
Neta benar-benar berdebar-debar dengan yang dilakukan Dathan padanya. Sebenarnya dia tidak keberatan saat Dathan meletakkan kepalanya di lututnya, tetapi jantungnya tak terkendali di saat-saat seperti ini.
“Papa, kenapa ikut-ikut Lolo.” Loveta mendorong tubuh sang papa.
“Karena Papa sayang, Cinta.” Dathan memeluk erat tubuh Loveta. Mendaratkan kecupan di pipi anaknya itu.
Loveta hanya tertawa saja ketika sang papa memeluknya.
Neta yang kakinya buat sandaran kepala mereka hanya bisa pasrah. Senyumnya terbit kala melihat anak dan ayah sedang bercanda. Justru membuat jantungnya jauh lebih tenang. Debaran yang tadi berdetak lebih kencang seketika kembali normal. Tangan Neta pun langsung membelai lembut rambut Loveta. Merasa senang dengan tawa gadis kecil itu.
Apa yang dilakukan Loveta justru menaik perhatian Dathan, pria itu mengalihkan pandangannya pada gadis cantik nan memesona di depannya. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya ketika melihat Neta. Baru saja di lutut Neta, tetapi jantungnya sudah dibuat berdebar-debar. Setelah sekian lama, akhirnya Dathan merasakan indahnya jatuh cinta. Jantung berdebar, perasaan rindu, dan juga perasaan senang ketika bertemu menghiasi hari-harinya belakangan ini.
“Lolo mau gantian peluk Aunty.” Loveta berbalik. Dia menggeser tubuhnya untuk memeluk Loveta. Dia begitu gemas dengan Neta.
Melihat anaknya justru mendekatkan tubuh pada Neta, membuat Dathan kembali mengambil kesempatan itu. “Kalau begitu Papa peluk Loveta saja.” Dia menggeser tubuhnya. Memeluk anaknya yang sedang memeluk Neta.
Neta dibuat terperangah ketika Dathan bergeser ke pahanya. Jantungnya yang tadi sudah kembali normal kembali berdetak kencang. Sungguh membuat Neta salah tingkah.
Dathan sedari tadi tak melepaskan pandangannya. Tentu saja hal itu membuat dia melihat perubahan wajah Neta. Sungguh menggemaskan sekali wajah terkejut Neta. Bukan Dathan namanya jika tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tangannya yang berada di belakang punggung Loveta meraih tangan Neta. Menggenggamnya erat.
Neta langsung melihat ke arah Dathan. Di saat anaknya memeluknya, justru ayahnya mencuri kesempatan untuk memegang dirinya. Namun, entah kenapa Neta merasa tidak keberatan sama sekali.
Neta terus membelai lembut rambut Loveta. Hingga, akhirnya gadis kecil itu terlelap. Neta yang melihat itu pun memberitahu Dathan. Dengan gerakan mulut dengan lafal ‘dia tidur’. Dathan yang melihat hal itu pun segera bangun. Dia melihat anaknya yang sedang terlelap tidur.
“Aku akan membawanya ke dalam.” Dathan mengatakan dengan suara lirih. Tak mau sampai membangunkan anaknya.
Neta mengangguk.
__ADS_1
Dathan segera menangkup tubuh sang anak. Membawanya ke dalam kamar. Neta mengekor di belakang Dathan. Dia ingin membantu Dathan yang menidurkan anaknya. Dathan segera menurunkan tubuh Loveta di atas tempat tidur. Dia menurunkan dengan perlahan-lahan. Memastikan jika anaknya tidak akan bangun.
Neta yang melihat Loveta sudah di tempat tidur segera menarik selimut. Menyelimuti tubuh mungil itu agar tidak kedinginan.
Dathan dan Neta memandangi Loveta yang kini sudah terlelap. Pulang sekolah dan langsung melakukan penerbangan pasti membuat gadis kecil itu kelelahan. Jadi wajar saja jika dia sampai tertidur pulas.
Dathan menatap Neta. Memberikan kode untuk keluar. Neta yang mengerti kode itu segera berlalu keluar bersama dengan Dathan.
Mereka berdua menuju ke gazebo. Duduk di sana untuk menikmati malam yang indah. Semilir angin yang menerpa membuat Neta memeluk dirinya sendiri. Semakin malam udara semakin dingin.
“Mau aku ambilkan selimut?” tanya Dathan menawarkan pada Neta.
