mengambil jas miliknya. Jika iya. Ini tidak akan jadi sebuah kejutan lagi.

__ADS_1


Beruntung sampai dia ke lift, tidak tampak Neta kembali. Jadi Dathan bisa leluasa mengambil jas miliknya.


Di lantai lain, Neta sedang berjalan ke arah kamar yang diberitahu oleh Adriel. Neta sudah sering mewawancarai pengusaha sukses dan terkenal. Jadi wajar saja jika dia tampak tenang.


Tepat di depan kamar, Neta menekan bel. Kemudian menunggu pintu dibuka. Dia berharap wawancara ini akan berjalan dengan lancar. Jadi paling tidak, dia tidak akan mengecewakan perusahaannya.


Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita paruh baya dari balik pintu. Senyumnya menyambut Neta yang berdiri di depan pintu.


Neta yang melihat wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu langsung terpesona. Di usia yang mungkin setengah abad itu, wanita di depannya itu masih terlihat cantik sekali.


“Hai.” Shea-istri dari Bryan Adion menyapa Neta.


“Selamat siang. Saya Neta dari Syailend Bisnis.” Neta memberitahu wanita di depannya.


“Oh yang mau mewawancarai Bryan Adion?” Senyum wanita paruh baya itu membingkai wajahnya semakin cantik. Dia kemudian melebarkan pintu kamarnya. “Sayang, ini ada yang ingin wawancara.” Dia memanggil dengan mesra suaminya.


Sungguh pemandangan yang baru dilihatnya terlihat romantis sekali. Panggilan ‘sayang’ yang disematkan terdengar begitu indah saat mereka yang usia pernikahannya sudah lama.


“Ayo masuk.” Shea mengajak Neta untuk masuk ke kamar.


Neta mengangguk dan ikut masuk ke kamar. Bersamaan dengan dirinya yang masuk, tampak pria paruh baya keluar dari kamar.


Astaga, tampan sekali. Jika umur setengah abad saja begitu tampan, bagaimana waktu mudanya?


Neta hanya bisa mengagumi dalam hatinya. Setelah Dathan yang berusia empat puluh tahun masih begitu tampan, kini dia dihadirkan pria lima puluh delapan tahun yang masih begitu tampan.

__ADS_1


__ADS_2