Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Lautan Kenikmatan


__ADS_3

Dathan dan Neta menikmati berenang. Tidak hanya berenang di kolam renang mereka juga berenang di laut. Lautan yang biru membuat mereka begitu bersemangat menikmati berenang kali ini. Mereka puas sekali bermain di air. Apalagi cuaca benar-benar cerah.


Puas berenang mereka menikmati sarapan. Duduk di sofa yang ada di balkon. Mereka menikmati sarapan ringan mereka.


“Nanti kita akan ke mana lagi?” Neta begitu ingin tahu apa yang akan mereka kerjakan nanti.


“Di kamar saja.” Dathan menyeringai.


Neta yang mendengar jawaban sang suami seketika menekuk bibirnya. Merasa kesal sekali. “Aku mau jalan-jalan.” Neta merengek ketika Dathan akan mengurungnya di kamar saja.


Dathan seketika tertawa. Merasa lucu dengan istrinya. “Aku akan mengajakmu jalan-jalan nanti sore. Siang ini kita di kamar.” Dathan mencubit pipi sang istri gemas.


Walaupun akan jalan-jalan, tetapi Neta harus menunggu lagi. Itu lebih baik sebenarnya dari pada tidak sama sekali. Dia pun mengangguk setuju.


Neta dan Dathan kembali menikmati sarapan mereka. Keduanya asyik menikmati makanan. Karna masih kenyang, mereka belum kembali ke kolam renang lagi.


Keduanya memilih berjemur di ayunan tali hammock. Dathan merebahkan tubuhnya lebih dulu. Kemudian di susul Neta. Pria itu membawa sang istri ke dalam pelukannya. Beruntung ayunan kuat untuk beban dua ratus kilo. Jadi dapat menampung tubuh keduanya.


Neta memeluk Dathan. Membelai dada sang suami yang begitu keras. Perut six pack sang suami memang begitu menggemaskan. Jadi wajar saja jika dia betah mengerakkan tangannya di perut sang suami.


“Kamu mau punya berapa anak?” Dathan sambil membelai lembut rambut sang istri. Melemparkan pertanyaan.


“Em ... kamu mau berapa?” Dathan justru balik bertanya.

__ADS_1


“Sudah ada Cinta. Bagaimana jika tambah satu.” Neta pun memilih dua anak lebih baik. Seperti anjuran pemerintah.


“Kenapa satu?” Dathan menjauhkan sedikit tubuh sang istri. Memastikan apa yang dikatakan oleh sang istri.


“Iya, satu perempuan dan satu laki-laki.” Menurut Neta itu sudah ideal sekali. Karena itu tentu saja hal itu yang diinginkannya.


“Iya, kalau kamu hamil anak laki-laki. Jika kamu hamil anak perempuan?” Dathan menatap sang istri. Terkadang manusia hanya bisa berencana, jadi tentu saja tidak selalu langsung dapat anak perempuan.


“Iya juga.” Neta memikirkan apa yang dikatakan Dathan ada benarnya. Iya jika dia langsung dapat anak laki-laki, tidak masalah dua saja.


“Bagaimana jika perempuan lagi, kita coba lagi? Siapa tahu kita dapat laki-laki.” Dathan pun memberikan idenya.


“Iya, kalau laki-laki, kalau perempuan lagi?” Neta jadi berpikir bisa saja kemungkinan itu terjadi.


Neta mencubit Dathan lembut. Kesal karena suaminya itu justru mengatakan hal itu. Artinya jika dicoba terus. Dia akan terus-terusan hamil.


“Kita coba sampai empat kali. Kalau semua empat perempuan. Artinya kita punya lima anak perempuan. Anggap saja itu rezeki kita. Sampai empat kali, baru kita akan berhenti.” Dathan mencoba menenangkan.


Neta hanya menatap malas. Dia hanya berdoa semoga sekali dapat anaknya laki-laki. Jadi tidak perlu coba-coba lagi.


“Sudah yang penting nikmati proses buatnya dulu. Hasilnya belakangan.”


Dathan membenamkan bibirnya pada bibir sang istri. Sayangnya, Neta langsung mendorong lembut.

__ADS_1


“Aku mau berenang lagi.” Neta mengungkapkan keinginannya. Dengan segera Neta berangsur bangkit. Berniat untuk bangun dan menikmati berenang.


“Laut indah sayang jika dilewatkan.” Neta berpikir, sayang jika dilepaskan kesempatan berenang di tempat indah.


“Sudahlah, ayo kita berenang di lautan kenikmatan saja.” Dathan menarik tubuh sang istri. Membenamkan bibirnya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Tangannya sudah bergerilya ke mana-mana. Tentu saja mencari tempat favorit barunya.


“Sayang.”


Neta berusaha melepaskan diri. Namun, ternyata Dathan tak memberikan celah. Suara Neta justru terdengar seperti erangan. Neta yang lelah meminta sang suami untuk berhenti memilih untuk diam. Dia tahu jika suaminya tidak akan suka jika dia diam.


Dathan merasakan sang istri yang diam saja. Tentu saja hal itu membuatnya kecewa. “Apa pelajaran yang aku ajarkan belum diserap sempurna?” Dia menatap penuh tanya.


“Pelajaran hanya akan dilakukan di tempat tertutup.” Neta sengaja ingin menghentikan sang suami.


“Kalau begitu ayo kita cari tempat yang tertutup.”


Dathan segera berangsur bangun. Dia berdiri terbuat dari lantai kayu. Dia mengulurkan tangannya pada sang istri. Sayangnya, Neta tidak mau. Dia masih diam saja. Tak mau menerima uluran tangan, bahkan tak mau menerima ajakan Dathan. Dia hanya tersenyum saja pada sang suami.


Dathan yang melihat sang istri tidak mau bangun, segera berjongkok. Tangannya menangkup tubuh sang istri. Teriakan Neta pun terdengar. Neta begitu terkejut dengan yang dilakukan oleh sang suami.


“Mau ke mana?” tanya Neta menatap sang suami.


“Ke lautan kenikmatan.” Dathan menyeringai.

__ADS_1


Dathan segera membawa tubuh sang istri masuk ke kamar. Menurunkan tubuh sang istri di atas tempat tidur. Dengan segera Dathan menutup pintu. Tak mau ada yang mengintip apa yang dikerjakan olehnya dan sang istri.


__ADS_2