
“Aku sedang bertanya pada Pak Dathan apakah boleh kita menampilkan dia sebagai salah satu tamu dari Pak Bryan.” Neta pun akhirnya memberikan jawaban yang menurutnya masuk akal.
“Oh ... apa Pak Dathan mengizinkan?” Adriel menatap Dathan.
“Sepertinya tidak.” Dathan langsung menolak tegas.
Adriel membulatkan matanya. Dia tidak menyangka Dathan menolak. Begitu pun Neta. Dia juga terkejut ketika Dathan menolaknya.
“Aku rasa jika aku keluar di berita ulang tahun Adion, tidak akan spesial lagi aku muncul di majalah berikutnya. Jadi lebih baik jangan tulis aku datang ke sini.” Dathan memberikan idenya.
Adriel merasa apa yang dikatakan Dathan ada benarnya. “Benar juga. Jadi aku rasa, kita tidak perlu tulis.” Dia menatap Neta. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Dathan.
“Baiklah.” Neta mengangguk.
“Sebenarnya aku senang bisa mengobrol dengan Pak Dathan. Sayangnya, kami harus segera kembali bekerja.” Adriel tersenyum. Dia belum puas menyapa Dathan. Apalagi Dathan adalah pria yang pernah ditemuinya.
“Lain kali kita bisa mengobrol.” Dathan tersenyum.
“Kalau begitu kami permisi dulu.” Adriel berpamitan dan kemudian beralih pada Neta. Mereka harus melanjutkan kembali pekerjaan mereka.
Dathan harus rela sang kekasih dibawa pergi.
Neta terpaksa meninggalkan Dathan. Dia harus melanjutkan pekerjaannya. Jadi dia tidak punya pilihan.
Dathan memilih untuk mengawasi Neta dari jauh. Dia tidak mau sang kekasih terlalu dekat dengan mantannya.
Tepat saat sedang menunggu, ponsel Dathan berbunyi. Saat melihat ponselnya, dia mendapati jika ternyata itu adalah nomor Ariel. Dia yakin mantan istrinya itu menghubunginya karena anaknya.
“Halo.” Dathan menyapa Arriel di seberang sana.
__ADS_1
“Halo, Than. Kamu di mana? Kenapa ramai sekali?” Ariel di seberang sana tidak dapat mendengar suara Dathan.
“Aku sedang di pesta. Ada apa?”
“Tidak aku hanya mau mengatakan jika seharian ini Lolo begitu bahagia.” Arriel menjelaskan pada mantan suaminya itu. Seharian tadi dia dan anaknya benar-benar bersenang-senang.
“Bagus kalau begitu.” Dathan tetap saja bersikap dingin. Padahal Arriel sudah membuat anaknya bahagia.
“Aku mau mengabari jika besok kami akan pulang jam sepuluh. Aku mau dia istirahat dulu sebelum senin nanti dia akan sekolah.” Arriel menceritakan rencananya.
“Iya.” Hanya jawaban singkat yang diberikan Dathan pada Arriel.
Arriel di seberang sana merasa canggung ketika Dathan justru biasa saja menanggapinya. Padahal jika Dathan antusias, dia ingin menceritakan tentang anaknya.
“Sepertinya pestanya belum selesai. Kalau begitu aku akan menghubungimu besok saja.”
“Iya.”
Sekitar dua jam pesta berlangsung. Akhirnya satu per satu tamu undangan pulang. Neta yang akhirnya selesai mengerjakan tugasnya pun memilih untuk segera pulang.
“Ambillah tasmu. Aku akan mengantarkanmu pulang.” Adriel menatap Neta.
Seketika Neta membulatkan matanya. Ada Dathan jadi tentu dia tidak bisa pulang dengan Adriel.
“Aku pulang dijemput.” Neta memilih menolak tawaran Adriel. Dari pada dirinya harus kucing-kucingan dengan Adriel.
“Oh ... dijemput.” Adriel tahu dijemput oleh siapa gerangan Neta. “Baiklah kalau begitu.” Dia pun tidak mempermasalahkan akan hal itu.
“Baiklah, aku permisi dulu.” Neta segera berlalu meninggalkan Adriel yang masih di lobi. Dia harus segera mengambil pakaiannya yang masih ada di kamar hotel.
__ADS_1
Neta yang berjalan melihat ke belakang. Memastikan jika Adriel pergi untuk mengambil mobilnya, tetapi sayangnya tidak. Adriel masih berdiri menatap Neta yang berjalan.
Saat Neta sampai di depan lift. Matanya masih melihat ke arah Adriel masih di lobi dan masih melihatnya. Neta yang melihat hal itu pun tersenyum.
Tepat saat lift terbuka, Neta dibuat kembali terkejut. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang. Apalagi Adriel masih melihatnya dari kejauhan.
Neta masuk ke lift dengan tenang. Dia tidak mau membuat Adriel curiga. Saat masuk dan lift tertutup. Dia langsung memukul Dathan. Pria itulah yang membuatnya terkejut. Karena tiba-tiba sudah di dalam lift.
“Kenapa dipukul, Sayang?” protes Dathan.
“Kamu benar-benar mengagetkan aku. Bagaimana bisa kamu di dalam lift seperti ini?” Neta benar-benar kesal sekali karena tidak menyangka ada Dathan di dalam lift.
“Aku memang menunggumu dari tadi. Ikut naik lift ke atas, kembali lagi ke bawah.” Dathan tertawa melihat aksinya sendiri.
“Astaga, bagaimana bisa kamu kurang kerjaan naik turun lift?” Neta tertawa membayangkan.
“Aku menunggumu. Bagaimana bisa dibilang kurang kerjaan?” Dathan mencubit pipi Neta.
Neta hanya tertawa. “Kenapa tidak tunggu di kamar saja?”
“Malas.” Dathan bosan si kamar. Jika dibilang tidak punya kerjaan naik turun lift, mungkin memang benar adanya. Namun, dia tidak mau dibilang seperti itu.
Neta hanya tersenyum saja.
Lift yang terbuka membuat mereka keluar. Mengayunkan langkah ke kamar hotel. Di kamar Neta dan Dathan merapikan barang-barang mereka.
“Aku masih marah karena kamu membohongi aku.” Neta yang memasukkan barang-barangnya melempar tatapan tajam.
Dathan hanya tersenyum. Dia kemudian mendekat ke arah Neta. “Kamu mau menghukumku, aku pasti bersedia.” Dia menyeringai. Tak sabar menerima konsekuensi dari dirinya yang membohongi Neta.
__ADS_1