
“Siapa pun itu, jelas ini harus dicari tahu. Karena kamu dan Dathan harus tahu siapa yang melakukan ini semua. Mengingat pernikahan kalian tertutup.”
Ucapan Adriel ada benarnya. Dia harus mencari tahu semua ini. Entahlah, Neta merasa tidak bisa menebak-nebak siapa pelakunya. Karena dia merasa semua orang tentu sudah diminta untuk merahasiakan ini. Walaupun, ini bukan berita buruk, tetapi tetap saja ada kekecewaan yang dirasakan Neta pada orang yang menyebarkan ini. Karena pasti dia berniat sesuatu.
“Satu lagi narasi yang tertera di dalamnya.” Adriel kembali berbicara.
“Apa?” Neta memang belum membaca sepenuhnya. Jadi dia tidak tahu apa yang ditulis.
“Narasi yang ditulis mengarah ke seberapa profesionalnya kamu dalam bekerja. Aku yakin atasan akan dengar ini dan akan jadi pembahasan penting. Cepat atau lambat mereka akan memanggilku untuk menanyakan kebenarannya. Aku pun berharap kamu siap untuk hal itu.” Adriel memberitahu hal penting apa lagi yang harus dilakukan Neta.
Neta mengembuskan napasnya. Merasa jika memang ini adalah poin pentingnya. Karena dirinya tidak profesional dalam bekerja. Mau dibilang bagaimana juga, kisah cinta mereka berlangsung selama proses wawancara. Jadi jika atasan ikut memanggilnya, tentu harus siap.
“Aku akan siap menghadapinya. Aku akan meminta maaf atas apa yang terjadi.” Neta merasa memang dirinyalah yang salah. Jadi tentu saja itu yang harus dilakukan. Terlepas siapa yang menyebarkan pernikahannya ke publik.
“Baiklah.” Adriel berharap jika nanti dia akan dapat membantu Neta menghadapi jika atasannya memanggil.
Neta berpamitan untuk keluar dari ruangan Adriel. Dia merasa jika pembicaraan dengan Adriel sudah selesai. Setelah ini, dia harus segera menghubungi Dathan. Untuk membicarakan hal itu. Namun, baru saja keluar dari ruangan Adriel, semua teman-temannya sudah melihat Neta dengan tatapan aneh.
“Sihir apa yang kamu pakai, Ta?” Seorang teman yang sering mencibir teman-temannya kini mencibir Neta.
“Pantas saja dia tidak mau mengenalkan pada kita. Ternyata dimiliki sendiri.” Timpal seorang teman lagi.
__ADS_1
Neta tidak mau menanggapi akan hal itu. Akhirnya benar dugaannya jika teman-temannya menatapnya aneh karena melihat majalah ini.
“Diamlah kalian. Urus saja urusan kalian.” Maria yang melihat temannya seperti itu pun memilih untuk membela. Tak mau sampai temannya jadi bullyan teman-temannya.
Maria langsung berdiri. Dia mengajak Neta untuk ke pantry. Menjauh dari teman-temannya yang sedang berusaha untuk memperlakukannya seperti itu. Neta pun ikut saja ke mana temannya membawanya. Dia memang butuh tempat untuk menenangkan diri.
“Sebenarnya bagaimana bisa terjadi, Ta?” Maria yang sampai di pantry langsung melemparkan pertanyaan itu. Tadi saat Neta masuk ke ruangan Adriel, temannya mencibir Neta. Hal itu membuat Maria meradang, hingga akhirnya temannya memberikan majalah berisi artikel tentang pernikahan Neta dan Dathan. Dari situ akhirnya Maria tahu kenapa teman-temannya melakukan hal itu. Ditambah lagi Adriel memanggil Neta. Ini jelas jika bukan masalah sepele lagi.
“Aku juga tidak tahu, bagaimana semua ini bisa terjadi. Yang jelas ada orang yang sengaja menyebar kabar pernikahanku dan Dathan, dan menambahkan jika aku tidak profesional.” Neta benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia bingung memikirkan siapa gerangan yang melakukan hal ini.
“Jadi ada yang menyebarkannya? Lalu siapa?” Maria menatap Neta.
“Entahlah.” Neta menggeleng. Neta menatap Maria. Untuk saat ini rasanya Neta sulit percaya dengan siapa pun. Apalagi sudah sampai tersebar seperti ini.
“Kamu tidak melakukannya bukan?” Neta tidak yakin dengan pertanyaannya. Jadi tentu saja itu membuatnya akhirnya memutuskan bertanya.
“Apa kamu pikir aku sudah segila itu melakukan hal itu?” Maria benar-benar tidak habis pikir dengan temannya itu. “Untuk apa juga aku melakukannya?”
Neta tersenyum polos. Dia juga tidak yakin jika temannya itu akan melakukan hal gila itu padanya. Mereka sudah kenal sejak kecil. Sudah mengetahui isi hati masing-masing. Maria sudah menganggapnya adik. Tidak mungkin juga Maria melakukannya. “Maaf.” Neta sebenarnya hanya bingung. Jadi membuatnya tidak percaya teman sendiri.
Tepat saat itu, ponsel Neta kembali bergetar. Neta yang sedang fokus bicara merasakan getaran ponselnya. Dia yakin sekali jika itu adalah suaminya yang kembali menghubunginya. Dengan segera Neta mengangkat sambungan telepon.
__ADS_1
“Sayang.” Dathan di seberang sana langsung memanggil sang istri.
“Iya, ada apa kamu menghubungi aku. Dari tadi aku sibuk.” Neta sadar jika dirinya benar-benar sibuk tadi. Jadi wajar saja tidak bisa mengangkat sambungan telepon sang suami.
“Ada majalah yang terbit dengan artikel kita.” Di seberang sana Dathan memberitahu sang istri.
“Kamu sudah tahu?” Neta tidak menyangka jika sang suami sudah mengetahuinya. Tentu saja itu membuatnya begitu terkejut sekali.
“Iya, aku dapat majalah dari Reno tadi. Kamu juga sudah lihat?” Dathan memastikan kembali.
“Lalu siapa yang melakukannya? Apa salah satu tamu undangan kita?” Neta merasa jika pasti salah satu tamu yang datang ke pernikahan mereka. Karena tidak mungkin jika tidak.
“Itu pasti. Karena itu aku akan mencari tahu. Aku akan meminta Reno untuk mengkonfirmasi tamu yang datang. Apakah mereka menyebarkan semua ini atau tidak. Dan tolong juga tanya teman-temanmu. Apakah mereka juga menyebarkan atau tidak?” Dathan masih belum bisa menuduh teman-teman Neta secara langsung, tetapi alangkah baiknya itu juga dipastikan.
Neta menatap Maria. Tadi dia sudah memastikan temannya itu, dan dia mengatakan tidak. Namun, mungkin dia harus menanyakan kepada yang lain juga. “Aku akan tanya pada teman-temanku.”
Maria sadar jika pasti dia juga akan dicurigai oleh suami temannya, dan itu adalah hal wajar.
“Baiklah. Aku akan hubungi kamu nanti di jam makan siang.”
“Baik.” Neta segera mematikan sambungan telepon tersebut. Dia sebenarnya tidak enak menanyakan akan hal itu. Tentu saja ini bisa merusak pertemanannya.
__ADS_1
“Aku akan tanyakan pada Martin.” Maria tidak akan tinggal diam. Dia juga akan membantu Neta.
“Terima kasih.” Neta senang karena akhirnya temannya mau membantu.