Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Datang Pagi-Pagi


__ADS_3

Dathan yang melepas anaknya pergi dengan mamanya segera bersiap. Rencananya dia akan ikut dengan Neta ke hotel di mana diadakan acara ulang tahun Adion Company. Dia harus menjemput Neta terlebih dahulu sebelum ke sana.


Dathan sengaja berangkat lebih awal. Padahal Neta sudah bilang jika nanti dia akan berangkat jam sepuluh. Namun, jam tujuh Dathan sudah bersiap dan berangkat ke kos Neta.


Saat sampai di kos Neta, dia segera menuju ke kamar Neta. Mengetuk pintu kamar milik kekasihnya itu. Cukup lama Dathan mengetuk pintu, hingga akhirnya Neta membuka pintu kamarnya. Tampak Neta masih dengan muka bantalnya. Terlihat baru bangun tidur.


“Sayang.” Neta terkejut ketika melihat Dathan datang. Dia tidak menyangka Dathan akan datang pagi-pagi seperti ini. Padahal kemarin dia sudah bilang jika dia akan pergi jam sepuluh. Artinya Dathan bisa datang setengah jam sebelumnya, sedangkan sekarang masih jam setengah delapan. Masih selisih dua jam.


“Hai.” Dathan tersenyum manis.


“Kenapa ke sini jam segini?” Neta melemparkan pertanyaan itu pada Dathan.


“Tadi Cinta berangkat pagi. Jadi aku pikir aku akan bosan di rumah menunggumu. Jadi aku putuskan menunggumu di sini saja.” Tanpa permisi Dathan masuk ke kamar Neta.


Neta hanya bisa terperangah melihat kekasihnya itu. Dathan sudah seperti pemilik kamar saja. Main masuk tanpa permisi. Neta segera menutup pintu kamarnya. Kemudian menyusul Dathan.


“Aku bawakan sarapan untukmu.” Dathan meletakkan makanan di atas meja. Tadi asisten rumah tangga memasak lebih karena dipikir Arriel akan sarapan bersama. Namun, ternyata Arriel langsung berangkat ke puncak.


Neta kemudian duduk bersama dengan Dathan yang lebih dulu duduk di sofa. Tangannya segera bergerak membuka apa yang Dathan bawa.


“Cinta sudah berangkat?” Neta memastikan.


“Sudah, pagi-pagi mamanya menjemput.”

__ADS_1


“Aku harap dia akan nyaman dengan mamanya. Sebenarnya aku sedikit khawatir. Dia tidak pernah lama jauh darimu.” Neta sudah banyak mendengar cerita dari Dathan. Jadi dia tahu tahu jika Dathan tidak pernah jauh.


“Aku sendiri juga khawatir.” Dathan merasakan hal yang sama. Namun, dia harus melakukannya karena memang Loveta harus bersama dengan mamanya. Dekat dengan mamanya.


“Kamu bersiap saja. Jika sampai Cinta minta pulang. Pastikan dia pulang. Karena jika dipaksa, itu akan jadi trauma.”


Dathan mengangguk. Dia berpikir hal yang sama. Dia akan stand by, kalau-kalau Arriel menghubunginya.


“Cepat makan.” Dathan meliat Neta dan juga makanan yang berada di atas meja.


Neta langsung memakan makanan yang dibawa Dathan. Kapan lagi dapat sarapan pagi-pagi. Biasanya dia hanya makan outmeal atau sekadar minum susu. Dia selalu bangun kesiangan. Jadi lebih sering tidak sarapan.


Dathan yang melihat Neta sedang makan memilih untuk membuat minuman sendiri. Dia berdiri dan menuju ke dapur kecil milik Neta.


“Ada di lemari atas.” Neta memberitahu Dathan. “Tapi cek dulu tanggal kadaluwarsa. Karena itu sudah lama.” Neta tersenyum memamerkan deretan giginya.


Dathan membuka lemari atas. Dia menemukan kopi saset merk salah satu brand terkenal. Sesuai dengan yang katakan Neta, Dathan mengecek tanggal kadaluwarsa. Beruntung masih bisa tertulis tiga bulan lagi. Jadi, paling tidak dia masih bisa meminumnya.


Dathan membawa secangkir kopi ke meja di mana Neta duduk. “Kamu simpan sejak kapan kopi ini?” Sambil menyesap kopi yang dibuatnya, Dathan melemparkan pertanyaan.


“Sejak setahun yang lalu.”


Seketika Dathan tersedak ketika mendengar jika kopi selama itu disimpan. Neta yang melihat itu seketika langsung memberikan tisu pada Neta.

__ADS_1


“Pelan-pelan, sampai tersedak seperti itu.” Neta merasa heran kenapa Dathan sampai tersedak seperti itu.


“Bagaimana aku tidak tersedak. Kamu menyimpan kopi selama itu?” Beruntung kopi belum mengumpal dan masih kurang tiga bulan kadaluwarsa.


“Yang sering minum kopi di sini Kak Adriel, dan sejak aku putus tidak ada yang membuat kopi di sini.” Neta dengan polosnya menjawab.


“Adriel sering ke sini?” tanya Dathan.


“Iya, dia sering ke sini.” Neta menjawab sambil mengunyah makanannya.


“Di kamar ini?” Dathan kembali memastikan.


“I—“ Baru Neta hendak menjawab. Ternyata dia menyadari ucapannya. Dia segera melihat ke arah Dathan. Dia melihat wajah Dathan yang serius sekali melihatnya. “Setiap dia ke sini selalu ada Maria. Jadi tidak berdua.” Dia mencoba menjelaskan.


Dathan bernapas lega. Paling tidak itu yang diharapkannya. Dia tidak rela sang kekasih ada di kamar bersama dengan pria. Walaupun jauh sebelum dirinya hadir.


Neta yang menyelesaikan makannya segera merapikannya. Mencuci tempat makan yang dipakainya makan.


Dathan yang melihat Neta sibuk, memilih untuk diam dan menunggu. Menikmati secangkir kopi yang dibuatnya. Sambil melihat pemandangan yang berada di halik jendela.


Karena waktu menunjukkan jam setengah sembilan, Neta segera berlalu ke kamar mandi. Dia tidak mau sampai nanti terlambat.


Dathan yang menunggu melihat-lihat kamar Neta. Tepat saat langkahnya diayunkan melihat setiap sudut kamar Neta, suara ponsel Neta berbunyi. Dathan yang melihat ponsel itu melihat sebuah pesan masuk dari Adriel.

__ADS_1


__ADS_2