“Tidak perlu.” Neta menggelang.
Dathan mengangguk mengerti. Tak memaksakan jika memang Neta tidak mau. “Apa kamu senang berlibur ke sini?” Dia menarik tangan Neta dan mengenggamnya.
“Senang.” Neta tersenyum.
“Aku punya berapa pertanyaan?” Dathan menatap Neta. Kali ini dia tidak akan melepaskan kesempatan untuk bertanya pada gadis di depannya itu.
“Emm ….” Neta tampak mengingat pertanyaan yang diberikannya kala itu. “Sekitar lima belas.” Dia memperkirakan pertanyaan yang diberikan padanya.
Dathan mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ternyata dia punya stok pertanyaan untuk Neta. “Baiklah, kita mulai pertanyaan pertama.” Dia tak mau kehilangan kesempatan.
Neta langsung tertawa. “Apa ini semacam kuis?” Saat mendengar Dathan memulai pertanyaannya membuat Neta benar-benar berasa berada di sebuah acara kuis.
“Ini wawancara calon istri.” Dathan menatap Neta dengan lekat.
__ADS_1
Pipi Neta seketika merona. Menjalin hubungan dengan pria yang sudah berumur seperti Dathan, pasti akan mengarah ke pernikahan.
“Apa kamu punya kekasih sebelumnya?” Dathan belum tahu banyak tentang Neta, tentu saja kini dia ingin mengenal baik.
“Pernah.” Neta jujur apa adanya.
“Siapa?” Rasa penarasannya membuat Dathan terus menggali.
“Dia temanku di panti asuhan. Umurnya dua tahun lebih tua dariku. Sejak kecil aku menyukainya. Saat aku bekerja bersamanya aku mengatakan jika aku mencintanya.” Neta mengingat bagaimana pertama kali Neta mengatakan cinta pada Adriel.
“Kamu yang mengatakan cinta?” Dathan benar-benar tidak percaya.
“Iya.” Neta mengangguk.
“Saat itu dia ragu, karena sejauh ini dia menganggap aku sebagai adik. Tapi, akhirnya dia menerima saat aku meyakinkan untuk mencobanya lebih dulu. Sayanganya, berjalan enam bulan, dia merasa tidak nyaman dengan hubungan ini. Karena dia merasa justru tidak perhatian saat menjadi kekasihku. Cenderung takut menyakiti aku membuatnya membatasi interaksi denganmu.” Neta menceritakan pengalamannya.
“Lalu, bagaimana kalian putus?” Dathan kembali bertanya kembali.
“Dia dipindahkan ke luar kota, dan dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Dia berpikir, saat nanti dia fokus pada pekerjaannya dia akan sulit memberikan perhatian padaku. Mungkin dia pikir, saat dekat saja dia tidak bisa sepenuhnya perhatian, apalagi jauh. Dia tidak mau menyiksaku dengan perasaan kecewa.” Dari awal dia memang tahu yang dimaksud oleh Adriel. Karena itu hubungan mereka masih tetap bisa terjalin.
“Dan kamu tidak kecewa?” Dathan memastikan kembali.
Neta tersenyum. “Tentu saja tetap kecewa. Namun, itu tidak berlangsung lama.” Karena Neta tahu apa yang dipikirkan Adriel, memang tidak membuatnya berlarut-larut.
“Apa kamu masih punya rasa padanya?” Dathan kembali memastikan.
Untuk sesaat Neta terdiam. “Jika itu rasa cinta, aku tidak ada. Tapi, jika rasa sayang aku, aku masih ada. Sebagai orang yang mengenalnya sejak kecil. Aku menyayanginya.” Neta jujur dengan perasaannya. Tidak mau membohongi Dathan. Dia merasa Adriel adalah bagian hidupnya. Dia adalah orang yang mendukungnya ketika dia merasa sedih di panti. Dia yang selalu memberikan semangat ketika dia lelah menjalani semuanya.
__ADS_1
Dathan mencoba memahami Neta. Mungkin ini semacam hubungannya dengan Reno dan Rifa. Dia menyayangi kedua temannya itu. Hanya saja, dia tidak pernah menjalin hubungan dengan mereka.
“Apa itu pria yang mengantarkan mu ke kantor waktu itu?” Dathan mencoba mengingat jika Neta pernah diantar oleh seorang pria.