Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2: Kemah


__ADS_3

Dathan dan Neta melihat ke mana anaknya berjalan. Ternyata Nessia berjalan ke kamar Loveta. Dathan segera mengecek suara yang terjadi di sana.


“Akak.” Nessia memanggil kakaknya.


“Kenapa?” Loveta tampak mengantuk ketika adiknya memanggil.


“Sia akut.” Nessia mengatakan apa yang dirasakannya.


“Sini tidur dengan Kakak.” Loveta tampak memanggil sang adik.


Tangannya memberikan isyarat agar mendekat.


Nessia langsung naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut bersama kakaknya. Dia memeluk erat tubuh sang kakak untuk menghilangkan rasa takutnya.


“Aku rasa Cinta akan benar-benar menjaga adik-adiknya dengan baik.” Neta tersenyum.


“Iya, tidak perlu takut kelak dia akan jadi kakak yang baik untuk adik-adiknya.” Dathan tersenyum.

__ADS_1


Melihat anak-anak begitu saling menyayangi membuat Dathan dan Neta jauh lebih tenang. Sebagai orang tua mereka berusaha untuk mendidik anak mereka dengan baik agar dapat saling menyayangi.


“Sudah lanjutkan. Kita masih ada sesi kedua. Jadi harus cepat selesaikan sesi pertama dulu.” Dathan menegur sang istri.


Neta hanya bisa tersenyum melihat aksi suaminya. Tentu saja itu membuatnya gemas sekali. Dengan segera dia memijat tubuh sang suami.


...****************...


Rencananya hari ini Dathan dan Neta akan merayakan dengan berkemah bersama. Mereka sengaja berkemah siang hari, mengingat ada anak-anak yang masih belum bisa beradaptasi tidur di luar. Yang terpenting anak-anak mengenal alam.


“Papi ini apa?” Loveta menunjuk ke daun yang berada di pohon. Dia bergidik ngeri melihat cangkang coklat yang aneh.


“Jadi kupu-kupu berasal dari kepompong yang jelek?” Loveta menatap sang papi dengan wajah yang begitu penasaran.


Dathan tersenyum. “Cinta tahu kenapa kita tidak boleh menghina sesuatu hanya karena tampilan luar. Karena kita tidak tahu apa sebenarnya sesuatu itu miliki. Contoh saya kepompong ini. Saat jadi kepompong, dia jelek sekali, tapi saat dia berubah jadi kupu-kupu. Dia akan berubah cantik. Jadi Cinta tidak boleh menilai sesuatu hanya dari tampilan saja.” Sambil memberitahu, Dathan tetap menyelipkan pelajaran.


“Lolo tahu.” Loveta mengangguk pasti.

__ADS_1


Dathan tersenyum. Anaknya memang pandai. Jadi dia tidak khawatir.


“Ucu.” Danish melihat ulat yang berwarna-warni. Dengan segera dia ingin memegangnya.


Dathan yang mengalihkan pandangan pada sang anak, begitu terkejut. Dia segera berlari, menghampiri. “Sayang, itu bahaya.” Yang ingin dipegang anaknya adalah ulat bulu. Tentu saja itu akan membuat gatal. Dengan segera Dathan menjauhkan ulat bulu itu. Memindahkan jauh dari anak-anak. “Ulat itu berbahaya. Jangan dipegang. Nanti gatal.” Dathan menatap anak-anaknya satu per satu. Memberi pengertian pada mereka semua.


Untuk Loveta tentu saja langsung mengerti, tetapi untuk si kembar masih belum. Mereka hanya mengangguk mengikuti kakaknya.


“Ayo, makan.” Neta memanggil anak-anak. Tadi dia membuat makanan untuk anak-anak. Karena dekat kompor, Neta meminta Dathan mengajak bermain dulu.


Loveta mengandeng kedua adiknya. Mengajaknya untuk menghampiri sang mami. Tampak makanan sudah tersaji. Jadi mereka segera makan.


Suasana alam begitu nyaman untuk anak-anak. Udara sejuk serta pepohonan rindang membuat mereka mendapatkan udara sehat. Melihat anak-anak tumbuh dengan baik Dathan dan Neta begitu bahagia.


“Setelah ini kita akan bermain.” Dathan memberikan semangat anak-anak untuk segera cepat makannya. Karena area perkemahan lapang, jadi mereka bisa bermain di sana.


“Ye ... ain.” Nessia senang sekali. Dengan segera dia menghabiskan makanannya.

__ADS_1


Begitu pula Danish. Dia tak mau kalah dengan kembarannya. Jika urusan main, anak-anak memang paling bersemangat.


__ADS_2